Berita dan Artikel

Memanfaatkan Galau sebagai Energi Alternatif

Aditia Purnomo
Ditulis oleh Aditia Purnomo

Presiden Jokowi bererta para pembantunya sedang pusing memikirkan cara agar target pengadaan listrik 35 ribu watt. Rizal Ramli, menteri baru yang diangkat pak presiden bukannya memberi solusi malah ngerecoki kinerja kabinet. Mirip-mirip lah sama mantan kalau diajak curhat, nyaraninnya cepet putus. Pengen balikan dia.

Dari semua beban itu, pemerintah sudah melakukan beberapa kajian terhadap sumber energi alternatif untuk memenuhi target. Bisa memanfaatkan panas bumi, bisa pakai angin, atau sinar matahari. Tapi dari semua energi ramah lingkungan tadi, pemerintah agaknya condong memilih nuklir sebagai energi alternatif penyelamat listrik kebutuhan rakyat.

Pemerintah agaknya lupa bagaimana kejadian di Fukushima dan Chenorbyl, dimana pemanfaatan energi nuklir amat membahayakan manusia. Bahkan dampaknya, jauh lebih berbahaya daripada mantan. Efek dari radiasi nuklir yang bocor bukan saja mematikan, tapi juga menghancurkan.

Nuklir ini memang ibarat gebetan. Menarik, cakep, dan layak dipacari. Sayangnya, karena standarnya yang terlalu tinggi, akibatnya tentu berbahaya buat kita yang pas-pasan. Loh, Indonesia pun gitu dalam perkara nuklir. Negara yang luar biasa disiplin dan maju macam Jepang aja gagal menaklukan nuklir, apalagi Indonesia. Mbok ya sadar.

Karena itu, ketimbang menggunakan Nuklir sebagai energi alternatif, ada baiknya kita memikirkan energi yang pasti terbarukan dan tidak akan habis. Yap, energi tersebut adalah energi galau.

Kenapa galau layak dijadikan energi alternatif, jelas karena tenaga yang dihasilkan dari kegalauan amat besar. Lihat saja, seseorang yang galau karena putus dengan mantannya sanggup bepergian anik motor Jogja-Lombok hanya untuk menangis sesenggukan di tepi pantai, lalu pulang lagi ke Jogja dengan membawa kenangan. Ini serius ada loh.

Atau ada lagi, seorang pengamat media muda yang dengan berani menerobos zona aman untuk melihat erupsi dari dekat, jelas setelah Ia putus dengan kekasih tercintanya. Dari dua contoh tadi kita bisa melihat, bagaimana kekuatan galau bisa membuat dua orang macam Nuran Wibisono dan Wisnu Prasetyo itu mendapatkan kekuatan untuk melakukan hal yang tak lazim.

Ya kalaupun belum sampai melakukan hal-hal tadi, energi galau pun bisa membuat orang untuk berkarya. Ada yang bisa membuat puisi, lagu, cerpen, atau minimal buat tulisan untuk Jomblo Dot Co. Oke deh, mentok-mentok galau bisa sumber energi untuk menghasilkan air mata.

Jadi, ketimbang menjadikan galau sebagai hal-hal yang dianggap negatif  karena kemurungan dan kesedihan, lebih baik kita maksimalkan potensi galau ini sebagai energi alternatif untuk menggerakkan kehidupan masyarakat.

Kalaupun belum bisa menghasilkan listrik, galau bisa membuat orang melakukan hal-hal yang tak terduga. Bisa saja nanti, orang-orang yang galau memilih menggunakan moda transportasi umum macam bis agar bisa termenung memandangi jendela sambil menitikkan air  mata. Toh ini bisa jadi alternatif mengatasi persoalan kemacetan.

Jadi ayo galau berjamaah.

Tentang Penulis

Aditia Purnomo

Aditia Purnomo

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa.