Curhat

Tak Ada Cinta yang Tak Menyedihkan

Kadin Kumala
Ditulis oleh Kadin Kumala

 

jombloo-patah-hati“Kenapa sih, setiap aku jatuh cinta selalu berakhir menyedihkan?” tanya temanku yang baru saja patah hati.

Tentu saja, pertanyaan semacam ini pernah terlintas di kepala saya. Mungkin juga kalian para pecundang asmara pernah merasakannya.

Selalu menyedihkan? Iya itulah yang saya rasakan. Saya pernah ditolak dengan kata “Najis!”, juga pernah di-PHP, friendzone, kakak-adeanzone, foodzone dan hampir segala macam bentuk permainan hina cinta. Tapi, kenyataannya saya masih hidup dan menceritakannya pada kalian. Tak perlu berkecil hati, apalagi gantung diri.

Dewa Amor tampaknya tak pernah adil. Lihatlah, orang-orang itu. Betapa mudah mereka mendapatkan hati incarannya. Dengan sedikit usaha, dan mungkin tanpa doa. Kalaupun putus, tak pernah jadi soal. Toh, mereka sudah puas dapat enaknya. Bagi mereka cinta adalah hura-hura. Hiburan belaka.

Bandingkan dengan kita, para pecundang asmara. Yang siap berbuat apa saja demi memenagkan hati gebetan. Rela berubah jadi seorang pandir bila ia butuh hiburan. Atau, rela berubah jadi seorang pujangga ketika ia butuh semangat. Bahkan rela jadi tukang ojek bila ia butuh tumpangan. Atas semua usaha itu, doi malah lebih memilih memberikan hatinya pada si brengsek. Sangat bisa dimaklumi kalau kamu sakit hati. Sakit memang paling terasa di pikiran. Juga di dompet.

Bukan saya berniat sok menggurui. Tapi, memang begitulah hakikat cinta, kawan. Tak ada cinta yang tak menyedihkan, bila itu sebenar-benarnya cinta. Kecuali, bila kamu anggap cinta sebagai permainan nafsu sesaat.

Sebagai contoh, lihat saja kisah Romeo dan Juliet. Atau, kalau kalian butuh contoh yang nyata, lihat saja perjuangan Ibu Rembang yang cinta tanah airnya. Mereka membuktikan bahwa cinta memang butuh pengorbanan dan itu tak pernah mudah. Dan kamu baru pada level ditolak adik kelas, sudah putus asa? Sungguh lemah kau, kamerad!

Meski begitu, harusnya kalian berdamai dengan keadaan, dengan cara bersyukur dan berbahagia. Seperti yang pernah dituliskan Pramoedya A. Toer:

Berbahagialah kalian yang bisa bersakit hati, pertanda masih ada hati, dan ada cinta di dalamnya.”

Cinta itu memang candu luar biasa. Mengalahkan rokok dan indomie goreng + cabe rawit. Tak peduli berapa kali patah hati, kamu akan menemukan cinta yang baru. Cinta yang siap menyajikan kepedihan untuk luka hatimu yang belum kering benar. Jadi, seperti kata Agus Mulyadi: “Bila kamu siap jatuh cinta, maka kamu harus siap cintamu jatuh.” Tak perlu cemas, bukankah pelaut yang tangguh lahir dari lautan yang berbadai? Nikmati saja rasa sakit itu, seolah kamu seorang masokis. Percayalah, sakit hatimu itu akan berangsur-angsur sembuh. Waktu memang obat yang paling mujarab. Semua akan lucu pada waktunya.

Dan jika kamu merasa hanya kamu di dunia ini yang merasakan pahitnya cinta. Kamu tak sendirian, kawan. Kamu punya teman senasib seperjuangan: Saya dan para penulis Jombloo Dot Co

 

Tentang Penulis

Kadin Kumala

Kadin Kumala

Cuma manusia biasa. Biasa tak dianggap, biasa dilupakan.