Berita dan Artikel

Jika Harus Berpisah, Jadilah Mantan yang Orisinal

Edi AH Iyubenu
Ditulis oleh Edi AH Iyubenu

Aslinya, menjadi mantan bukanlah keadaan yang perlu disedihkan. Sepanjang otentisitasnya sebagai manusia tetaplah terjunjung semulia kepala sedemikian rupa.

Aslinya, menjadi mantan bukanlah keadaan yang perlu disedihkan. Sepanjang otentisitasnya sebagai manusia (bukan barang) tetaplah terjunjung semulia kepala sedemikian rupa. Ya, orisinialitasnya.

Celakanya, situasi kemantanan ideal begitu di masa kini telah sangat terjungkir-balikkan. Menjadi mantan di hari ini setamsil dengan menjadi “barkas”; sebuah hadiah atas terjungkir-baliknya konsep dan praktik “penjajakan” yang menjadi pintu lahir mantan-mantan.

Jadi, secara prinsipil, terdapat perbedaan ontologis-eksistensial antara statusmu sebagai mantan yang manusia dengan statusmu sebagai mantan yang barang. Baik, tak perlu merengut, apa yang saya maksud sebagai ontologi-eksistensial “manusia” versus “barang” ialah semata tentang seberapa otentis kamu dan fitri kamu dan orisinal kamu dalam menjalani proses penjajakan (mau disebut pacaran, ta’aruf, tunangan, dan khitbah) yang berujung perpisahan.

Bagaimanapun, fitrah psikis setiap kita (cowok/cewek) senantiasa menghasratkan “orisinilitas”. Lalu kita menyebutnya secara sederhana sebagai suci, putih, alias otentik, selazimnya manusia, yang didambakan kan jadi ibu atau ayah bagi anak-anak yang lucu di kemudian kelak. Yang tidak berhasil menggawangi fitrah demikian, sekalipun tetap diterima oleh pasangannya kelak, niscaya tetaplah mencipratkan “ingatan buruk” tentang stempel ketidaksucian, ketidakputihan, alias ketidakotentikan.

Ini impian ideal setiap kita (baik diakui secara terbuka atau malu-malu). Situasi yang kian punah dari ekosistem kemanusiaan kita, akibat telah tumbangnya apa yang sewajibnya dijunjung penuh oleh nurani dan agama sebagai “fitrah manusia”.

Putus cinta, tentu saja, bukanlah petaka. Begitu aslinya. Ia sebut saja sebagai risiko terujung dari sebuah perjalanan jalinan hati. Jangankan yang sekadar pacaran dan ta’aruf, suami-istri dengan sejumlah anakpun boleh-boleh saja memutuskan berpisah.

Argumen paling lazim saat perpisahan tak lagi terhindarkan ialah “tidak cocok lagi”. Baik, episteme cocok memang sangatlah mutlak dalam ekologi batin kita. Islam menyebutnya “sekufu”, selevel, sehingga tanpa ragu tersebutlah ayat 26 dalam surat an-Nuur (24) yang menyatakan dengan terang bahwa “laki-laki baik untuk wanita baik dan laki-laki buruk untuk wanita buruk….”

Ini mudah dinalar jika Anda bersembada jujur. Tidaklah mungkin sebuah jalinan hati, apalagi rumah tangga, akan berjalan sakinah jika tidak ada garis selaras antarinsan di dalamnya. Akar prinsipnya adalah kesambungan psikis belaka; bahwa setiap relasi secara mutlak menisbatkan rasa nyaman, pengertian, kesesuaian, dan empati. Prinsip-prinsip psikis ini mutlak muhal terjalin bila tidak dilandaskan pada prinsip “sekufu” tadi.

Lantas, kita mengenal “proses penjajakan” sebagai persiapan diri untuk mengenal dan menakar kesekufuan antarpihak, sebelum dilajukan ke pelaminan. Kita di sini menyebutnya pacaran; ada pula sebagiannya yang menyebutnya ta’aruf. Sebagian lagi menempuhnya dalam istilah pertunangan; ada pula yang menyebutnya khitbah. Pada intinya semua menisbatkan hal yang sama: “proses penjajakan”.

