Berita dan Artikel

Sepotong Lubang Untuk Gus Mul

Edi AH Iyubenu
Ditulis oleh Edi AH Iyubenu

 

Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah diciptakannya Jurgen Habermas dan Gus Mul yang memparipurnakan kehidupan.”

Betul, Anda sebaiknya membaca sekuel pertama dari Tetralogi “Pulau Gus Mul” (Gus Mul, Junjungan Sufisme Jomblo) sebelum melanjutkan membaca sekuel kedua ini. Biar tahu konteksnya kenapa Gus Mul sangat penting untuk saya tulis dengan prolog demikian sampai gemetar saking kebeletnya.

Begini, Anda tahu, kan, cerpen fenomenal Seno Gumira Ajidarma, Sepotong Senja untuk Pacarku? Jika sampai tak tahu, fixed, kini terjawablah alasan paling logis mengapa Anda begitu kesulitan mendapat jodoh. Percayalah, tak ada seorang pun yang paling cekate Playen sekalipun yang rela menghanyutkan masa depannya begitu saja laksana “tahi dan ikan mati di kali” (mengutip diksi Gus Mul) kepada orang yang mangap-lolak-lolok kayak pinset.

Jika dalam cerpen fenomenal itu Seno berkisah secara surrealis tentang senja yang dipotong begitu rupa oleh sang tokoh untuk diberikan kepada pacarnya lalu dimasukkan ke dalam saku hingga orang-orang kota melongo mendapati senja yang berlubang, nah hakikat “lubang” inilah yang menjadi alasan paling kritis untuk disematkan kepada Gus Mul. Tanggal 18 September 2015, Gus Mul menulis di Mojok Dot Co; di situ ada diksi “lubang. Begini lengkapnya: “Karena karambol bukan olahraga biasa, ia olahraga yang membuat banyak pria menjadi makhluk yang lebih cekatan, fokus, jago menyentil, dan yang lebih penting: peka terhadap “lubang”.”

Lubang, maaf ya, sudah pasti dengan level makrifat Gus Mul (Anda bisa lihat di sekuel satu tentang kemakrifatan Gus Mul), penggunaan narasi “peka terhadap lubang” sama sekali bukan konotasi seksualitas. Mohon dewasa dikit dalam membaca Gus Mul. Beliau sama sekali bukan lelaki murahan yang sukanya membahas lubang kelamin. Tidak, itu terlalu cuihh baginya. Lubang di sini adalah setamsil “black hole of spirituality”; lubang hitam spiritualitas. Dari pakar antariksa, kita tahu bahwa kerja black hole adalah “menyedot”. Ya, menyedot; dengan kata lain, memasukkan segala apa sehingga diri menjadi “suwung”.

Nah, kan, suwung adalah diksi kaum salik (penempuh sufisme); dan inilah posisi paling pas untuk merayakan “lubang” Gus Mul.

Maka jika Seno melubangi senja untuk diberikan kepada pacarnya, Gus Mul dengan narasi “peka terhadap lubang” adalah musyahadah “menuju suwung” itu. Beda jauh, kan, levelnya. Yang satu bicara cinta berskala eros, Gus Mul berturut cinta berskala agape. Seno adalah cinta; Gus Mul adalah Cinta. Seno adalah manusia; Gus Mul adalah Manusia.

Ketakjuban saya semakin membara bagai tungku raksasa pembakar batu bata di Muntilan untuk menjunjung Gus Mul dari waktu ke waktu, dari perjumpaan ke perjumpaan, tatkala saya membaca simpulan sederhana dari sosok Jurgen Habermas. Anda tahu, kan, Habermas adalah generasi kedua pengusung Teori Kritis Mazhab Frankfurt. Ia adalah murid langsung Theodor Adorno, pernah menjadi asistennya di Universitas Frakfurt, lalu menggantikan posisi Max Horkheimer sebagai profesor Sosiologi dan Filsafat di tahun 1964. Ia juga banyak belajar pada Herbert Marcuse, yang bersama Adorno dan Horkheimer disebut-sebut sebagai generasi pertama Mazhab Frakfurt.

Yang menjadi titik didih takjub saya pada Gus Mul di hadapan Habermas ialah keserupaan laku mereka dalam memaknai “public sphere” (ruang publik). Mereka memang beda generasi, tetapi identik, serupa pinang dibelah linggis.

Teori “ruang publik” Habermas menyatakan bahwa ruang publik merupakan space yang bernuansa pluralitas, publisitas, perkembangan individu dan moral, serta legalitas. Space beginian hanya akan hidup bila tidak ada tekanan dari berbagai kepentingan terhadap siapapun dan kelompok di dalamnya. Ini tentu seturut pada apa yang dimaksudkan Habermas sebagai “rasionalitas bertumpu pada subyek”; hanya subyek-subyek  rasional lah yang akan mampu menciptakan ekspresi perilaku dan tindakannya dalam aras rasio komunikatif. Segala bentuk represi dan kekerasan tidak mendapatkan tempat secuilpun di sini.

Gus Mul adalah mughalladhah-nya anti kekerasan, anti represi. Beliau adalah biangnya damai, teduh, sejuk, yup, dan rimbun. Soal ketiadaan pasangan dalam hidup Gus Mul sampai seusia 24 tahun, itu sungguh terlalu remeh lagi temeh untuk dijadikan keraguan atas parameter mutu keteduhannya; itu sama naifnya berpikir positivistik bahwa Tri Emon sangat bahagia sebab sukses mencetak 50 mantan dan Adit menjadi pelangi di bawah gerimis karena mbribiki Tiwi ke Lombok dengan ijab qabul “blog ruarrrbiyasak” atau Nody Arizona adalah Don Juan berkat jitunya menjamu-jamu romantis para Hawa.

Sekali lagi, yang positivistik begitu-begitu sudah dikalangkan tanah oleh generasi Frankfurt, yang di antaranya dinahkodai oleh Habermas.

Nah, sampai di sini, benderang untuk disimpulkan bahwa khittah damai, teduh, sejuk, yup, dan rimbun Gus Mul niscaya dinisbatkan oleh rukun kekuatan subyek rasionalitasnya ala Habermas dan rukun kedahsyatan daya sedot black hole-nya yang menjadikan suwung. Bayangkan, dua rukun bersatu: kuat secara rasio dan dahsyat secara suwung. Kurang paripurna apa lagi? Kurang argumen apa lagi untuk tidak menjunjungnya setinggi Merbabu?

Maka, apalah arti Rangga yang rela ditunggu belasan tahun oleh Cinta di hadapan Gus Mul? Rangga harus diganti Gus Mul!

Juga apalah arti Sukab dalam cerpen Seno dibandingkan Gus Mul?  Sukab wajib diganti Gus Mul.

Bahkan apalah arti Habermas bila tak diparipurnakan secara kekinian oleh Gus Mul? Mazhab Frankfurt sudah saatnya diganti dengan Mazhab Magelangan.

Sungguh, saya tak sedang main karambol untuk memungkasi sekuel kedua ini dengan jentikan narasi: “Tiada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni selain sepotong lubang untuk Gus Mul.”

Barakallah, Gus Mul.…

Tentang Penulis

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Rektor Kampus Fiksi dan calon doktor Islamic Studies yang setiap Sabtu malam setia menghibur kaum jomblo dengan tagline “Aku Peduli Maka Aku Ada”. @edi_akhiles