Curhat

Duka Jomblo Tidaklah Istimewa

Mas Akhi Sofiyudin
Ditulis oleh Mas Akhi Sofiyudin

demo-pabrik-semen-indonesia

“Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapar

Bunda relakan darah juang kami

Padamu kami berjanji…” 

Jomblo diidentikkan dengan duka, lara, dan nestapa. Ah, tiap kali menyoal jomblo, pasti juntrung-nya kesedihan. Bagaimana nggak sedih coba, ketika kita masih dirundung dengan kenangan masa silam, malah sang mantan sudah melebarkan senyum bersama pacar barunya. Fenomena demikian membuat hati ini terasa remuk redam dan merah membara, bagaikan bregedel dicocol saos super pedas. Begitulah rasanya. Iya kan, Mblo?

Apalagi jika putusnya hubungan kamu dan dia hanya karena alasan yang amat klise, seperti “kamu terlalu baik”, “kamu sudah berubah”, dan yang paling HeuHeu yaitu ketika dia mengatakan “kita sudah gak cocok”. Jomblo dengan sebab apa pun gak ada perbedaan strata kejomboloan. Jomblo ya jomblo, menjadi mahluk yang paling tenar ketika malam minggu tiba.

Mulai dari kicauan timeline, PM, DP BBM, sampai operator yang tiba-tiba ngirim sms “Kamu habis putus cinta, aktifkan I-ring -Hapuskanlah Ingatanku-“ Kan rasanya menohok banget, Mblo! Siapa sih operator yang berani-berani ngirim sms seperti itu? Kalau saja dia cowok, akan saya jadikan teman. Tapi kalau ternyata dia cewek, langsung saya jadikan gebetan. Kan lumayan.

Ah, sudahlah! Sampai kapan kita—para jomblo—mengenang duka atas status ini? Beribu-ribu tulisan, video, dan lagu tentang duka putus cinta dan kejombloan hanya akan menjadikan para jomblo lantas menaikkan tingkat kedukaan. Hai para jomblo, kini sudah saatnya kita singsingkan lengan baju, busungkan dada dan siap bertarung melawan gemuruh kenangan bersama mantan (ciyeee mantan lagi mantan lagi!). Sulit memang, karena perjalanan kisah cinta yang terlalu lama, maka melupakan mantan terasa lebih sulit daripada ngupil pake jempol kaki. Tapi kenapa duka jomblo tidaklah istimewa?

Iya, duka jomblo tidaklah istimewa. Walau saya sebagai jomblo awam, yang masih perlu belajar banyak di jamiyah jombloo dot co, tapi saya mencoba memaknai bahwa duka seorang jomblo tidaklah istimewa. Ini mungkin bisa menjadikan alternatif resep pukpuk bagi jomblo alam raya.

Kadang ketika kita bergelar jomblo, seakan bumi ini berputar lebih cepat seperti biasanya. Hati bergemuruh lebih kencang dan penyesalan datang bertubi-tubi. Merasa menjadi orang yang paling kesepian di muka bumi, hanya nyamuk magrib yang setia menemani. Tapi percayalah, duka jomblo tidaklah seistimewa itu. Karena perasaan duka semacam itu sebenarnya diproduksi dari diri kita sendiri.

Coba sejenak ke luar rumah, lihatlah persoalan lain yang ada di sekeliling kita. Tentang anak putus sekolah karena terjerat biaya, tentang Ibu-ibu rumah tangga yang menjerit karena harga BBM dan sembako naik, tentang pak tua yang membanting tulang sehari semalam hanya agar bisa makan, tentang masyarakat Papua yang dikeruk hasil tambangnya namun kesejahteraannya rendah, tentang Ibu-ibu Rembang yang rela mengungsi akibat dari lahannya yang digusur untuk pembangunan pabrik semen, tentang warga Ahmadiyah yang dijegal oknum saat mau melaksanakan ibadah, dan tentang warga Syiah Sampang yang diusir dari tempat tinggalnya. Coba renungkanlah, ratapilah, rasakanlah duka mereka.

Keistimewaan duka jomblo tidak ada apa-apanya. Hanya sekecil gethek yang hanyut di tengah samudra.

Janganlah terus menerus terkungkung oleh persoalan-persoalan yang berskup kecil, apalagi yang bersifat pribadi tentang percintaan dan hati. Nggak ada hasilnya, Mblo! Menyesal, bersedih, berduka kehilangan pacar—itu boleh dan halal menurut fatwa jomblo nusantara, asal tidak berlarut-larut. Kita semua sepakat bahwa manusia merupakan mahluk sosial, maka jangan sampai persoalan duka kita sebagai jomblo menelatarkan jiwa sosial kita sebagai manusia: acuh dengan ketimpangan sosial yang terjadi di negeri ini.

“Suka duka kita tidaklah istimewa, karna setiap orang mengalaminya.” —W.S. Rendra, Sajak Seorang Tua untuk Istrinya

Tentang Penulis

Mas Akhi Sofiyudin

Mas Akhi Sofiyudin

Jomblo awam yang masih dirundung kenangan mantan

  • Lala Seilonada

    keren

  • Aditia Purnomo

    yeay