Berita dan Artikel

Menjadi Jomblo Adalah Kemerdekaan yang Sejati

Azami Mohammad
Ditulis oleh Azami Mohammad

Seperti juga pada berbagai website atau media apa pun di Indonesia, saat menjelang hari kemerdekaan, maka semua orang seperti mempunyai kewajiban untuk membicarakan hal tersebut. Terserah nada yang muncul adalah sebuah kebanggaan, nasionalime yang tinggi, kritik yang tajam terhadap kemerdekaan, atau bahkan nyinyir. Pokoknya bicara soal kemerdekaan.

Begitupun dalam tulisan ini, juga bicara tentang kemerdekaan. Tentunya dikaitkan dengan persoalan kejombloan. Karena kalau tidak dihubungkan antara kemerdekaan dengan kejombloan, sudah barang tentu redaktur Jombloo Dot Co tak akan memuat tulisan ini, dan kata pertama yang muncul di pesan balasan email adalah “Maaf,” Kemudian dilanjutkan dengan kalimat “tulisan anda enggak ada hubunganya dengan jomblo. Tulis lagi yang bener yak!”

Sebelum menyambungkan dua kata antara kemerdekaan dengan jomblo, tentunya lebih afdol kalau kita kupas dahulu makna dari dua kata tersebut.

Jomblo, mungkin dapat diartikan sebagai seseorang yang tidak mempunyai pasangan dalam menjalani kehidupannya dan kesehariannya. Seseorang yang tak belum mempunyai pundak untuk disandari, seseorang yang tak belum mempunyai teman bercengkrama di Minggu sore, seseorang yang tak belum mempunyai teman yang bibirnya bisa diciumi dengan penuh semangat ’45.

Menjadi jomblo bisa jadi karena dua kemungkinan. Pertama karena memang dirinya belum laku, atau tidak ada yang mau menjadi kekasih hatinya. Kedua karena menjadi jomblo adalah pilihan dirinya secara sadar, berkeinginan untuk hidup sendiri. Untuk yang kedua ini, akan saya bahas pada paragraf berikutnya.

Sementara kata merdeka adalah sebuah kata yang sangat dalam maknanya. Sebuah kata yang dapat diartikan sebagai bebas, kebebasan, terbebas. Dalam konteks 17 Agustus tentunya adalah bebas, kebebasan dan terbebas dari belenggu penjajahan, kekejaman kolonialisme, sehingga dapat menentukan nasib bangsanya sendiri.

Dalam konteks dunia yang semakin liberal saat ini, ketika yang namanya penjajahan tidak lagi dapat dilihat dengan kasat mata, maka bebas, kebebasan, terbebas, adalah sebuah rasa yang dimiliki seseorang yang dapat melakukan apa saja yang dia mau, tanpa ada batas, tanpa ada kekangan, belenggu, aturan, norma, dan lain sebagainya.

Menyambungkan antara kemerdekaan dan jomblo, bisa jadi kemerdekaan yang sejati justru dimiliki oleh seorang jomblo. Mungkin bagi banyak orang, jomblo adalah seseorang yang layak untuk dibully karena ketika menunggangi motor, tak ada yang dibonceng. Seseorang yang layak untuk dibully karena tak punya kekasih hati yang bisa digandeng tangannya saat pergi ke acara kondangan teman.

Tapi bagi jomblo yang ideologis, yang memang memilih menjadi jomblo dan tak ingin mempunyai pasangan hidup, maka menjadi jomblo berarti dia telah menjadi orang yang merdeka. Tak ada lagi kekangan dari kekasih yang selalu mengawasi dan menanyakan “Kamu dimana? Dengan siapa? Selamam berbuat apa?” Tak ada belenggu yang mengharuskan menelepon di malam hari menjelang tidur hanya sekedar mengucap “Selamat bobo ya, sayang. Have a nice dream! :*” Tak ada lagi permintaan “Anterin aku ke sini dong, anterin aku ke sana dong,” Tak ada ajakan nonton film di bioskop di Malam Minggu, sementara pertandingan sepakbola sedang berlangsung antara Arsenal melawan Manchester United.

Seorang jomblo yang memilih menjadi jomblo akan menikmati hidupnya. Jika ia ingin mencium bibir seseorang, ia tinggal mencari dan meminta kepada orang tersebut. Diterima sukur, tidak diterima ya cari yang lain. Jika diterima pun, selanjutnya tak ada keharusan untuk kemudian menjadi kekasih hatinya usai berciuman. Ini sama seperti mensyukuri nikmat mempunyai seorang pacar. Punya pacar cakep syukuran, dapat pacar jelek syukurin.

Ketika Malam Minggu, jomblo yang merdeka itu bebas menikmati seluruh pertandingan sepakbola, di rumah atau nobar bersama teman-temannya. Dia bisa bekerja dari pagi sampai malam, tanpa ada keharusan pulang bekerja harus bertemu dengan kekasih. Dia bisa belajar terus-menerus sampai dia pintar, melanjutkan kuliah keluar negeri tanpa ada hambatan tidak bisa kuliah keluar negeri karena tidak bisa berpisah dengan kekasihnya.

Jika menyukai atau menginginkan sesuatu, si jomblo tinggal melakukannya atau membelinya. Jika ingin pergi naik gunung Rinjani, dia tinggal berangkat. Tanpa keharusan untuk berkompromi dengan kekasih yang lebih senang pergi ke pantai. Tak ada pula kewajiban paling memuakkan ketika tanggal 14 Februari, yaitu dengan memberikan coklat, bunga mawar, dan makan malam di restoran dengan lilin-lilin di atas meja.

Sebagai penutup tulisan ini, saya menyimpulkan bahwa menjadi jomblo adalah menjadi orang yang merdeka, menjadi orang yang bebas, menjadi orang yang tidak terikat dengan segala keharusan, menjadi orang yang dapat menikmati hidup sesuai dengan keinginannya. Merdeka, merdeka, merdeka!

Tentang Penulis

Azami Mohammad

Azami Mohammad

Doyan aksi meski sering dipukul polisi