Berita dan Artikel

Di Balik Wisuda Seorang Jomblo

Jati Setya
Ditulis oleh Jati Setya

Belum lama ini, jagad maya tempat saya biasa ngepoin gebetan berkeliaran, penuh oleh coverboy-covergirl dadakan. Mereka sama-sama adu kompak mengenakan jubah hitam yang familiar kita sebut toga. Senyum mereka yang ngalahi senyum pemilik tagline ‘isih penak jamanku to?’, menghiasi tiap sudut instagram. Pernak-pernik aksesori pun turut serta memeriahkan. Mulai dari selempang cumlaude, bunga-bungaan, boneka-bonekaan, sampai dengan pendamping wisuda-wisudaan. Uhuk!

Mendengar embel-embel ‘pendamping wisuda’, saya yakin calon-calon wisudawan jomblo macam kalian pasti gerah. Saking gerahnya, belio ini pun berkilah ndak berani wisuda kalau belum ada gandengan. Halah. Semua juga tahu lah ya, itu hanya sebatas alibi doang. Eh. Tapi, memang benar kok ya, wisuda selalu berubah menjadi suram ketika jomblo yang berbicara. Haha.. jomblo.. jomblo..

Tapi tenang aja, Mblo, saya ada sebuah quotes tjakep dari Gobind Vashdev yang bisa ngepukpuk kondisimu itu kok. Dengerin nih ya, “Indahnya kehidupan bukan terlihat dari mata yang memandang, telinga yang mendengar, atau lidah yang mengecap, namun terdapat pada arti yang kita letakkan pada setiap momen kejadian hidup ini”. Dengan kata lain, indahnya kehidupan seorang jomblo (salah satunya) terdapat pada arti yang kita letakkan pada momen macam wisuda ini.

Bingung apa bingung?

Jadi, gini lho, Mblo, asal kamu sadari, proses yang mengiringi wisudamu itulah sebenarnya letak keindahan hidup itu. Coba deh inget masa lalumu bersama mantan dosen-dosen pembimbing. Betapa jahatnya mereka menolak judul demi judul yang kamu ajukan. Betapa kejamnya revisi demi revisi yang mereka sodorkan. Betapa tidak pedulinya mereka dengan kesabaranmu menunggu di depan ruang kerjanya. Betapa abainya mereka pada seluruh pengorbanan demi pengorbananmu. Betapa acuhnya mereka dengan sapaan ‘selamat pagimu’ dalam tiap pesan singkat yang kau layangkan. Ini ngomongin dosen apa gebetan sih?

Andai kamu tahu, Mbloo, dibalik penolakan demi penolakan cintamu judul itu, Tuhan tengah mengarahkanmu pada jodoh sebuah judul yang memang sudah digariskan buatmu melalui tangan-tangan dingin si doi dosen. Ini berlaku lurus dengan kehidupan cintamu. Berapa kali kamu ditolak sama gebetan, hah? Lima kali? Sepuluh kali? Nggak perlu minder, itu mah kebangetan, yakinilah bahwa penolakan demi penolakan itu adalah rambu-rambu Tuhan untuk mengarahkanmu pada si pemilik pasangan tulang rusuk sejati. Eya!

Tak sekedar di situ, Mbloo, proses wisuda juga mengajarkanmu kesabaran. Saya tahu betapa hancurnya hatimu manakala di pagi yang masih menggeliat, si doi dosen yang kau tunggu dengan penuh harap itu, datang tanpa sekelebat pun mengendus keberadaanmu. Lebih hancur lagi ketika kau memutuskan untuk menunggunya hingga sore dan kau dapati petir mendadak menyambar, ‘Maaf, saya tidak ada waktu. Coba besok, tapi saya tidak janji, ya!’. Duh Gusti, lengkap sudah derita jomblo!

Tapi tenang, Mbloo! Selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. PHP dosen seperti itu mengajarkanmu hakikat kesabaran. Percaya deh, meski di PHP dosen berkali-kali, waktu akan mengantarkanmu pada sebuah titik pembebasan. Ya, wisuda. Permasalahannya adalah waktunya kapan? Gitu kan? Hehehe. Jawabannya ada dalam quotes berikut Mblo, “Usaha berbanding lurus dengan hasil”. Ya, usaha. Makin keras kamu berusaha, insya Allah makin cepet pula hasilnya. Ini berlaku juga untuk PHP mantan maupun gebetan, ya.

Gimana, Mbloo, dari sedikit ulasan ini, kamu sudah bisa menemukan letak keindahan hidup di balik wisudanya seorang jomblo, kan? Hehe. Atau mungkin justru mau menambahkan?

Tentang Penulis

Jati Setya

Jati Setya

Jati Setyarini. Jomblo harapan mertua. Cinta Allah, Rosul, dan kamu.

  • Teguh Irawan

    Mba jati tulisanmu itu mba.. Duh bikin cengar-cengir sendiri

    • jati setya

      wkwkwkwkwk 😀

  • Kustanti Eka Saputri

    Jatiiii….. Suka bgt tulisanmu udh q share d fb

    • jati setya

      maaci yaa Princess :*

  • Pratiwi

    duh, jadi ngidam tulang rusuk *gagal fokus!

    • jati setya

      tulang rusuk yg di piring apa di kamar tidur, mba? wkwkwkwkwk 😀

      • Pratiwi

        hah? kamar? waaahhhhhhhhhh

  • maria handayani

    P*O*K*E*R*V*I*T*A*
    D*8*E*B*7*E*6*B
    #