Tips

Perjodohan sebagai Solusi Krisis Asmara

Ihsan Ariswanto
Ditulis oleh Ihsan Ariswanto

Kalau semua solusi yang biasanya ditempuh (kenalan-pendekatan-pacaran/taaruf-menikah) tidak juga membuahkan hasil, ada baiknya mulai menggunakan bantuan pihak ketiga, yaitu perantara perjodohan.

Merana karena belum mendapat jodoh memang efeknya luar biasa buruk bagi kesehatan mental dan fisik kamu, terutama bagi yang sudah cukup umur dan berpenghasilan. Kalau semua solusi yang biasanya ditempuh (kenalan-pendekatan-pacaran/taaruf-menikah) tidak juga membuahkan hasil, ada baiknya mulai menggunakan bantuan pihak ketiga, yaitu perantara perjodohan.

Banyak yang gengsi dengan solusi perjodohan ini, padahal jika melalui jalur yang tepat, tidak jarang malah bisa mendapatkan jodoh yang lebih unggul dibandingkan mencari sendiri.

Kamu bisa memilih jenis-jenis perjodohan yang sesuai dengan kondisi kamu saat ini. Berikut pilihannya, silakan disimak.

Dijodohkan Keluarga

Marah Rusli boleh dikatakan telah membangkitkan sikap perlawanan terhadap perjodohan keluarga yang dahulu kala menjadi adat di banyak daerah. Melalui novel Siti Noerbaja, dikesankan bahwa jika kamu dijodohkan, jodohmu adalah seperti datuk Maringgih, yang secara sukses digambarkan oleh Julian Richings H.I.M. Damsyik (almarhum) sebagai sosok tua, kurus, hampir meninggal namun kaya raya.

Padahal belum tentu begitu. Jika keluarga atau orang tua kita benar-benar sayang dengan anaknya, beliau-beliau pasti akan mencarikan jodoh yang sepadan dengan kita. Jika kebetulan orang tua kamu punya banyak relasi, semisal kenal dengan ayahnya Isyana Sarasvati, mengapa tidak minta orang tua untuk mengenalkannya?

Perlu dicatat, bahwa perjodohan keluarga ini hanya untuk kamu yang memang menghendaki. Artinya, adalah hak kamu untuk menolak pilihan orang tua sekiranya memang tidak sesuai dengan keinginan.

Dijodohkan Makelar

Makelar jodoh itu adalah pihak ketiga yang menghubungkan pencari jodoh satu dengan yang lain. Bentuknya bisa tradisonal maupun modern.

Yang tradisonal biasanya merangkap sebagai “orang pintar”. Citra yang mereka bentuk adalah, memberi “penguatan spiritual” agar enteng jodoh pada para kliennya. Nah, jika klien mereka sudah banyak,, dengan mudah mereka bisa mengenalkan klien satu dengan klien lain, jika cocok tinggal bungkus saja.

Makelar modern bentuknya adalah klub atau organisasi, baik yang bersifat offline seperti biro jodoh, lembaga pendidikan keluarga, dan lain-lain; atau bisa juga berbentuk online seperti web-web perjodohan yang sekarang tambah marak ini.

Kedua jenis makelar ini umumnya menarik biaya, kisarannya berbeda-beda. Yang tradisional atau modern-offline biasanya lebih mahal, namun anggotanya lebih terseleksi dan bisa benar-benar saling mengenal. Untuk yang modern-online umumnya berbayar, namun terjangkau. Kelemahannya adalah, peserta harus hati-hati dan mempu menyeleksi agar tidak terjebak penipuan.

Dijodohkan Guru Agama

Untuk kamu yang solih dan solihah atau relijius mungkin ini akan jadi pilihan yang tepat. Guru agama, apapun bentuknya baik kyai, ustadz, murabbi, pendeta, biasanya akan lebih mewawas kepada kepentingan spiritual dibandingkan dengan material. Beliau-beliau ini juga umumnya ikhlas tidak memungut biaya bagi murid-muridnya untuk dijadikan jodoh.

Syaratnya, tentu kamu juga harus menunjukkan dirimu sebagai pribadi yang berilmu dan berkualitas agar bisa mendapatkan target incaran kamu. Biasanya guru agama akan memilihkan dari murid-muridnya sendiri yang memang sudah dikenal karakternya.

Yang perlu dihindari adalah, jangan datang ke guru agama hanya untuk mencari jodoh. Ini modus yang tentunya kurang ajar terhadap Tuhan.

Dijodohkan Satpol PP

Sepertinya untuk sementara ini hanya berlaku di daerah yang menetapkan peraturan daerah “kawin paksa”. Untuk preman berhati merah jambu, bisa mencoba solusi ini. Caranya adalah coba untuk apel ke rumah cewek incaran pada jam malam. Namun hati-hati, jangan melakukan tindak asusila, dan jangan memilih lokasi yang banyak pemuda kampungnya. Pilih lokasi perkotaan yang banyak diawasi Satpol PP sebagai penegak Perda.

Jika kamu beruntung, Satpol PP akan memaksa kamu kawin dengan cewek yang diapelin itu. Namun jika tidak beruntung, yah, bisa jadi akan mendapat “pembinaan” yang kurang mengenakan hati. Tapi namanya preman, walau jomblo pasti tetap tegar.

Dijodohkan Linmas/Pemuda Kampung

Untuk yang satu ini, saya tidak merekomendasikan. Resikonya parah, Mblo! Di banyak kawasan perdesaan, ada hukum adat bahwa pasangan yang tertangkap basah berduaan melewati jam malam akan dipaksa untuk menikah oleh pemuda di kampung setempat.

Masalahnya adalah, sebelum masuk ke pernikahan harus disidang massal dulu oleh pemuda, yang biasanya jadi ajang kesempatan untuk latihan tinju gratis, denda adat, sampai dijadikan tontonan karena diarak keliling kampung, terutama bagi pasangan yang terbukti selingkuh. Jika kamu tidak mau bonyok fisik, ekonomi, dan mental, harap hindari yang satu ini.

Jika semua upaya perjodohan tadi belum membuahkan hasil, mungkin kamu memang harus mencoba menjalani hidup kudus seperti Bhiksu Tong Sam Cong atau Rabiah Al-Adawiyah. Barangkali jodohmu memang bukan di dunia ini.

Tentang Penulis

Ihsan Ariswanto

Ihsan Ariswanto

Mantan jomblo yang tak punya mantan pacar. Pensiun jomblo di usia 24. Segala suka dan derita jomblo masih lekat di ingatannya hingga saat ini.