Sebagai proses normal yang memang diakomodir oleh psikologi umum dan bahkan pandangan fiqh yang paling ketat sekalipun, seyogyianya ia dipergunakan sepenuhnya semata untuk menakar potensi sekufu/tidaknya antarcalon pasangan. Bila lalu ditemukan situasi yang mengarah pada sebaliknya (tidak sekufu), pembatalan pertunangan atau  khitbah, atau putus pacaran, atau menghentikan ta’aruf, menjadi langkah yang niscaya. Produk dari pembatalan ini secara esensial sama-sama sah disebut mantan.

Sayangnya, akibat telah dijungkir-balikkannya konsep dan praktik “penjajakan” itu di masa kini, mantan yang seyogyianya adalah manusia otentis sontak terjungkir-balikkan menjadi mantan yang “barkas”. Ehm, maafkan terma yang terasa sarkastik ini; saya tak berhasil menemukan episteme yang setamsil tepat selainnya.

Maka tak ada pilihan lain lagi bagi setiap Anda yang masih belum menikah jika sepakat mengidealkan “situasi menjadi mantan” yang tetap manusia alias otentis (dalam garis asumsi bahwa boleh jadi proses penjajakan yang Anda tempuh tidak berjalan baik (sekufu) sehingga menganugerahkan pangkat mantan di pundak), selain memastikan diri untuk hanya menempuh proses penjajakan yang otentis pula; sejak dalam level pikiran hingga praktik. Sekali saja Anda gagal bertahan otentis, sejak saat itulah Anda telah tumbang dari status manusia, bergeser menjadi “barang”.

Coba camkan baik-baik lagi, bukankah tujuan besar penjajakan (pacaran, ta’aruf, tunangan, khitbah) tak lain adalah semata untuk mengukur kecocokan personality? Ia semata beraras pada perspektif hidup, cakrawala keilmuan, kualitas iman dan ibadah; bukan kehalusan bulu-bulu di lengan, kenyalnya bibir, ukuran beha, warna puting, merek celana dalam beserta isinya, juga postur sixpack titit. Penyimpangan orientasi inilah biang kerok anomali di kemudian hari: lalu terbitlah sabda-sabda “tidak cocok lagi” dan karenanya perpisahan menjadi jalan terbaik bagi keduapihak agar tak terus saling menyakiti, setelah icip-icip yang boleh jadi sejatinya hanyalah sebab bosan, gitu-gitu aja, sudah tahu rasanya, dan hengkangnya sakralitas aurat yang sewajibnya selalu dipenasarankan hingga malam pernikahan.

Lalu, terjadilah perpisahan; terproduklah mantan-mantan.

Lantaran status mantan tercipta dalam blunder anomali akibat penyimpangan khittah proses penjajakan itu, wajarlah bila ruhaninya senantiasa dililit oleh rasa berdosa, terhina, tak suci, waswas, dan sesal. Percayalah, segala sesuatu yang melanggar khittah dan fitrah hanya akan mengundang bencana anomali;  dan tak pernah ada sesuatu pun yang sanggup establish (sakinah) dari sebuah anomali.

Memang, hidup harus terus berlanjut; mantan pun harus terus bernapas, berpasangan, dan beranak-pinak. Begitu fatwa Syaikh Tri Emon al-Kasiri al-Angkringan al-Mojoki. Di permukaan, ia boleh jadi baik-baik saja, serupa orang-orang lain yang otentis. Hanya saja, sejarah dan kenangan takkan pernah bisa disingkirkan dari alam bawah sadar, kan, sekalipun disumpal serapatnya di kedalaman batin. Itulah jejak abadi rasa berdosa, terhina, tak suci, waswas, dan sesal.

Tentang Penulis

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Rektor Kampus Fiksi dan calon doktor Islamic Studies yang setiap Sabtu malam setia menghibur kaum jomblo dengan tagline “Aku Peduli Maka Aku Ada”. @edi_akhiles

  • Tri Em

    Jangan lupa ngopi, Mas Edi. Hahaha.

  • maria handayani

    P*O*K*E*R*V*I*T*A*
    D*8*E*B*7*E*6*B
    $

  • maria handayani

    LIVECHAT P`O`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    ##