Berita dan Artikel

Kesehatan Hatimu Lebih Penting Ketimbang Prestasi Klub Idolamu

Maka dari itu, sebelum kalian mati-matian ngeyel dan berjibaku dalam membela kehormatan klub sepakbola yang kalian cintai, ada baiknya kalian memperhatikan rekam jejak asmara dan hati yang terlampau lama sudah kering tanpa disirami bulir-bulir cinta. Kesehatan hatimu lebih penting daripada prestasi Barcelona atau Real Madrid, bro!

Anda boleh menjadi Ultras atau Hooligans, anda juga boleh dengan bangga menyerukan hari Sabtu dan Minggu di akhir pekan sebagai harinya sepakbola, tapi tanpa mengurangi sakral dan esensialnya nikmat menonton sepakbola, sebagai fans anda juga perlu tahu dan sadar beberapa hal. Khususnya, tentang pentingnya punya pacar sebagai fans sepakbola.

Urgensi pacar bagi fans sepakbola mungkin setara dengan krisis gelar Liga Inggris yang dialami Arsenal sejak 2004, atau absennya duo Milan di Liga Champions Eropa dalam 2 musim terakhir. Krisis ini tidak bisa diabaikan karena menyangkut harkat dan martabat kelangsungan hidup fans sepakbola dalam mendukung kesebelasan yang dicintainya.

Jangan sampai sepakbola digunakan sebagai tameng pelindung untuk menjustifikasi bahwa Sabtu malam saat yang hanya tepat untuk nonton bola dan bukan keluar sama pacar atau gebetan. Tolong jangan sampai seperti itu. Itu menyedihkan! Itu bukan cermin generasi muda bangsa yang progresif. Setidaknya, progresif dalam urusan mencari pasangan dan kebutuhan yang-yangan. Sepakbola yang katanya suci dan sakral itu jangan sampai jadi alat propaganda kalian para maniak bola nan jomblo yang berlindung pada gemerlapnya sepabola Eropa di tiap akhir pekan.

Sepakbola memang memberi magnet yang luar biasa bagi pecintanya. Jangankan hanya untuk menonton, membela klub yang dicintai pun bisa sampai ngeyel saking ndak mau kalahnya berargumen dalam menjaga harkat dan martabat klub yang dicintainya. Padahal kalo mau jujur, klub sepakbola itu ndak ada urusan kalau sampeyan masih bisa makan atau tidak hari ini. Jangankan mikir bisa makan, mosok klub sekelas Real Madrid atau Barcelona mau mikir fansnya punya pacar atau ndak, ya to? Urgensinya apa kalian punya pacar atau ndak dengan performa Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo di lapangan?

Maka dari itu, sebelum kalian mati-matian ngeyel dan berjibaku dalam membela kehormatan klub sepakbola yang kalian cintai, ada baiknya kalian memperhatikan rekam jejak asmara dan hati yang terlampau lama sudah kering tanpa disirami bulir-bulir cinta. Kesehatan hatimu lebih penting daripada prestasi Barcelona atau Real Madrid, bro!

Kangmas Bacary Sagna yang rambut dreadlock­-nya jadi simbol maskulinitas menurut Bro Eddward Kennedy saja punya istri secantik dan semontok Ludivine, sampeyan kapan bisa gitu? Di saat sampeyan mati-matian mendukung dan membela Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo, banyak mbak-mbak cantik nan kinyis-kinyis yang kalian abaikan. Padahal Lionel Messi yang kalian puja-puja itu sudah punya istri dan baru lahiran anaknya yang kedua, lha sampeyan? Gebetan aja ndak punya apalagi mikir punya pacar terus menikah, ya to?

Kalau nasib baik adalah tidak dilahirkan, kata Soe Hok Gie suatu waktu, berarti nasib buruk adalah fans sepakbola yang seumur hidupnya mikir bisa hidup terus dengan sepakbola dan melupakan kebutuhan lahir dan batin untuk punya pasangan.

Bisa dengan gagah pasang tagar di media sosial  #YNWA atau #ForzaMilan tapi ndak punya pacar itu kok rasa-rasanya agak wagu gimana gitu lo ya, ya ndak? Karena sebaik-baiknya nasib, adalah mereka yang dilahirkan, lalu mencintai sepakbola dan dicintai pacarnya. Apalagi pacar yang tiap minggunya bisa nemenin untuk sekedar nonton bareng sambil yang-yangan.

Nah, jadi kapan sampeyan bisa punya nasib gitu? Ingat, nonton bola itu ndak salah, yang salah adalah terlalu asyik nonton bola dan lupa untuk kembali ke realita dan menyadari betapa pedihnya nasib kalian sebagai jomblo. Karena sesungguhnya, fans sepakbola yang militan dan revolusioner pun wajib butuh WAGS (Women and Girlfriends).

Tentang Penulis

Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Isidorus Rio Turangga Budi Satria

Pria handal memasak. Hampir punya pacar.