Tips

Tips Susah Menjadi Lelaki Jantan

Reza Nufa
Ditulis oleh Reza Nufa

jombloo-soekarnoAnggaplah “lelaki” itu kategori kelamin dan “jantan” adalah gender; kombinasi antara keduanya (baca: lelaki jantan) sudah jarang kita temukan di dunia yang kian baur-gender ini. Tanpa sama sekali bermaksud bercanda, keberadaan alpha male sudah amat langka, dan gara-gara itu pula kita semakin kesulitan mencari manusia sekeren Bung Karno, William Wallace, atau Tao Ming Tse (personel F4 yang tampan itu). Sebagian besar lelaki jomblo yang diharapkan bersikap progresif, militan, dan jadi mercusuar di mata perempuan, justru hanyalah lelaki-lelaki cemen yang melulu gagal mendapat pacar..

Terlepas dari pertimbangan moral bahwa segala jenis gender berhak hidup dan mengekspresikan diri, sebagai mamalia yang hidup dalam ekosistem bumi, kita butuh pejantan dominan sebagai pemimpin gerombolan. Gaya hidup perkotaan, HAM, demokrasi, dan kesetaraan gender, pada titik tertentu justru membuat kita semakin individualistis, teralienasi dari spesies kita sendiri. Mengacu pada fakta tersebut, sebetulnya kita ini lebih liar dari hewan mana pun.

Keliaran kita yang keterlaluan itu terjadi karena kita kehilangan sosok pejantan yang dominan. Kita tidak punya pemersatu. Dan sesungguhnya, sudah sejak lama saya punya solusi, atau sebutlah saran, untuk para lelaki yang mau mencoba jadi alpha male dan menjadi solusi bagi peradaban yang bobrok ini, terutama jika lelaki itu jomblo atau tidak sedang pedekate pada perempuan atau lelaki mana pun. (Saya sama sekali tidak bisa menyarankan standar kebenaran atau moral apa pun pada yang sedang jatuh cinta. Universe mereka sedang berbeda.)

  1. Perbanyak diam

Segala sesuatu yang berjumlah banyak pasti bernilai sedikit. Emas tidak lebih berguna dari garam, tapi ia langka, dan kelangkaan hanya butuh sedikit dipoles agar terpandang berharga. Begitu pula omongan. Lelaki yang ingin tampil jantan harus pelit omongan. Utamakan bicara lewat mata atau cukup berdeham pendek saja. Terutama kalau sedang berhadapan dengan makhluk yang cantik. Lidah adalah alat terakhir ketika harus membuat seorang perempuan percaya pada kapabilitas dirinya. Dan mengacu pada hukum kelangkaan tadi, sekalinya seorang lelaki jantan bicara, kata-katanya serupa sabda.

  1. Membrontak pada sesuatu

Syarat utama untuk memiliki pengikut adalah menciptakan musuh. Ciptakanlah sebuah pandangan hidup yang berhasrat melawan sesuatu, entah yang berbentuk makhluk, ide, atau yang ghaib semisal tuhan. Dengan melakukan perlawanan semacam itu seorang lelaki menjadi magnet bagi orang-orang yang pro, maupun yang kontra, dan efek samping yang paling indahnya: mampu menarik per-hati-an perempuan. Lantas terciptalah sebuah kawanan, atau setidaknya sebuah keluarga, yang mana lelaki tersebut menjadi pioneernya.

Tapi patut pula dicatat bahwa perlawanan tersebut harus punya landasan yang masuk akal. Jangan menciptakan sebuah heroisme yang justru hanya jadi bahan tertawaan.

  1. Jangan mau (selamanya) jadi yang kedua

Melanjutkan poin kedua tadi, seorang pejantan unggul tidak boleh mengikuti kerumunan yang di sana ia tidak menjadi yang dominan. Kondisi tersebut hanya boleh terjadi jika ia masih bocah atau remaja. Menginjak dewasa, dia harus punya ambisi untuk memiliki pengikut, entah dengan menggantikan pemimpin sebelumnya atau menciptakan kelompok baru dengan kekuatannya sendiri.

Oh, iya, menjadi dominan sama sekali bukan dosa, selama dilengkapi dengan hati yang sabar, tulus, ikhlas, dan demokratis. Dengan kata lain, jadilah lelaki yang kata-katanya terdengar kokoh sekaligus siap menyimak ratapan paling lirih.

  1. Jangan memakai payung, sedotan dan tisu

Ini poin terakhir dan yang paling penting. Tiga benda ini haram bagi lelaki jantan—terutama yang jomblo! Penggunaan payung saat hujan, atau hanya karena sedang panas terik, dapat menurunkan kadar testosteron pada diri seorang lelaki. Maskulinitas justru akan semakin mencolok jika dia membiarkan dirinya terguyur hujan, atau hanya menjaga kepalanya dengan memakai hoodie.

Kemudian sedotan. Kalau beli jus, es, atau apalah gitu, dan penjualnya memberi sedotan, buang sedotannya atau langsung kunyah dan telan. Jangan dipakai nyedot, apalagi diemut-emut dengan bibir sok imut, disusul pula dengan memberi kedipan genit ke lelaki di meja lain. Camkan ini: lelaki jantan tidak akan menatap lelaki lain kecuali dalam rangka mengadu pengaruh dan kesombongan.

Benda terakhir: tisu. Pernah lihat perempuan yang lehernya ditempeli repihan tisu? Itu seksi. Asli. Cewek banget. Bayangkan jika pelakunya seorang lelaki. Sobekan tisu bertebaran di leher, jidat, ekor mata, lubang hidung—duh! Cukup! Sangat tidak jantan! Lebih baik bawa sapu tangan tebal atau handuk kecil dan hapus keringat dengan gerakan yang kasar.

Empat poin tersebut menjadi kunci dari terciptanya lelaki jantan. Kalau berhasil menjalankannya secara menyeluruh, saya jamin, seorang lelaki akan mudah untuk menghilangkan label jomblo dalam dirinya. Dia akan dirindukan perempuan. Dan itu hanyalah efek samping dari tujuan utamanya untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Tapi saya tidak akan berharap banyak pada tulisan ini. Saya yakin, lelaki jantan akan tetap langka, sebab tulisan yang berbobot luar biasa ini hanya akan dianggap sebagai becandaan semata!

Tentang Penulis

Reza Nufa

Reza Nufa

Anak sulung yang punya mimpi menyelesaikan skripsi, dan, tanpa alasan yang jelas, memilih jalan hidup sebagai pembenci buncis.

  • Stacia Kim

    RATE KEMENANGAN BESAR main di s1288poker.pw
    DAFTAR sekarang ambil PROMO nya BBM >> 7AC8D76B

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B