Curhat

Jomblo Aja Kok Repot

Ahsan Ridhoi
Ditulis oleh Ahsan Ridhoi

Sebelum masuk ke inti tulisan ada dua hal yang ingin saya utarakan. Pertama, saya masih jomblo. Tidak seperti kabar burung yang beredar bahwa saya telah balikan, dan perlahan-lahan mulai meninggalkan situs revolusioner ini. Kedua, saya tidak sedang repot mengurusi apapun. Adapun saya akhir-akhir ini jarang menulis untuk jombloo dot co, itu karena saya memang sedang tidak punya inspirasi. Jadi, daripada dipaksakan menulis tapi hasilnya jelek, mending tidak usah.

Loh, terus apa sekarang saya sudah punya inspirasi? Jujur saja belum. Namun, setelah merenungkan dua kondisi di atas, saya jadi punya sedikit bahan untuk ditulis. Hmmm, bolehlah ini disebut sebagai rekaputilasi dari renungan saya. Memang hanya Banggar DPR saja yang bisa bikin rekapitulasi, jomblo juga.

Saya memang sangat bimbang dengan status kejombloan saya akhir-akhir ini. Dikata jomblo, tapi saya dekat lagi dengan mantan saya. Dikata balikan, tidak ada kata sayang di antara kita. Entahlah, mungkin itu yang dinamakan hubungan tanpa status. Dan, percaya atau tidak, hal itu lebih membikin saya terpuruk daripada status jomblo.

Efek paling minim dari hal itu, adalah hilangnya selera tertawa saya. Kemudian naik kepada hilangnya selera makan saya. Hingga pada tingkat tertinggi, hilangnya inspirasi saya untuk menulis. Pokoknya mampet pet pet, dan itu sangat merugikan. Pembaca Jombloo, maafkanlah hamba ini!

Di tengah keadaan saya yang terombang-ambing tidak menentu itu, terbesitlah ucapan maha dahsyat Gus Dur, “gitu aja kok repot!” Sungguh sebuah ucapan yang membuat saya merasa sangat tolol dengan keadaan saya. Lah kalau ngurusi negara yang kacau balau begini rupa saja Gus Dur masih bisa selo, kenapa saya yang hanya sekadar ngurusi perasaan saja mesti pontang-panting gak karuan? Astaghfirullah.

Maka, mulailah saya kembali menata diri dan perasaan. Saya gali lagi semangat kenangan yang pernah ada. Saya pun sadar, bahwa cinta yang tumbuh kembali memang tak pernah sama rasanya. Pasti ada perbedaan. Dan, saya harus bisa menerima perbedaan itu.

Di sisi lain saya juga sadar, bahwa jomblo adalah wujud dari kebebasan. Sebuah kondisi yang membuat seseorang bisa semaunya memilih pasangan yang baru jalan masa depannya. Bukan malah tersuruk dalam linangan kebimbangan. Ya, meskipun bebas bukan berarti merdeka. Karena, perasaan bisa saja masih terkerangkeng di masa lalu. Dan, itu adalah sebuah hal yang wajar. Tak perlu dibawah terlalu larut.

Harusnya jomblo tidak perlu bersedih hati. Tak ada pacar yang perlu dibayari, artinya bisa menabung untuk masa depan. Tak ada pacar yang meminta diantar ke sana-ke mari, artinya bebas cari gebetan kegiatan. Tak ada pacar yang menyuruh cepat-cepat pulang saat nongkrong bareng teman, artinya malam semakin panjang, dan dua tiga botol bir tak perlu jadi mubadzir!

Jomblo aja kok repot. Jomblo yang dijalani saja. Tidak perlu dibawa pusing. Tidak perlu sok belagu macam kepala negara segala. Cukup jadi jomblo apa adanya. Yang bebas. Yang lepas! Begitulah pada akhirnya saya temukan diri saya.

Jadi, seluruh pembaca jombloo yang budiman, mari bebaskan diri! Mari jadikan situs ini menjadi situs paling revolusioner di seantero jagad. Kalau Cuma mojok mah, ya berat juga sih hehehe. Tapi, saya yakin, dengan kekuatan cinta dan air mata, kecuali balikan, tak ada yang mustahil!

Tentang Penulis

Ahsan Ridhoi

Ahsan Ridhoi

Mahluk bertampang tak layak jadian

  • maria handayani

    P*O*K*E*R*V*I*T*A
    D.8.E.B.7.E.6.B
    #