Berita dan Artikel

Camken, Jomblo Itu Merah, Jenderal!

Benny SR
Ditulis oleh Benny SR

Ini tulisan serius, bahkan saking seriusnya saya harus menunda membalas pesan BBM dari bribikan. Bisa sampeyan bayangkan perjuangan saya ketika menulis tulisan ini? Kenapa saya harus menulis tulisan ini? Karena saya kontra terhadap Mas Luthfi Ansori soal bela negara yang katanya akan berdampak positif untuk jomblo. Setelah selesai membaca tulisan ini, ijinkan saya untuk mengajak para pembaca jombloo.co sekalian yang sejalan dengan saya , untuk berdiri dari tempat duduk barang beberapa menit.

Jangan tanya kenapa, lakukan saja! Karena harap sampeyan tahu, saya akan mengajak sampeyan sekalian untuk mendeklarasikan sebuah gerakan revolusioner, bahwa jomblo tak selamanya harus diam. Menerima apa pun yang ditawarkan dan melakukan apa pun yang diperintahkan, termasuk soal menghapus kenangan dan move on dengan cara ikut program bela negara. Karena bagaimanapun, kenangan dan move on adalah satu paket yang tak bisa ditawar-tawar.

Baiklah, selanjutnya saya juga akan mohon pada sampeyan untuk bukan hanya berdiri dari tempat duduk saja, tetapi sampeyan juga harus mengepalkan tangan kanan dan mengangkatnya ke udara. Karena bagaimana pun, ini adalah sebuah gerakan yang saya bayangkan akan menjadi sebuah epic yang luar biasa!

Tapi saya mau bertanya dulu pada sampeyan sekalian, apakah sampeyan masih ingat soal ide gerakan bela negara yang belakangan ini terkesan menjadi tema pengalihan isu dari bencana kabut asap? Ya, saya tahu sampeyan pasti sudah membaca artikel yang ditulis oleh Mas Luthfi Anshori soal dampak positif dari gerakan bela negara. Dimana kita akan dididik dan dilatih menjadi individu-individu yang mahasuper oleh militer. Jangan bayangkan pendidikan soal bela negara tersebut seenak seperti kita kuliah, bisa pakai jeans belel, rambut gondrong, dandan menor, titip absen, dan tentu saja bebas kirim salam pada bribikan yang manapun.

Konon, pendidikan soal bela negara ini tak lantas hanya menyuruh kita untuk duduk rapi menghadap whiteboard di sebuah ruang dengan pulpen dan buku catatan ditangan, kemudian bisa bercanda dengan teman kiri-kanan. Tetapi intinya kita akan dilatih pelajaran PBB (Peraturan Baris-Berbaris), hidup ala militer, dan tentu saja pendidikan soal kebangsaan.

Tapi bukankah tokoh sufisme asmara Gus Mul sudah cukup memberi pelajaran dengan menulis sebuah buku panduan untuk kita, Mblo? Ya, mungkin sampeyan sudah tahu kalau yang saya maksud adalah buku Jomblo Tapi Hafal Pancasila. Lantas haruskah kita (jomblowan dan jomblowati) dipaksa untuk menghabiskan waktu produktif yang kita miliki dan bisa digunakan untuk membribik gebetan hanya untuk berlatih bergerak maju mundur, balik kanan, hadap kiri, hadap kanan, atau bahkan memanggul senapan? Ohmaigiattttttt.

Meski kita adalah manusia Indonesia yang memang menyandang status jomblo, tetapi apakah kita sudah lupa kalau kita adalah jomblo yang bermartabat? Maka tak perlu lagi dididik untuk ikut bela negara.

Kenapa disebut sebagai jomblo yang bermartabat? Karena ketika membribik, kita tak pernah mengkotak-kotakan agama, suku, bangsa, budaya dan ras. Kurang bermartabat dan nasionalis apalagi coba? Karena seperti yang sudah kita tahu, cinta itu tak pandang bulu, bukan? Toh pada dasarnya kita juga sudah khatam soal PBB versi jombloo.co. Sampeyan harus tahu dulu soal PBB yang saya maksud kali ini. Ya, PBB yang maksud adalah Pengantar Belajar Bribik.

Kita lebih tahu soal gerakan langkah kaki maju mundur, karena kita sudah terlatih untuk membaca kode dari bribikan sebelum menentukan sikap preventif yang harus diambil, apakah kita harus berhenti atau lanjut dalam membribik. Hadap kiri dan hadap kanan? Kita sudah hafal di luar kepala! Kita sudah dilatih, bahwa hadap kiri adalah sebuah sikap kita soal mengenang rindu tentang mantan. Dan hadap kanan, adalah soal kita yang menatap masa depan bersama gebetan yang meski masih belum mau untuk dipacari. Memanggul senapan? Untuk apa seorang jomblo memanggul senapan? Ini malah bisa menjadi berbahaya!

Bayangkan, misal ada seorang jomblo yang digantung tanpa kepastian status oleh bribikan, lantas memanggul senapan. Ini malah bisa jadi harakiri atau bahkan mengulang tragedi penembakan massal seperti di salah satu universitas di Amerika! Ini bisa berdampak negatif, karena seperti yang sampeyan tahu, sampai sekarang baper tetap menjadi pengaruh besar dalam kejiwaan. Bisa anda bayangkan apa yang terjadi, jika ada seorang jomblo yang baperan memanggul senapan?

Kali ini saya tak ingin menulis sebuah tulisan yang panjang, karena saya takut kalau sampeyan-sampeyan justru akan merasa bosan. Lantas tak membaca sampai selesai tulisan ini, lalu meninggalkan situs jombloo.co, dan meninggalkan ajakan revolusioner yang saya rintis ini . Cukuplah biar mantan kita saja yang menyelesaikan sepihak cinta kita, dan lantas meninggalkan kenangan-kenangan memilukan untuk kita kenang. Dan kita harus tetap progesif, militan dan kesepian.

Baiklah, sebelum sampeyan membaca paragraf terakhir untuk tulisan saya kali ini. Seperti di awal tulisan pembuka, saya harap sampeyan-sampeyan yang berdiri bersama saya dan kontra terhadap pendapat mas Luthfi Ansori, untuk berdiri sejenak dari kursi yang sampeyan duduki, kepalkan tangan kanan sampeyan, kepalkan dan angkat ke udara! Ikuti aba-aba dari saya, dalam hitungan ketiga, teriakan kalimat revolusioner ini.

Satu! Dua! Tiga! Marilah kita teriak bersama:

Mereka kira duka berkepanjangan ini tak cukup mengasah disiplin kami? Satu perih, semua terluka. Satu nggerus, semua nggerus. Kekuatan cinta dalam membribik sudah mengajarkan kami untuk tidak mengkotak-kotakan bribikan dalam agama, suku, bangsa, budaya dan ras. Solidaritas kami berlandaskan kenangan. Kami siap mati bela kenangan, bukan bela negara.

Camken, jomblo itu merah, Jenderal!

*Catatan penutup:
Tulisan ini terinspirasi dari meme Dewan Kesepian Jakarta yang jadi gambar fitur.

Tentang Penulis

Benny SR

Benny SR

Pengagum Poppy Sovia. Pejuang LDR

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A
    : D.8.E.B.7.E.6.B
    ##

  • maria handayani

    LIVECHAT P`O`K`E`R`V`1`T`A
    BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    $$