Curhat

Mereka Yang Terpasung Kenangan

Liana Daliana
Ditulis oleh Liana Daliana

jombloo-nangis

Aku cinta padamu

Aku masih menyayangimu

Walau hanya di hati saja

Untuk selama-lamanya

-Rita efendi, Selamat Jalan Kekasih-

Barangkali kalau Marah Rusli masih hidup entah sudah berapa judul novel yang akan ia tulis dan akan dibaca oleh mereka yang menangis dalam diam. Entah, sudah berapa kali saya menghadapi situasi dimana saya sebagai Jomblo yang baik hati, menghadapi mereka yang terpasung kenangan.

Salah satu cerita, saya kenal dengan seseorang perempuan yang usianya sudah hampir mencapai kepala empat tetapi tak kunjung ingin naik ke pelaminan. Sebut saja Mbak Ning. Orang-orang jahil dan rese tentulah terus mempertanyakan mengapa ia sanggup menjomblo selama itu? Apa alasannya?

Begini, suatu malam yang sadis, saya menginap di rumah Mbak Ning dan jeng jeng jeng terungkap semua mengapa ia masih betah tidur sendirian. Sebab, Mbak Ning termasuk orang yang terpasung kenangan, mengharukan memang.

Ini adalah salah satu bukti betapa kenangan adalah hal yang paling mematikan melintasi abad dan zaman. Dengan kenangan orang bisa mendadak diam ketika mendengar nama sebuah kota. Atas nama kenangan juga, mereka yang hatinya rapuh selalu menangis melewati jalan yang dulu di lewati bersama sambil bergandengan tangan.

Lain kisah, ada seorang lelaki yang setiap jatuh bulan Mei ia selalu duduk di dekat jembatan Semanggi yang legendaris itu ketika Reformasi. Usut punya usut ternyata dia dulu bertemu cinta pertamanya disitu persis saat kerusuhan, cinta pertama yang kemudian menjadi istrinya.Meski akhirnya sang istri tercinta harus menemui Tuhan lebih dahulu, lelaki itu memilih terpasung kenangan dengan cara demikian.

Para korban ketidakadilan zaman, membuat wacana dengan judul “melawan lupa ” seolah siapa saja memang membuat ruang khusus untuk terpasung oleh berbagai macam ingatan dan kenangan yang membara. Duh Bang.

Semua orang pada muasalnya, memang terpasung kenangan. Konteksnya tak sempit menyoal hubungan dengan lawan jenis, lebih dari itu. Saat-saat kesepian di kost tercinta saya sering sekali terpasung kenangan oleh situasi membahagiakan di rumah.

Mungkin ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa sebagian besar populasi dunia adalah Jomblo, dengan alasan yang sama, sebagian jiwa dan tubuh mereka terpasung kenangan oleh Mantan yang barangkali sudah menggendong mahkluk gembil nan lucu.

Yah, apa mau dikata. Salah satu menjaga ingatan adalah dengan mengenang. Berbahagialah mereka yang terpasung kenangan.

Tentang Penulis

Liana Daliana

Liana Daliana

Agen Neptunus, suka berbuat hal-hal Gila dan Terpasung kenangan