Curhat

Jomblo dan Emansipasi Wanita

jombloo-chelseaMembicarakan tentang jomblo dan kesedihan kehidupannya memang tak akan pernah ada habisnya. Seperti di industri musik yang tetap mempertahankan tema abadi mengenai cinta untuk setiap lagu yang diluncurkannya. Kisah jomblo di media sosial mendapatkan tempat utama sebagai trending topic sepanjang masa.

Isu tentang politik, kebijakan ganjil pemerintah, bahkan kedatangan boyband yang keseringan ngolesin krim muka hanya bersifat sementara diperbincangkan. Sehingga wajarlah jika sekarang jomblo bukan lagi menjadi status, melainkan telah merangkap menjadi berbagai peruntukan, dari korban bullying, tema di baju kaos, aktivis tolak-kemacetan-di-malam-minggu dan konsumen garis keras sabun mandi. Sehingga tak mengherankan jika tulisan-tulisan di jomboo dot co ingin menggerakkan potensi jomblo yang berjumlah puluhan juta orang untuk membentuk partai politik dan mengkudeta pemerintahan yang selama ini zalim terhadap jomblo.

Terlebih lagi di malam minggu, bentuk kekerasan batin dan mental acapkali diterima para aktivis jomblo di media sosial. Sehingga bentuk dari perlawanan jomblo hanya berkisar dengan mematikan telepon genggam dan segala perlengkapan elektronik yang terhubung internet. Tetapi memang ada pula para aktivis yang lebih frontal melawan dengan membuat status menandakan bahwa jomblo memiliki kesibukan di malam minggu, seperti: “nongkrong bareng—teman jomblo—sambil nonton liga inggris” bahkan “sedang sholat tahajud, jangan diganggu—padahal baru jam sembilan.”

Berbagai perlawanan balik yang dilancarkan para jomblo memang acapkali menemui jalan buntu. Mereka tetap saja kalah walaupun sudah main keroyokan. Maka dari itu perlu kiranya membuat sebuah gerakan yang lebih masif, sistematis dan menyeluruh. Salah satunya dengan mendukung isu emansipasi wanita.

Tulisan ini memang dikhususkan bagi para jomblo berjenis kelamin laki-laki, karena saya memang tak bisa merasakan bagaimana perasaan jomblo perempuan. Tapi tak apalah, memikirkan untuk mengurangi jomblo laki-laki jauh lebih baik daripada tak melakukan apa-apa bukan.

Isu emansipasi wanita setiap tahun akan bergulir, terutama pada bulan april tanggal 21. Dimana sosok Kartini dianggap sebagai pelopor kesetaraan gender di Indonesia. Walaupun masih banyak pro kontra terhadap Kartini yang dianggap sebagai pahlawan nasional. Kita tak perlu memperdebatkan hal itu di sini.

Terpenting adalah esensi dari emansipasi tersebut. Dimana perempuan memiliki hak yang sama seperti laki-laki. Para jomblo—laki-laki—seharusnya semangat memperjuangkan hal ini. Setidaknya perkara mengenai mengajak berkenalan, mengutarakan cinta, bahkan menggombal yang selama ini didominasi oleh kaum laki-laki dan dianggap tidak etis jika dilakukan oleh perempuan bisa dilaksanakan secara adil dan proposional oleh masing-masing gender.

Bayangkan, Mblo. Sebagian dari kalian yang terlahir pemalu dan tak punya nyali jika bertemu lawan jenis, hanya perlu duduk kalem dan curi-curi pandang memberi kode. Sang perempuan datang sendiri, mengajak kalian berkenalan, meminta nomor handphone, mengajak jalan, ngebayarin nonton, bahkan mengutarakan cinta terhadap kita-kita ini dengan seikat bunga. Bayangkan pula, kita dengan sok jual mahalnya berpura-pura butuh waktu memikirkan jawaban—membuat sang perempuan uring-uringan tak bisa tidur semalaman, atau agar tak terlihat murahan, kita, para jomblo laki-laki ini dengan halus menolak ajakan perempuan jalan ketika malam hari karena tidak diperbolehkan orang tua atau takut dibegal.

Bayangkan lagi, kita hanya perlu merengek manja, dan geser-geser buah dada kita di pelukan pasangan biar bisa dibelikan celana jeans atau kemeja. Sungguh bentuk kemudahan yang sangat meringankan bagi para jomblo yang selama ini tak pernah merasakan nikmatnya menjadi perempuan saat PDKT dan kuasa untuk menggantung dan memilih pasangan.

Jadi cukuplah kiranya, alasan-alasan di atas untuk dengan segera memperjuangkan emansipasi wanita di segala aspek kehidupan. Dan menjadikan kehidupan cinta para laki-laki menjadi lebih mudah dan berwarna. Hidup para jomblo, hidup emansipasi wanita!

Tentang Penulis

Ferry Irawan Kartasasmita

Ferry Irawan Kartasasmita

Seorang pria revolusioner, selalu memikirkan nasib para jomblo dan anak cucu mereka.