Berita dan Artikel

Kegagalan Manusia Pasca-Jomblo

Fedi Bhakti Patria
Ditulis oleh Fedi Bhakti Patria

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk merekonstruksi posisi para jomblo yang selama ini terus-menerus menjadi bahan cemoohan sub-ordinat. Mereka jadi inferior, merasa terbelakang akibat kondisi kebudayaan yang membuat sobat jomblo merasa terpojok saat mereka harus di bingungkan terhadap pertanyaan tentang ‘pasangan’ pada momen-momen tertentu: hari raya; pertemuan keluarga; reuni SMA; nikahan mantan teman. Padahal, belum tentu harapan untuk menjadi ‘manusia pasca jomblo’ menawarkan entitas kebahagiaan yang hakiki.

Melalui riset kilat yang saya lakukan, akhirnya saya menemukan bahwa manusia pasca jomblo adalah manusia yang penuh rekaan. Dibalik senyum sarcastic-nya terhadap kaum jomblo, tersimpan kegelisahan mendalam atas sebuah ketidakpastian atas jati dirinya. Manusia pasca jomblo senantiasa dirundung rasa kehilangan atas sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada pada dirinya. Sebuah kecemasan akan kehilangan yang tidak pernah dirasakan oleh kaum jomblo di manapun Ia berada. Karena kejombloan itu sendirilah muaranya.

Pada dasarnya manusia pasca jomblo ibarat rokok yang hanya nikmat di awal, namun semakin sepoh di ujung. Segera setelah lajangnya hilang, Ia akan dibuntuti dengan perasaan kecewa saat pasangan ketiduran kala asyik chattingan, kegalauan kala pasangan bertemu mantan, sampai kebimbangan saat kencan malam minggu di akhir bulan. Biasanya, yang seperti ini tergolong sebagai manusia pasca jomblo yang rentan.

Namun, ada juga manusia pasca jomblo yang sudah establish. Mereka kadang dicirikan dengan sosok yang bengis dan mendedikasikan dirinya sebagai para purna-rakyat (kalau boleh dibilang gitu). Mereka mendadak menjadi mesias, the messenger, habib, pemimpin rakyat, pejabat atau wakil rakyat, yang mengantisipasi kesendiriannya dengan merepresi keaneka ragaman jomblo, agar tetap diakui dan tidak dicampakkan oleh posisi mayornya. Para petinggi itu berharap semua seragam, sehingga pengikutnya tidak berpaling atau di gebet orang lain. Rumangsamu duwe genda’an dadi mayoritas iku penak? Yo puenaak! Bisa obrak-abrik warung, gusur rumah-rumah, menghina kaum jomblo marginal hanya bisa nyabun menuntut saja.

Hal ini bukan berarti seluruh manusia pasca jomblo merefleksikan hal serupa. Ya, intinya itu tadi, beberapa dari mereka adalah kelas yang bimbang atau rentan jomblo (seperti saya). Hidupnya penuh ketidakpastian, mau ikut yang sudah establish syaratnya harus mau ‘mbabu’ dulu ke Empunya. Susah kan?

Berbeda dengan para jomblo. Mereka adalah entitas yang bangga mengakui akan kekurangannya dalam wacana percintaan hingga kehidupan. Kecuali bagi para jomblo transisional yang menempatkan diri pada hubungan friendzone, adik-kakak-zone, atau sedang di php. Saya sih, cuma ingin bilang kalau nanti para jomblo transisional ini naik kelas, mereka pada akhirnya harus berhadapan dengan puspa ragam kontradiksi diatas.

Saran saya, bagi para sobat Jombloo Dot Co sekalian, hendaknya kalian meyakini bahwa entitas ontologis lain selain kematian adalah ‘jomblo’. Disadari atau tidak, para manusia pasca jomblo ini pada akhirnya akan kembali kepada ‘yang jomblo’. Seperti kata Heidegger yang mengatakan bahwa manusia juntrung nya ya dies as a single one. Jadi, berbanggalah para sobat jomblo!

Tentang Penulis

Fedi Bhakti Patria

Fedi Bhakti Patria

Manusia pasca-jomblo yang rindu menjadi jomblo

  • Rany Arvialita

    Jadi jomblo itu, cuma perlu yakin. Bahwasanya kehidupan manusia pasca jomblo kebanyakan cuma pura-pura bahagia.. Haha

  • maria handayani

    P*O*K*E*R*V*I*T*A
    D.8.E.B.7.E.6.B
    ##