Berita dan Artikel

4 Pilar yang Dimiliki Seorang Jomblo

Menjadi jomblo tentu adalah hal yang tidak melulu mengenakkan. Entah ada berapa banyak jomblo yang kadang menerima hinaan (bahkan) dari teman-teman sendiri karena status jomblonya. Jomblo seolah menjadi bahan yang paling gurih untuk di-bully, sekalipun oleh jomblo itu sendiri.

Para penghina itu dengan enaknya menghina, tanpa peduli alasan jomblowan dan jomblowati itu menjomblo. Dan sayangnya, ketika dihina perihal kejombloannya, sang jomblo seperti tidak memiliki kekuatan untuk melawan.

Meskipun begitu, saya meyakini bahwa semua tingkah laku manusia memiliki alasan tersendiri. Pembunuh saja punya alasan, apalagi ketika seseorang memutuskan untuk jadi jomblo. Ternyata setelah saya telusuri, jomblo mempunyai 4 pilar yang nyata di mata banyak orang. Pilar yang digunakan sebagai tempat bersandar, atau bersembunyi ketika melawan rezim malam minggu.

Berikut 4 pilar jomblo yang saya maksud:

  • Tidak laku

Mungkin pilar pertama ini adalah pilar paling banyak kita temui. Tidak dapat dipungkiri, seiring perkembangan dan tuntutan lekas naik pelaminan zaman, mencintai dan memiliki pasangan pun butuh segudang alasan. Karena hal inilah, maka persaingan di dunia percintaan makin sengit.

Tentu pertarungan untuk mendapatkan pasangan lebih berpihak kepada mereka yang tampan dan cantik, kaya, pintar atau apa pun yang mendukung seseorang untuk dicap sebagai orang keren. Jika kesan keren tidak tampak pada dirimu, engkau hanya bisa mengharapkan keberuntungan untuk bisa memenangkan pertarungan cinta. Memang cinta buta masih sesekali kita temui, tapi ada berapa banyak orang-orang yang jauh dari kesan keren yang bisa memenangkan cintanya? Lebih banyak yang gagal, kan? Tidak laku?

Oleh sebab itu, pilar pertama ini tampak terlihat lebih kokoh dari hati mantan yang baru diputusi oleh pacarnya.

  • Selektif

Sebetulnya pilar ini berseberangan dengan pilar pertama jomblo. Kita sering menjumpai orang-orang yang keren, sedikit keren, atau bahkan hampir keren tapi jomblo. Alasannya, yaitu mereka selektif. Yang selektif dalam memilih pasangan kadang berakhir sama dengan yang pilar pertama tadi—tidak laku.

Hanya ideologi yang mereka miliki berbeda dengan pilar pertama. Mereka kebanyakan memikirkan ideologi sendiri, ketika akan memutuskan untuk menjalin hubungan asmara atau tidak. Dan hasil dari proses berpikir yang panjang itu malah membuahkan keputusan untuk tidak menjalin hubungan.

Meskipun ‘orang keren’ dan ‘tidak keren’ jauh berbeda, tetapi terkadang mereka memiliki nasib yang serupa. Sama-sama jomblo.

  • Belum bisa move on

Hidup di bawah bayang-bayang mantan, atau bahkan hanya mantan gebetan, membuat pilar ketiga jomblo ini tampak seperti tiang biasa. Tidak kuat, mudah rapuh, juga mudah dijatuhkan kenangan mantan. Tapi banyak juga jomblo yang bersandar pada pilar seperti ini.

Belum move on. Masih kangen mantan. Masih kangen pacar orang. Masih kangen dikangenin.

  • Nurut kata orang tua

Nah, pilar yang keempat ini bisa dikatakan pilar paling sakti. Pada umumnya, orang tua akan melarang anaknya yang masih remaja untuk pacaran. Anak yang penurut tentu saja akan mengikuti nasehat orang tuanya, dan jadilah dia anak yang berbakti yang dikarunai kesaktian dengan cara menjadi jomblo. Dan bukan tidak mungkin, ada saja anak yang menuruti nasehat ini hingga ia (bahkan) sudah menyandang gelar ‘Menantu Idaman Para Mertua’.

Entah karena benar-benar penurut, atau karena tidak laku, selektif, atau bahkan tidak laku yang beralasan selektif. Tapi setidaknya ia adalah penurut. Bukankah nurut adalah salah satu bentuk berbakti kepada orang tua? Dan berbakti adalah ciri-ciri anak soleh dan solehah, bukan?

Namun seperti apa pun pilar yang menjadi tempat jomblo bersandar dan tempat bersembunyi ketika melawan rezim malam minggu, sejauh ini belum ada pilar yang sangat kuat yang mampu mengikis kadar hinaan atas statusnya. Tidak laku, selektif, belum bisa move on, penurut, atau bahkan tempat bersandar tak terungkap lainnya, toh berakhir dengan status yang sama: jomblo.

Tentang Penulis

Sarti Tinggi Tandipayuk

Sarti Tinggi Tandipayuk

Memegang teguh pilar "Biar jomblo asal selamat!"