Berita dan Artikel

Depresi Ekonomi dan Upaya Doa Kaum Jomblo

Ahmad Taufiq
Ditulis oleh Ahmad Taufiq

“Bermilyun karung kopi dijadikan bakal menghidupi api dalam tungku pabrik, karena berlebih dan tidak laku lagi. Beratus ribu karung gandum dilempar saja ke dalam laut, karena tidak tahu lagi apa yang akan diperbuat dengan itu. Hendak dijual, sudah tidak berharga lagi. Dalam pada itu berpuluh juta orang miskin di Eropah dan Amerika yang hampir mati kelaparan.”

Alinea di atas saya pinjam dari tulisan Bung Hatta yang berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”. Bung Hatta merekam peliknya situasi ekonomi dunia waktu itu, bangsa Amerika menyebutnya sebagai The Great Depression atau Depresi Besar. Sebagai akibat berkurangnya tenaga produktif pasca-Perang Dunia I, ditambah runtuhnya pasar saham Amerika, dimatangkan oleh macetnya kapitalisme negara-negara penjajah pasca-revolusi Bolshevik di Rusia dan bangkitnya fasisme di Italia.

Depresi Besar tidak hanya berakibat pada Amerika dan Eropa, negara-negara jajahan juga terkena dampak sekunder. Hindia-Belanda, seperti negara jajahan umumnya, adalah negara agraris penyuplai bahan baku indutri di negara penjajahnya. Ketika industri kelebihan pasokan, pasar untuk ekspor berkurang drastis, produksi bahan baku dari jajahan dikurangi agar nilai komoditas tidak merosot, tenaga kerja dipangkas, pengangguran meningkat, bermuara pada turunnya daya konsumsi masyarakat. Jadi jangankan biaya untuk pacaran, untuk makan saja sudah susah.

Cerita di atas terjadi menjelang akhir dekade 30 abad ke-20. Yang terjadi sekarang jelas berbeda. Rupiah turun mencapai angka psikologis 14.000 bukan karena perang, melainkan devaluasi mata uang Cina, ekonomi dalam negeri Amerika Serikat, dan price war antar negara produsen minyak. Tapi Rupiah tidak sendirian, mata uang lain seperti Ringgit Malaysia, Dollar Singapura, dan Dollar Australia juga mengalami depresiasi.

Jika ini tidak segera diatasi, depresi ekonomi tentu bisa berakibat buruk. Usaha impor akan terpukul, juga mereka yang punya utang dalam Dollar. Mereka yang tak paham ekonomi makro akan bilang: ya ndak masalah, kan harga barang impor ini doang yang naik. Ndak masalah mbahmu kiper? Peniti di rumah kita saja made in China, gayung made in Taiwan, Film yang ditonton bareng pacar impor, juga barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, kedelai, dan daging.

“Duaratus tujuhpuluhan juta penduduk Indonesia, doa bareng, empatpuluh hari, pakai tujuh TV nasional, pagi-siang-sore-malam, beres dah. Dollar bisa langsung di bawah ceban,” kata Ustadz Yusuf Mansur melalui akun Twitternya.

Betapa twit itu membuka mata saya bahwa bangsa ini memang kurang tawakal, kita telah terlalu jauh meninggalkan tuhan, tak pernah melibatkan beliau di setiap aktivitas. Benar memang tuhan pasti mengabulkan doa hamba-hambanya, tapi siapa lagi ustadz yang berani memberi jaminan tanggal jatuh tempo empatpuluh hari selain Ustadz Yusuf Mansur?

Yang saya heran justru mereka yang menjadikan kata-kata Ustadz Yusuf Mansur sebagai bahan tertawaan di media sosial, seolah mereka tak percaya janji tuhan: ud’uni astajib lakum. Mintalah kepadaku pasti aku kabulkan. Saya curiga, jangan-jangan Ustadz Yusuf Mansur diam-diam mengetahui turunnya Rupiah terhadap Dollar ini ada campur tangan dari jin kafir.

Menurut saya, bangsa ini perlu optimisme macam ini. Tak ada salahnya saran Ustadz Yusuf Mansur dicoba. Dan kalau ternyata doa Ustadz Yusuf Mansur berhasil menghindarkan Indonesia dari krisis yang mengakibatkan tingginya jumlah pengangguran, berarti ada harapan juga untuk masalah statistik lain seperti tingginya jumlah jomblo di Indonesia. Karena ada persamaan antara masalah ekonomi dengan masalah jomblo: sama-sama bisa depresi.

“Kalau tigaratus delapanbelas juta penduduk Amerika balas doa bareng juga maka Dollar akan naik dengan prosentase 318/270. Sepertinya strategi tadi tidak efektif,” kata akun @RanggaWidigda mengomentari twit Ustadz Yusuf Mansur tadi. Begitu juga @KangSantabrata yang mengatakan, “Pada akhirnya Yuan menang. Dari satumilyar tigaratus empatpuluh Sembilan juta jiwa, tigaratus delapanbelas juta yang berdoa, sisanya satumilyar tigapuluh satu juta bekerja.”

Ada benarnya juga kata-kata @RanggaWidigda dan @KangSantabrata itu, tapi hanya dalam konteks kontestasi antar mata uang. Dan mereka tidak memperhitungkan variabel lain seperti campur tangan jin kafir. Dalam konteks jomblo, kasusnya jelas berbeda. Misalnya kaum jomblo membuat acara istighotsah akbar meminta jodoh, kan tidak mungkin yang tidak jomblo membuat istighotsah tandingan agar yang jomblo tetap jomblo. Tingginya jomblo tak ada hubungannya dengan kurva permintaan dan penawaran, satu-satunya yang relevan hanyalah adanya campur tangan jin kafir.

Bayangkan semua jomblo dari setiap provinsi di Indonesia berkumpul di kota-kota besar, ikhtiar dalam doa selama empat puluh hari, pagi-siang-sore-malam, disiarkan melalu tujuh stasiun TV nasional, pemimpin doa siapa lagi yang lebih pantas kalau bukan Ustadz Yusuf Mansur sendiri. Karena ini adalah ide otentik beliau, beliau pantas diberi panggung (soal honor silakan bicarakan dengan manajemen). Apakah tuhan akan tega mengabaikan ikhtiar kaum jomblo yang begini keras?

Entah doanya benar-benar makbul atau tidak. Tapi karena kelewat sering berkhalwat, empatpuluh hari, pagi-siang-sore-malam, saya yakin bibit cinta pasti tumbuh di antara peserta istighotsah. Banyak undangan pernikahan disebar tiga bulan setelahnya. Jangan khawatir soal restu orangtua, mereka pasti setuju, apalagi kalau sudah telat datang bulan. Dan duapuluh lima tahun dari sekarang, kita akan kembali memperoleh bonus demografi untuk Indonesia yang semakin baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

Tentang Penulis

Ahmad Taufiq

Ahmad Taufiq

Bapaknya Bumi. Magang di birokreasi.com