Curhat

Gus Mul, Junjungan Sufisme Jomblo

Edi AH Iyubenu
Ditulis oleh Edi AH Iyubenu

Siapa yang tak kenal Gus Mul (Agus Mulyadi), pastilah ia kurang wara’. Saya bahkan hendak menyerukan bahwa mengenal beliau, setidaknya tahu siapa beliau dan tulisan-tulisannya, merupakan salah satu jalan (tarekat) kekinian menuju level makrifat; dari makrifat keluhungan jiwa hingga makrifat kejombloan.

Ini bukan narasi main-main!

Saya termasuk sedikit orang yang mujur lantaran berhasil berkenalan langsung, bersalaman, dan menikmati seduhan teduh senyumannya. Senyuman yang amat bening, putih, tulus, suci; senyum yang niscaya terbit dari kebeningan jiwa, keputihan jiwa, ketulusan jiwa, kesucian jiwa, hingga kebelingan jiwa. Anda tahu beling, kan? Ambil gelas sekarang juga, lalu lemparkan sampai serak, lalu ambil sepotong pecahannya, dan julurkan ke arah cahaya matahari. Akan memancar pendar-pendar cahaya aneka rupa yang amat indah bak pelangi. Nah, begitulah gambaran dari maksud diksi saya “kebelingan jiwa”.

Itu baru bab senyum.

Sekarang mari saya dedahkan bab jiwanya. Dari sekian buku dan kitab sufisme yang saya baca, sebutlah Al-Hikam Ibnu Atha’illah al-Iskandary, Ihya’ Ulumiddin Imam Ghazali, hingga Sirrul Asrar Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, rata-rata memiliki pijakan pondasi sufisme yang identik. Kerucut identiknya ada pada pemaknaan zuhud. Saya kutip klasifikasi zuhud ala Imam Ghazali di sini.

Pertama, zuhud paling rendah ialah takut pada siksa Allah, neraka-Nya, serta segala kekurangan dan kemelaratan di dunia. Jadi orang yang beginian akan beribadah, misal, semata untuk menyelamatkan diri dari ancaman siksa akhirat dan menarik rezeki sebanyaknya agar hidupnya tak sengsara.

Saya kira, jika dibutuhkan contoh nyata di sini, sosok macam Tri Em bisa diterakan. Wajar bila Tri selalu bersolek sedemikian pikatnya bagai Don Juan demi menggebet Hawa-Hawa berikutnya, untuk dijadikan mantan lagi dan lagi. Tri yang piawai mencetak mantan sangat waswas akan menderita hidupnya bila tak dekat wanita, tidak ada gebetan, tidak menambah skor mantan ke-74 dan seterusnya. Apakah Tiwi hendak menjadi yang ke-74 itu? Wallahu wa Tri wa Tiwi a’lam bis shawab.

Kedua, zuhud menengah ialah gemar beribadah dalam maksud mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Berbuat amal-amal baik demi menimbun gudang-gudang pahala.

Saya kira, jika Anda membutuhkan contoh konkret di sini, sosok macam Adit Dipantara layak dijadikan representasinya. Ia orang baik, murah senyum, begitu ramah. Segala kebaikannya patut diapresiasi; menimbun pahala-pahala yang bukan saja berskala spiritual, tapi sekaligus sosial. Anda yang suatu kelak bisa bertemu dan berkenalan sama Adit pasti akan merasakan pancaran gunduk-gunduk pahalanya yang bertimbun. Tri, saya kira, perlu meneladani Adit agar bisa naik ke level zuhud menengah ini.

Tetapi “gangguan” Adit untuk diletakkan di level zuhud ketiga, dalam amatan saya, ialah betapa cemasnya ia sama skripsi. Boleh jadi naluri kebaikan Adit akan begitu pamrih pahala di depan dosen pembimbingnya. Dalam ketegori sufisme Abdul Qadir al-Jailani, Adit “masih” seorang murid, bukan murad.

Ketiga, zuhud yang sama sekali tidak bertendensi apa-apa. Semua hanya demi Allah; untuk-Nya; pada-Nya. Mau senang atau bahagia, punya uang atau tidak, pokoknya semua hanya untuk-Nya. Dalam ucapan Malik Chandra disebut “suwung”, kosong, bukan nol. Ya, kosong saja. Dalam ungkapan Al-Hikam, kondisi zuhud ini dinarasikan dengan: “Aku lebih memilih Diri-Nya daripada Surga-Nya.”

Di titik inilah Gus Mul berada; mengejawantah. Maka jelas saja lewatlah level Adit, apalagi Tri. Segala kebaikan Adit yang ramah juga dikantongi dengan sangat baik oleh Gus Mul. Gudang-gudang pahala tentu sudah mbleber di jiwa Gus Mul.

Silakan Anda saksikan sendiri di blog-nya, atau tweet-tweetnya, betapa tak pernah ada “tendensi” apa pun pada diri Gus Mul. Wajarlah karenanya ia selalu memancarkan riang, senang, bahagia. Deretan energi positif yang tentu saja akan sangat sembada menyinari ruang-ruang sekitarnya. Orang-orang pun menyenanginya, menyukainya, dan menjunjungnya, termasuk saya.

Mau sedang di-bully sama teman-teman dekatnya di Angkringan Mojok, Gus Mul tetap tertawa memancarkan energi psotif senyumannya. Mau diabaikan cewek-cewek di usianya yang ke-24 ini, Gus Mul tetaplah senyum Pepsodent. Mau lagi kehabisan air di kampungnya gara-gara kemarau, Gus Mul senantiasa bersahaja di pertapaannya di lantai dua.

Sampai di sini, sudah seyogiayanya semua kita tercambuk bermalu hati pada Gus Mul bila masih saja gemar meratap, merengek, apalagi mengemis cinta. Gus Mul adalah junjungan nyata sufistik kekinian, bukan sekadar taushiyah, bahwa menempuhi hidup menjomblo bila dilandaskan pada jiwa yang penuh makrifat, suwung, adalah jawaban paling meneduhkan atas segala problematika kawula muda.

Jika kalian sampai menemukan Gus Mul tidak tersenyum, kemungkinannya hanya dua: beliau lagi sakit gigi atau sebentar lagi kiamat.

Salam takzim Paduka Sufi, Gus Mul….

Tentang Penulis

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Rektor Kampus Fiksi dan calon doktor Islamic Studies yang setiap Sabtu malam setia menghibur kaum jomblo dengan tagline “Aku Peduli Maka Aku Ada”. @edi_akhiles

  • Aditia Purnomo

    Jadi ka tiwi udah siap jadi mantan ke 51 emon?