Surat Cinta

Cinta Tak Butuh Alasan

Jombloo Dot Co
Ditulis oleh Jombloo Dot Co

Orang bijak bilang manusia itu tempatnya alasan. Mau sukses butuh alasan. Gagal pun mencari alasan. Padahal yang sesungguhnya mereka butuhkan hanya melakukan. Kerja, kerja, kerja!

Mungkin itu sebabnya Jokowi menang pemilu. Ketika Oom Bowo sibuk mencari sebab serta alasan yang pasti, yaitu dengan mendompleng soal-soal nasionalisme, eh lawannya sudah selangkah lebih maju: kerja.

Yowes. Itu hal yang usang. Menuliskannya kembali di sini cuma bakal bikin saya dicap gagal move on. Padahal ya, iya juga sih. Su!

Namun, pendapat orang bijak itu tak selamanya benar. Ada satu hal yang tak butuh alasan: cinta. Ya, cinta tak butuh alasan. Hal yang mungkin sampai akhir sejarah manusia tak akan pernah jelas definisinya. Pokoknya cinta. Titik.

Cinta memang tak butuh alasan. Kecuali kau mencari-carinya. Bisa pada kecantikan, akal, budi, bahkan harta. Ndak ada yang salah memang soal itu. Tapi, kenyataannya aneka hal itu justru muncul pasca cinta itu hadir.

Misalnya begini, saya bertemu seorang junior di kampus yang cantik. Lalu, dengan keberanian yang nanggung saya ajak kenalan. Di sini, mungkin saya mengajak kenalan karena dia cantik. Padahal ya ndak juga. Banyak kok cewek cantik yang saya biasa-biasa saja. Ndak berhasrat buat kenalan.

Kejadian itu membuktikan, kalau yang mendorong saya adalah ketertarikan yang muncul secara spontan. Tanpa alasan. Tanpa tedeng aling-aling. Cukup hati yang berdesir saja.

Lah, kalau pada akhirnya saya ketahui namanya Nada, dan ternyata dia sudah punya kekasih, itu soal lain. Yang jelas hati saya sudah berdesir saat bertemu dia. Bunga-bunga bermekaran dan saya terus-terus kepikiran.

Apa itu juga namanya cinta? Belum tentu juga sih sebenarnya. Melainkan, keteguhan hati saya untuk tetap stalking dia dan menyusun stratak untuk mendapatkannya, itulah cinta. Apa pun keadaannya, sekali memilih, akan terus dipertahankan.

****

Dik Nada memang gadis yang sangat mempesona. Wajahnya teduh seperti langit pagi saat matahari masih melongokkan setengah wujudnya. Senyumnya menenangkan, bak senyum debt collector yang mengikhlaskan utang kita. Dan, tatapan matanya tajam penuh kepercayaan.

Alamakjang. Dengan perupaan demikian, lelaki mana yang tak kepincut? Abang pun rela balik jadi Maba asal bisa sama adik. Bahkan, kalaupun hendak adik pergi kemana pun, abang rela antar.

Barangkali Dik Nada tak sadar dengan segala kelebihan yang dipunya. Tapi, apa daya pula abang ini, untuk mengelak dari nikmat Tuhan yang jelas nyatanya. Kufur nikmatlah itu namanya.

Hanya saja, abang ini sadar adik sudah ada yang punya. Bukan single lagi. Bukan jomblo lagi. Apalagi abang dengar belum lama pula kalian jadian, tentu sedang pada masa mesra-mesranya.

Tak apa, Dik. Cinta tetaplah cinta. Sekarang atau nanti desirannya tentu sama. Gadis atau janda tak ada beda. Untuk itu, abang bakal menunggu Dik Nada hingga waktu yang ditentukan.

Jangan khawatir, Dik. Abang ini bukan tipikal perusak hubungan orang. Cuma kalau ada kesempatan ya kenapa harus disia-siakan? Bukannya kata orang mendekati wanita yang punya pacar itu cuma satu saingannya? Hehehe.

Bercanda, Dik. Abang tak akan setega itu sama kamu. Tak akan tega merusak asmaramu yang sedang mesra-mesranya.

Abang bakal menunggumu, Dik. Hanya saja, kalau bisa jangan lama-lama. Menunggu itu musuh semua manusia, sebab menunggu seringkali bikin bosan. Sialnya, tak ada orang yang mau mati sebab bosan.

Oh ya, abang sesungguhnya berterimakasih sama kamu. Sebab ada kamu, abang jadi rajin kuliah. Rajin ngulang. Sepertinya sarjana semakin nampak terang. Untuk itu, jasamu tak akan terlupa. Kalau perlu namamu bakal abang tulis di buku nikah (amin), eh skripsi maksudnya.

Sebagai bonus, bukan mustahil abang bakal lamar adik. Secara langsung, jujur dan bersih.

Ah, abang ini terlalu muluk rupanya. Kenal saja baru, kok sudah ngomong soal lamar saja? Harusnya dekat saja dulu. Ta’aruf. Bukankah begitu?

Ya, namanya juga doa, Dik. Harus tinggi, harus muluk. Kalau pendek dan sederhana saja, meremehkan Tuhan itu namanya.

Sudahlah. Lama-lama abang merasa kian banyak cakap saja ini. Abang takut kamu illfeel.

Jadi, abang cukupkan sampai di sini saja ya. Semoga Tuhan mengijinkan kamu membaca surat ini. Kalau tidak diijinkan, itu pasti karena absenmu lebih dari empat kali pertemuan. Hehehe.

Yang menunggumu,
A, mahasiswa tingkat akhir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tentang Penulis

Jombloo Dot Co

Jombloo Dot Co

Situsweb yang digerakkan dengan semangat kasih sayang.

Jombloo.co - Pilihan untuk bahagia.

  • Jordy Daminta Pius

    Kayaknya admin mesti mempertegas disclaimer-nya deh …

    Soalnya isi kalimatnya rentan untuk dipelintir dan ditunggangi kepentingan politis yang kentara.

  • feronica Tan

    $cinta-tak-butuh-alasan/cinta-tak-butuh-alasan/cinta-tak-butuh-alasan/

    Main Games sambil cari Rupiah – Gabung aja bersama Agen Poker S1288POKER | BBM : 7AC8D76B