Tips

Jomblo Desa Cari Jodoh

Fakhruddin
Ditulis oleh Fakhruddin

Dalam hal mencari jodoh, cara jomblo desa cari jodoh beda dengan di tempat lain. Lha gimana nggak beda, wong dari kepedean nembak cewek aja pas-pasan, apalagi soal ngajak gebetan jalan? Walaupun tingkat percaya dirinya kurang, jangan salah… daya juang jomblo di desa patut kita perhitungkan.

Posisi jomblo di desa semakin terjepit dengan tayangan tivi yang enggak jelas, misal reality show Melamar. Lha gebetan saja enggak ada, kok ya jomblo di desa perlu ngomongi soal putus? Di kota, mungkin para jomblo bisa dengan mudah menyerap ilmu di tivi, yang mana sekadar untuk menyenangkan hati gebetan. Sebut saja acara melamar, yang memberi inspirasi para jomblo di kota untuk berkhayal; bagaimana cara melamar pasangan saat sedang makan di pinggir jalan. Namun bagi jomblo di desa, hal itu nggak mungkin ia lakukan. Jangankan melakukan, berkhayal saja enggak kepikiran gimana susahnya.

Bagi jomblo di kota, acara ngelamar kayak gitu emang kelihatan romantis, hingga menimbulkan rasa pengen di dada. Tapi buat jomblo di desa, bisa-bisa nggak ada yang lihat, lalu hilang deh momen romantisnya. Kalau toh ada yang lihat, bukan perasaan takjub yang muncul, namun mereka pasti bilang “Lapo to masss” atau “Apa sih, Mas?” Iya kalau diterima? Kalau ditolak? Jomblo di desa malah bisa malu tujuh turunan!

Di acara melamar itu, si cowok biasanya ditantang untuk melakukan sesuatu. Pernah suatu sore saya lihat acara ini, sang cowok ditantang sama kru tivi-nya untuk lari dari rumah ke lokasi penembakan. Ya ilah, baru lari segitu doang saja sudah luluh hatinya. Bagaimana bila si cewek menyaksikan langsung aksi Pak Kusno Hadi (66) dan anak bungsunya yang bernama Erik Setianam Putra (19), yang jalan mundur dari Malang ke Jakarta untuk memberikan ucapan selamat kepada Pak Jokowi saat dilantik menjadi presiden pada tahun lalu. Bukan lagi luluh, mungkin si cewek langsung minta kepada Pak Kusno untuk dijodohkan dengan anaknya.

Lain cewek kota, lain cewek di desa. Cewek-cewek di desa tiap hari lihat cowok yang pegang traktor buat bajak sawah keluarganya, kemudian juga sering lihat cowok jalan kaki mondar-mandir di ladangnya seharian buat nanem jagung. Sehari-hari cewek-cewek di desa melihat cowok angkat beban, dengan keringat bercucuran yang disebut cewek kota sebagai ‘seksi’. Jadi kayaknya nggak mempan deh kalau pengorbanannya cuma lari doang.

Kalau nasib lagi bagus, ketika dikasih nomor telepon oleh kawannya di desa, saat menelepon seorang cewek, ia menerima suara yang syahdu. Di saat itulah jomblo desa udah kayak orang gokil, tiap hari senyum-senyum sendiri sambil mandangin benda kotak bernama hanpdhone itu. Kerjaannya selanjutnya adalah sms-an, anehnya si cewek juga asik-asik aja tuh. Tahap selanjutnya adalah kopi darat, kalau cocok, bungkus bray!

Penasaran gimana caranya kenalan dengan cewek lewat telepon? Cobalah mengawali telepon dengan kalimat “Mmmm… Ini mbak Rini bukan?” Kalau dijawab bukan, maka selanjutnya tanya “Kalau gitu sama siapa?” Keren? Iyalah! Ini yang disebut kualitas perjuangan jomblo desa.

Tapi kalau lagi apes, kalau yang nerima bukan cewek bersuara lembut nan empuk, gimana dong? Ya tinggal diputus saja teleponnya. Wong kata Ahsan Ridhoi, jomblo aja kok repot? Akhirnya benda kotak inilah yang mengubah perilaku jomblo desa untuk nyari jodoh.

Anda tertarik? Ingin mencoba jalan yang ditempuh oleh jomblo di desa? Itu terserah anda!

Tentang Penulis

Fakhruddin

Fakhruddin