Curhat

Ketika Mantan Merengek Kangen

Nisrina
Ditulis oleh Nisrina

Seorang jomblo belum tentu punya mantan. Tapi mantanlah yang menyebabkan seseorang menjomblo. Hukum sadis mak jleb ini tidak terdapat di kitab-kitab tebal filsafat karangan Aristoteles maupun Plato.

Seorang jomblo belum tentu punya mantan. Tapi mantanlah yang menyebabkan seseorang menjomblo. Hukum sadis mak jleb ini tidak terdapat di kitab-kitab tebal filsafat karangan Aristoteles maupun Plato. Seorang jomblo sudah pasti tahu. Mantan adalah seseorang yang pernah hadir dalam hidup kita, bersama kita menikmati hari-hari bersama sehari, dua hari, sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun, sebatas mimpi jika memang tidak pernah kejadian.

Di saat itu, kita menyebutnya Kekasih, Sayang, Kakanda, Adinda, Mimi, Pipi, Jelek, Item, Jenong, dan sebagainya. Ketika di depan umum, kita menggandeng tangannya, menatapnya penuh kemesraan dan hebatnya tak pernah kelilipan, membayarkannya makanan (kalau Anda lelaki sejati), mendengarkan curhatannya (kalau Anda perempuan perasa), mengantar jemput (kalau Anda pacar sejati), sampai memandikan hewan peliharaannya.

Lalu ada masa periode indah itu berakhir dengan kata PUTUS. Putus sejatinya adalah sebuah kesepakatan bersama, hasil dari perenungan di malam-malam yang hening setelah menyadari adanya ketidakcocokan, ketidakberesan, ketidaksetiaan, ketidakadayangantarjemput lagi, ketidakadayangmembayarmakanan lagi, ketidakadayangmendengarkancurhatanlagi, dan… silakan dilanjutkan sendiri.

Putus memang bisa nyambung, seperti kata ayahnya Rafathar dan grup vokal all stars-nya itu. Hubungan percintaan memang tidak seperti layang-layang yang ketika putus sebaiknya iklaskan saja ketimbang ngejar sampai desa sebelah eh ternyata nyangkut ke tiang listrik. Hubungan itu dasarnya adalah komunikasi. Jika komunikasi bisa diperbaiki, logikanya hubungan pun demikian.

Sebagian orang berpikiran untuk menafikan. Putus bisa menjadi akhir segalanya. Maksudnya akhir kebersamaan dengan orang itu. Status facebook pun diubah, menjadi single, lajang, jomblo, sendiri, kesepian, haish! Bagi yang gengsian, status facebook bisa jadi malah diubah menjadi tunangan bahkan menikah. Setelah itu tutup akun karena inbox dibanjiri pertanyaan teman-teman yang protes karena nggak diundang.

Jomblo adalah cobaan hidup. Ditambah merantau pula. Jauh dari sanak keluarga, apa-apa kudu sendiri. Memang tidak ada yang salah dengan menjomblo, apalagi merantau. Seorang jomblo biasanya memiliki ketahanan mental luar biasa. Karena sebagian besar penghuni RT 5 dunia ini TIDAKLAH JOMBLO! Dan mereka yang tidak jomblo itu tidak tahan jika tidak menguji mental para jomblo dengan satu pertanyaan yang aduhai: Kapan kawin lu, Mblo? Satu pertanyaan penting yang tebersit di benak saya, mengapa harus “Mblo”? Kenapa nggak “Ngle” atau “Jang”? Apakah untuk mengukuhkan kehinaan jomblo dibandingkan single atau lajang?

Cobaan lain yang juga datang kepada jomblo adalah hadirnya kembali si M alias mantan dari pintu ke mana saja sosmed, SMS, BBM, WA dengan satu pesan singkat: I miss you lalu ditambahi serentetan emoji genit-genit masa pacaran dulu mengalahkan panjangnya rentengan kopi Goodday di warung-warung kelontong tepi jalan. Pesan itu lantas membuat kita seperti menekan tombol pause. Mulut menganga, mata mendelik, tangan gemetar.

Oke, terasa begitu alay, tapi begitulah yang melanda jomblo jika si mantan yang tempo dulu sudah berlalu dari hidup kita lalu datang dan bilang kangen. Apakah dia tidak berpikir bagaimana jika yang membaca pesan itu adalah pacar baru, suami, istri, atau wartawan tabloid gosip gocengan (semisal Anda seleb gituh) yang berpotensi memicu perang di kemudian hari? Tidakkah dia memikirkan dampak psikologis yang ditimbulkan akibat dari SMS mantan yang sedemikian janggal bin awkward, semacam menggalau risau dan malas makan di angkringan?

Berpikirlah sebelum bertindak, Tan! Kau, ya, kau!

Tolong, biarlah jomblo menikmati kebahagiaannya, fantasi-fantasinya, kreasi-kreasinya, dan basabasinya. Dunia ini menjadi lebih berwarna dengan adanya para jomblo.

I miss you not, Tan.

Send.

Tentang Penulis

Nisrina

Nisrina

Penggemar House of Cards dan Orange is the New Black, penyuka angka 9, pengendara motor yang patuh lalu lintas. Web: tapakrantau.web.id