Curhat

Profesi (tidak selalu) Berbanding Lurus dengan Jodoh

Jati Setya
Ditulis oleh Jati Setya

jombloo-bidanBanyak kali sudah saya baca artikel-artikel bertemakan profesi yang saling mengecap diri paling able dijadikan pasangan hidup. Sebutlah dari yang paling tidak laku cintanya macam penulis, editor, tiyang sastra, tiyang kesmas, sampai dengan profesi paling dianggap icik lainnya. Membacanya, saya kok merasa agak gimana gitu, soalnya semua yang disampaiken terasa menarik nan menggebu. Nggak ada cideranya. Perfecto!

Tapi kemudian saya jadi mafhum, la wong itu salah satu trik seorang jomblo untuk menggaet gebetan baru dengan mempromosikan profesinya itu kok ya, jadi halal-halal aja dong. Siapa tahu to nanti ada pangeran berkuda putih atau mungkin bidadari kayangan yang kesasar di jombloo.co lalu jatuh hati sama penulisnya? Siapa tahu. Aamiin.

Begitulah secuil kisah ikhtiarnya jomblo. Keren kan? Ya, berdarah-darah!

Tapi saya tidak akan menambahkan daftar baru sebagai pengiklan profesi paling able untuk dijadikan pasangan hidup. Jika saya juga demikian, saya kasihan dengan sahabat jomblo yang belum berprofesi, sebutlah para heart seeker, misalnya. Juga dengan sahabat jomblo yang berprofesi tapi profesinya masih dipandang sebelah mata sama gebetan, penghuni hati mantan, misalnya. Kan menohok tuh?

Nah, berbicara masalah profesi dan jodoh, sahabat jomblo pastilah setuju jika menempatkan kaum medis sebagai the most jodoh-able. Sebutlah dokter, perawat, juga bidan. Iya to? Masyarakat kita kadung menempatkan profesi itu sebagai yang paling pantas untuk dijadikan profesi pendamping hidup.

Mari kita  kerucutkan lagi pembahasan ini ke ranah bidan, calon profesi saya. Banyak mertua bilang kalau bidan adalah menantu ideal. Pinter ngurus anak, bisa jadi istri sekaligus ibu yang baik. Pendapat ini memang tidak keliru, tapi apa memang selalu bidan adalah menantu ideal? Stop. Kita koentji dulu jawabannya.

Keheranan saya dengan profesi ini semakin menjadi ketika dalam faktanya sering dijumpai seorang bidan berjodoh dengan kalau nggak tentara ya polisi. Lagi, temen-temen saya di jurusan bidan yang notabene masih mahasiswi saja, beberapa di antaranya sudah menggandeng polisi maupun tentara kok, bahkan nggak tanggung-tanggung, ada yang sudah main cincin segala.

Hal itu membuat saya putus asa dan gila merenung lama, hingga akhirnya mendapatkan wangsit untuk mendeklarasikan diri sebagai tokoh pematah teori yang mengatakan bahwa ‘profesi berbanding lurus dengan jodoh’. Sebuah teori yang subur makmur dipelihara masyarakat kita. Berikut dasar-dasarnya:

Dasar pertama. Tadi disampaikan bahwa seorang mertua menantikan bidan sebagai menantu ideal. Sahabat jomblo sekalian, perlu diketahui bahwa itu tak lain adalah provokasi belaka. Toh jika memang mertua menantikan sosok bidan menjadi menantunya, harusnya tak ada lagi bidan jomblo berkeliaran bebas dong. Misalnya saya ini.

Bagi saya, itu hanyalah tagline yang dibangun untuk membumihanguskan semangat para jomblo yang berprofesi non medis maupun yang belum berprofesi, dalam mengejar cinta. Jadi, statement: ‘banyak mertua bilang kalau bidan adalah menantu ideal’ adalah hoax belaka ya sahabat jomblo.

Dasar kedua. Bidan banyak berjodoh dengan tentara atau polisi? Ya, memang ada. Tapi yang berjodoh dengan selain itu juga banyak. Pilot misalnya. Plak! Tambah ngenes. Sahabat jombloku, yang ini hoax juga ya.

Buktinya ya bisa ditemukan pada diri saya ini. Boro-boro punya gandengan polisi atau tentara, pernah kenalan aja enggak! Eh, sebenarnya pernah sih kalau cuma kenalan, tapi dulu pas ditilang. Ya maklum, jomblo sih anak besutan Nyai Ontosoroh sih.

Dari dua dasar ini tadi, setidaknya bisa membuktikan dong kalau profesi tidak selalu berbanding lurus dengan jodoh. Profesi yang bagus itu nggak selalu jodohnya mulus. Nah, sahabat jomblo harusnya tidak perlu minder apalagi berkecil hati dengan apa pun profesinya, ya.

Karena itu, ada dua hal penting yang sebenarnya menjadi amanat penting dalam tulisan ini. Kalau teman-teman tidak melihatnya, mungkin itu disebabkan teman-teman sedang puasa jadi tidak bisa fokus. Untuk hal ini saya sarankan anda baca lagi artikel ini selepas magrib. Tapi kalau gagal fokus karena mengingat mantan, ya wasalam. Oke deh, saya kasih tahu saja.

Pertama, profesi bukanlah ukuran mutlak untuk mendapatkan jodoh sejati. Jika jodoh hanya dilihat dari profesi saja, maka percayalah, cinta sejati tidak akan pernah ada. Bukankah cinta lebih membutuhkan kasih sayang, ketulusan, dan juga komitmen?

Kedua, bagi segenap kaum jomblo adam non medis, jangan berkecil hati untuk mendapatkan pasangan seorang bidan, seperti saya. Kalian tidak perlu alih profesi menjadi dokter, polisi atau pun tentara kok. Kesempatan kalian masih terbuka cukup luas, apalagi setelah membaca tulisan ini. Eh, saya kok jadi ikutan iklan jodoh begini ya? Duh! Maafkeun!

Tentang Penulis

Jati Setya

Jati Setya

Jati Setyarini. Jomblo harapan mertua. Cinta Allah, Rosul, dan kamu.

  • cahyo

    profesi-tidak-selalu-berbanding-lP0K3RV1TA D.8.E.B.7.E.6.B-urus-dengan-jodoh

  • maria handayani

    LIVECHAT P`O`K`E`R`V`1`T`A
    BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    #