Berita dan Artikel

Menghayati Kemerdekaan dengan Kesepian

M.H.Dharmakhusala
Ditulis oleh M.H.Dharmakhusala

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta,
Kau tak akan mengerti segala lukaku
karena cinta telah sembunyikan pisaunya.

Empat larik pertama puisi Kangen, W.S. Rendra, amatlah dalam maknanya bagi manusia jomblo se-Nusantara. Apalagi di bulan Agustus, bulan bersejarah bagi berdirinya negara, yang pada 17 besok, genap 70 tahun.

Kemerdekaan adalah anugerah, buah perjuangan berdarah para pahlawan bangsa. Tidak perlu berbicara data, berapa panjangnya pertempuran yang tak pernah surut melawan segala bentuk kesewenang-wenangan. Kukira kau cukup kenyang. Pertanyaan selanjutnya, Mbloo, sudahkah kalian bahagia setelah 70 tahun kemerdekaan diteriakkan?

Hah, bahagia? Apa itu? Seketika kau pasti nyinyir dengan pertanyaan absurd macam begitu. Jomblo tak pernah benar-benar mengerti apa makna bahagia bagi dirinya, selain memperjuangkan gebetan dan meneriakkan kemerdekaan dari atas panggung pelaminan.

Negara sudah merdeka, setidaknya secara yuridis, tapi kau masih saja merasa hampa. Masih terjajah luka lara, kisah-kisah yang tak henti mengembara yang selalu saja membayang di kepala. Rindu yang berderu tak pelak ikut mencuat dalam dada. Duh, Tuhan, peluklah aku! Kira-kira beginilah kesepian yang dimaksud Rendra, atau barangkali lebih sunyi lagi.

Kau jadi berpikir, lalu kembali membaca larik di atas. Renda benar, puisinya selalu jernih, sederhana namun memiliki kedalaman makna. Kau melihat sekujur wajahmu dalam cermin, apa sebab kejombloan yang tak pernah enyah dari wajah penuh luka ini? Kau membasuh muka dan kembali berkaca. Ah, sudahlah.

Hari ini, jangankan untuk mengajak berkenalan, untuk berkencan pun kau tak perlu banyak berpikir. Media sosial sudah bertebaran di jagat alam maya. Satu yang perlu dikuasai adalah sedikit trik. Trik bidik dan mbribik. Aduh, kalau soal trik begini, kukira kau perlu belajar sama Tri Em—konon ia adalah Mantan Playboy. Beliau tentu mafhum hal-hal begitu.

“Ini klise!” Kau tentu berkata demikian. Kau tidak keliru. Persoalan asmara tak bisa sepenuhnya dibawa pada pemikiran yang lurus dan serba logis. Justru, banyak hal-hal absurd yang sering muncul dan menjadi kemudi. Seperti pada larik Kangen berikutnya.

Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun dalam darahku.

Kau manggut-manggut, menyulut rokok dan meminum kopi sisa semalam. Jomblo adalah tentang kesunyian. Kau bisa saja punya gebetan disana-sini. Menjaga kemungkinan-kemungkinan satu dan yang lain. Namun bila satu waktu kau murtad dari falsafah kehidupan jomblomu dan memilih menikah, kau tinggal pilih salah satu. Tapi kesunyian tidak pernah menyingkap dari gerakmu. Apalah arti gebetan kalau tak mau diajak jadian. Kau menjerit, ada cicak di sisa kopi semalammu. Fakkk!

Tapi, ya sudahlah mblo. Kalaupun di usia 70 tahun kemerdekaan Indonesia, kau belum juga dapat pasangan. Tenang, yang perlu dipertahankan bukan semangat untuk jadian, tapi kemerdekaan itu sendiri, sebagaimana yang telah diperjuangkan oleh jomblo-jomblo revolusioner terdahulu.

Apabila aku dalam kangen dan sepi,
Itulah berarti aku tungku tanpa api.

Merdeka tetap merdeka. Sunyi dan sepi biar menjadi jalan kita. Itu kopinya diminum lagi, Mblo.

Tentang Penulis

M.H.Dharmakhusala

M.H.Dharmakhusala

Jomlo yang kepingin gondrong