Curhat

Jangan Menghina Jokowi

Tri Em
Ditulis oleh Tri Em

jombloodotco-jangan-menghina-jokowi
Menanggapi pengajuan pasal penghinaan terhadap presiden dalam revisi Undang-Undang KUHP, yang menurut beberapa media massa—diajukan oleh Pak Jokowi, saya jadi teringat tweet-tweet Pak SBY ucapan seorang Kawan, “Hidup itu kayak diperkosa. Kalau enggak bisa ngelawan, ya nikmatin aja…”

Ucapan kawan saya mungkin ada benarnya. Tapi saya kira, kalimat itu lebih tepat bila ditujukan kepada dirinya sendiri. Jangankan menghina presiden, saat menyindir mantan pacar—yang sudah punya pacar baru padahal belum lama putus dengan kamu—sebagian Kawan jomblo masih merasa kesulitan. Sulit membedakan mana harapan mana kenyataan, misalnya. Hal yang tanpa sadar akan menganggu stabilitas kebahagiaan jomblo seluruh negeri.

Menurut Pramoedya Ananta Toer, setiap hak yang berlebihan adalah penindasan. Saya setuju dengan pendapat beliau. Oleh karena itu, jangan heran jika saya akhirnya membikin rancangan tentang Kode Etik Mantan; sebuah rancangan yang sengaja saya buat guna mengembalikan kesejahteraan jomblo, sebagai mantan pacar yang adil dan beradab.

Kawan-kawan jomblo mungkin sudah paham, bahwa presiden tidak bisa disejajarkan dengan mantan pacar. Namun dalam beberapa hal, keduanya mempunyai kesamaan. Tak peduli betapa pedih perasaan, presiden dan mantan pacar selalu berusaha untuk tampil penuh senyuman. Tak peduli orang mau menganggap apakah senyum itu ikhlas atau tidak, barangkali dengan tersenyumlah seseorang bisa lebih memaknai kebahagiaannya. Mantan pacar yang baik tentu akan mendoakan kebahagiaan mantan pacarnya, begitu juga dengan presiden. Presiden yang baik pasti mendoakan kebahagiaan rakyatnya, sekalipun ia dikritik bahkan sampai masuk ke dalam kategori ‘penghinaan’.

Kini kita hidup di negeri yang penuh dengan berbagai macam ideologi. Mulai dari pemikiran Karl Marx, Hitler, NASAKOM ala Bung Karno, sampai kelahiran demokrasi pasca-reformasi. Belum lagi Facebook-nya Mark Zuckerberg, dimana sebagian orang—yang mungkin saja mereka kurang piknik—menganggap bahwa Facebook adalah media orang kafir. Eh.., tapi media itu digunakan juga sebagai tempat kritik. Kalau memang kaum hipokrit bisa memberikan solusi yang tepat buat meningkatkan kesejahteraan rakyat, coba kasih saya jawaban, lebih baik mana: pencitraan para birokrat, atau jomblo-jomblo pemersatu umat?

Sebentar lagi negeri ini memasuki usia 70 tahun. Usia yang cukup tua untuk dikatakan setengah merdeka. Kebebasan berbicara, berpendapat, tidak lagi serumit seperti zaman penjajahan dulu, lebih-lebih rezim Orde Baru. Kini kawan-kawan jomblo dimudahkan untuk mengeluh dan mengkritik apa pun. Mulai dari kelakuan mantan pacar sampai dengan birokrasi yang macet oleh berbagai macam kepentingan politik. Sebab negeri ini masih setengah merdeka, jangan sampai hukum seperti pisau: tumpul ke atas, tajam ke bawah.

Daripada menghina presiden, mari menikmati perjuangan membebaskan diri dari belenggu mantan pacar. Daripada menghina presiden, mari meningkatkan semangat kebangsaan bersama puisi Gus Mus:

Aku masih sangat hafal nyanyian itu…

Indonesia air mata kita

Bahagia menjadi nestapa

Indonesia kini tiba-tiba

Selalu dihina-hina bangsa

Di sana banyak orang lupa

Dibuai kepentingan dunia

Tempat bertarung merebut kuasa

Sampai entah kapan akhirnya

Tentang Penulis

Tri Em

Tri Em

Amorfati Fatum Brutum. Tim J @jombloodotco.

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A
    D.8.E.B.7.E.6.B
    #