Curhat

Jomblo, Rokok, dan Kebudayaan

Kholid Syaifulloh
Ditulis oleh Kholid Syaifulloh

jombloo-rokok-pramoedyaJadilah jomblo yang merokok. Sekiranya kalimat itu yang terlintas di pikiran saya setelah membaca artikel milik Bung Tri Em yang berjudul Alasan Mengapa Perokok jadi Idaman Perempuan. Saya sangat sepakat dengan isi artikel Bung.

Kesepakatan saya berdasar pada karakteristik jomblo perokok dan bukan perokok dalam segi sosialitas, seperti yang disampaikan dalam artikel tersebut. Kalau boleh saya tarik kesimpulan, habblum min an-naasnya perokok itu lebih memanusiakan manusia: royal, penuh kasih sayang, toleran, lebih nasionalis dan sadar kelas. Untuk  dua hal yang terakhir, maksudnya berkenaan dengan ekonomi nasional yang (sebenarnya) ditentukan oleh buruh, yang dalam hal ini yaitu buruh industri rokok. Sementara jomblo yang bukan perokok, silahkan ambil kesimpulan sendiri.

Tapi, tulisan ini tidak untuk mereview artikel Bung Tri Em. Paragraf pertama dan kedua hanyalah apresiasi pribadi dari saya.

Yang mau saya tekankan dalam tulisan ini adalah pentingnya kesadaran jomblo sebagai makhluk Tuhan yang tidak boleh hanya galau berlarut-larut dengan meng-update kegalauannya di media sosial. Tidak, itu cuma jomblo yang justru menampilkan inferioritasnya di depan publik secara tidak sadar. Tragis sekali!

Sebagai seorang manusia, harusnya para jomblo sadar dengan kemanusiaan yang dimilikinya. Dalam konteks apa kemanusiaan jomblo itu hadir? Saya mencoba menampilkannya dalam konteks jomblo dan rokok secara kebudayaan. Tentu masih banyak selain itu, tapi tak akan muat jika saya tampilkan semuanya. Dan butuh waktu berhari-hari untuk kita mendiskusikan hal itu.

Baiklah. Jomblo dan rokok merupakan dua hal yang berkaitan dengan ‘mesra’, khususnya cowok. Tapi tak menutup kemungkinan juga bagi yang cewek. Contoh kecil saja, banyak jomblo yang berhasil membuat karya-karya besar dalam hubungannya dengan rokok. Bung Ahsan Ridhoi misalnya. Kru Jombloo Dot Co ini menelurkan banyak sekali tulisan menarik.

Atau contoh lain, banyak jomblo-jomblo yang ketika kumpul bersama di malam minggu dibalut rasa ‘saling kasih’ antar sesamanya. Lihat saja, mereka begitu royal dalam ‘menjamu’ kawannya dengan aneka rokok. Dan setelahnya, jamuan kopi, tukar kabar, tukar gagasan, juga makanan.

Di samping itu, jomblo yang merokok juga cenderung memiliki kepribadian yang nyantai dan tidak cepat frustasi.

Maka dari itu, hubungan jomblo dan rokok adalah hubungan kebudayaan. Mengapa? J.J Honigman dalam karya antropologinya The World of Man (1959) yang dikutip dalam Koentjaraningrat (1990: 186) membedakan adanya tiga gejala kebudayaan, yaitu ideas, activities dan artifacts.

Yang dimaksud ideas yaitu gagasan atau ide tentang rokok sebagai pengendalian batin atas angan-angan yang tidak keruan. Makanya para jomblo yang perokok merasa aman-aman saja ketika harapan menggapai pasangan belum tercapai. Tetap rileks dan stay cool.

Activities merupakan wujud kebudayaan dalam hal relasi sosial atau hablum min an-naas seperti yang saya tulis di atas. Lebih beretika ketika bersosialisasi dengan orang lain. Lebih memiliki rasa ‘saling kasih’. Menawarkan rokoknya untuk dihisap, merelakan kopinya untuk diseruput, juga tak segan bertukar ide dan pengalaman. Karya agung Serat Centhini bahkan pernah menyinggung pentingnya menyuguhkan rokok ketika menjamu orang lain.

Terakhir, artifacts berarti maha karya yang dihasilkan. Dalam hal ini, sudah jelas seperti saya contohkan, bagaimana bung Ahsan yang jomblo dan perokok mampu menghasilkan karya-karya menarik yang begitu banyak.

Maka dari itu, secara sadar atau tidak, para jomblo yang perokok sebenarnya turut melestarikan warisan kebudayaan bangsa. Rokok adalah warisan bangsa yang tak lepas dari akar sejarah bumi pertiwi. Sudah sejak zaman kolonial rokok terlibat intim dalam konjungtur ekonomi politik bangsa ini.

Selain itu, Plato dalam buku Bertrand Russel berjudul A History of Western Philosophy (1972: 109) bilang bahwa kesejahteraan politik harus diatur oleh gentleman yang berbudi luhur (berbudaya). Maka dari itu, jomblo yang perokok, yang berat atau enteng, sebenarnya punya visi cemerlang yang sangat besar bagi kemanusiaan dalam hal mendistribusikan kesejahteraan sebagai jantungnya kebudayaan. Ketimbang cuma update di media sosial yang tak jelas jutrungannya.

Maka, jadilah jomblo yang merokok. Karena jomblo ini bukan sembarang jomblo, melainkan gentleman yang berbudaya.

Tentang Penulis

Kholid Syaifulloh

Kholid Syaifulloh

Sedang mencoba jadi aktivis jomblo

  • Al-Rasyidin

    pemikiran yang salah akan menghasilkan hal yang salah pula. Sekarang begini dibangdingkan manfaatnya banyak mana dengan mudharatnya. banyak banget mudharat yg disebabkan oleh rokok ekonomi jelas pengaruhnya berapa banyak uang yang dihabiskan dalam 1 hari dikali 1 bulan kali lagi satu tahun, kesehatan mulai dari orang yang menghisapnya sampai pemerintah yg hrs jga menanggung biaya penyakitnya, orang2 akan tercemar juga jika dkt dgn perokok aktif dll tdk mungkin sy jwb semuanya disini. menurut saya jdilah komblo yg berbahagia, jomblo itu prestasi hidup yang patut dibanggakan.

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A
    D.8.E.B.7.E.6.B