Berita dan Artikel

Antara Gebetan dan Mantan

Indi Hikami
Ditulis oleh Indi Hikami

Jika Anda sedang melakukan kerja-kerja asmara macam pacaran, maka ada dua hal yang tidak dapat kita hindari. Yang pertama, anda gagal dalam mendapatkannya dan yang kedua adalah anda mendapatkannya namun gagal mempertahankannya. Dari dua keadaan tersebut maka sang pujaan mendapatkan gelar yang berbeda pula. Yang pertama dia mentok hanya sebatas gebetan dan yang kedua dia kita bisa beri julukan mantan.

Ada satu kesamaan dari dua keadaan diatas yaitu kenangan. Meskipun sebatas gebetan, pastinya anda juga punya kenangan manis saat pertama kali mengajaknya kenalan meski kadang tak banyak yang menjalani fase kenalan seperti di FTV. Lalu ada kenangan dag-dig-dug-der saat mengajak jalan si dia hingga waktu tak terlupakan, kala ia memberikan harapan-harapan yang ujungnya adalah harapan palsu belaka.

Sedangkan mantan, meski banyak yang bilang tahapnya setingkat diatas gebetan toh pada akhirnya tetap sama, mereka hanya menjadi kenangan bagaikan debu yang ditiup angin entah kemana. Disisi lain, kenangan mantan lebih menyakitkan anda pernah menjalin asmara bersama. Sedangkan gebetan yang gagal dijadikan pacar justru menjadikanmu lapuk dan memperparah rekor ditolak cintanya. Aduh macam Hanamichi Sakuragi saja yang 50 kali ditolak cintanya.

Masalahannya, dalam kesendirian anda berusaha untuk berdiri tegar diatas karang-karang tafsiran lebay pemaknaanmu akan cinta. Pada heningnya malam dan perut yang keroncongan, kadang jomblo membuat pembenaran dan pledoinya sendiri tentang cintanya yang kandas. Kadang ada yang diterima nalar atau kadang juga ada yang sebaliknya. Dibalik pembenaran dan pleidonya itu si gebetan atau mantan justru dibawa-bawa dan dijadikan kebanggaan.

Bagi yang suka membanggakan gebetan atau penganut paham gebetanisme, meski jumlahnya tidak banyak namun sekiranya cukup menjadi kompetitor Teman Ahok, ups. Gebetan adalah segalanya dalam kehidupan. Mereka akan berjuang dengan teguh untuk mendapatkan kembali harapan-harapan yang pernah hancur dalam sebuah kalimat “Maaf, kita temenan aja yah” atau “Kamu terlalu baik buat aku.” Para penganut gebetanisme yakin bahwa ada secercah harapan untuk jadian meski website taruhan tak mau spekulasi memasang jomblo untuk menang.

Hebatnya, Penganut Gebetanisme yakin bahwa senyum senyum yang pernah terbingkai untuk mereka masih merupakan dasar pijakan teoritis yang ampuh untuk memastikan bahwa si gebetan suka padanya. Padahal sudah dijelaskan dalam artikel sebelumnya bahwa ada banalitas dibalik senyum dan harapan-harapan manis yang diumbar dari gebetan anda itu. Dan kasus tersebut bukan hanya terjadi satu atau dua kali, ini bahkan sudah menjadi situasi kebangsaan yang serius. Saya sendiri saja pernah merasakannya, kasihan.

Di sosial media, meme, kelakar yang dilontarkan comic, pelawak hingga politisi. Mantan adalah hal yang ampuh menyentuh hati jomblo. Untuk yang kedua ini kita beri sebutan penganut Mantanisme. Para penganut mantanisme sepakat bahwa tak ada yang lebih indah di dunia ini selain mantan. Banyak dari mereka yang hipokrit karena sok-sokan moving on dari masa lalu tapi masih ngigau nama mantan dalam mimpi-mimpinya.

Penganut mantanisme sedikit lebih populer ketimbang gebetanisme, coba cek saja di website ini seberapa banyak tulisan tentang mantan ketimbang gebetan. Bahkan ajaibnya, penganut mantanisme dari satu mantan yang sama ini bisa akur dan menghimpun hingga membuat satu grup whatsapp. Bahkan dari mereka melakukan perkumpulan hingga kegiatan bakti sosial. Pemandangan unik ini tak dapat kita saksikan pada penganut gebetanisme, karena jika diantara mereka ada yang mempunyai satu gebetan yang sama maka deklarasi saingan akan terus dilanjutkan. Betapa menyedihkanya.

Dari gebetanisme dan mantanisme anda sebagai jomblo bisa memilih mana haluan politik asmara yang anda anut. Cinta pun punya ruang demokratis, jika anda menganut gebetanisme sebagai landasan asmara maka jalanilah. Namun, tak ada ruginya bergabung satu grup whatsaap dengan orang yang punya mantan sama dengan kita dan menjalani hari sebagai penganut gebetanisme. Atau anda seseorang yang pemalu, tidak punya keberanian, takut berusaha untuk cintamu maka saran saya anda bergabung dengan penganut paham yang ketiga yaitu, Idolisme!

Tentang Penulis

Indi Hikami

Indi Hikami

Mahasiswa tingkat akhir yang terus mengenang betapa indahnya hujan di CInere

  • zeth warouw

    bacanya sambil tertawa dan menitikan air mata

    • Aditia Purnomo

      sungguh curhatan tersendiri

  • Pratiwi

    paragraf pembukanya asik. paragraf kedelapan menohok. boleh diaplikasikan. semacam arisan bersama barisan para mantannya mantan. ohoks!

    • Aditia Purnomo

      arisan mantan, kek siap aja ketemu mantannya mantan

      • Pratiwi

        UDAH PERNAH!!!!!

        • Aditia Purnomo

          Terus gimana, masih kuat apa udah melambaikan tangan ke kamera?

  • Aditia Purnomo

    tulisan milord, yawlaa~~

  • Pingback: Belajar dari Gayus - jombloo.co()