Curhat

Ditolak Dahulu, Bahagia Kemudian

Agus Mulyadi
Ditulis oleh Agus Mulyadi

KONON, bagi seorang pria, ditolak oleh perempuan yang begitu disukainya tentu rasanya sakit sekali. Sudah sakit, berobatnya ndak bisa pakai BPJS lagi. Bedebah sekali memang sakit karena ditolak ini.

Dulu saya pernah mengalaminya. Dan benar, rasanya memang sakit sekali. Seakan-akan, tak ada pasien lain di rumah sakit manapun yang sakitnya melebihi sakit yang saya rasakan.

Tapi alhamdulillah, saya ternyata memang sudah ditakdirkan sebagai pria yang kuat dan tahan banting, pria yang bulletproof, pria yang nothing to lose, pria titanium. Rasa sakit karena ditolak perempuan yang terus saja menggerogoti kesehatan saya, dengan perlahan mampu saya usir.

Rumusnya satu:

Pahamilah hakikat sebuah hubungan asmara. Ditolak bukanlah akhir dari segalanya.

Kenikmatan sebuah hubungan asmara nyatanya bukanlah saat sepasang kekasih kencan bareng, makan saling suap-suapan, atau saat nonton di bioskop. Kenikmatan hakiki dalam sebuah hubugan asmara sejatinya terletak pada proses saat si pria berjuang mendapatkan hati perempuan idamannya.

Its all about the process, not the result.

Oke, saya kasih gambaran biar lebih mudah memahaminya.

Joko menyukai seorang gadis. Joko begitu menyukainya, sampai-sampai, setiap kali Joko beraktivitas, selalu saja wajah si gadis terbayang dalam ingatan Joko.

Di tengah rasa suka yang begitu memuncak, akhirnya Joko memutuskan untuk menembak si gadis, dan ternyata, si gadis menerima begitu saja dan bersedia menjadi kekasih Joko.

Kira-kira, apa yang bakal Joko rasakan? Senang, bahagia, tentu saja.

Kasus kedua. Kali ini namanya Munir. Sama seperti Joko, Munir juga menyukai seorang gadis. Namun berbeda dengan Joko, saat si Munir menembak si gadis, ternyata ia ditolak.

Munir pun tidak patah semangat, ia lalu mencoba untuk lebih perhatian lagi pada si gadis, lebih rajin lagi mbribik si gadis. Lalu Munir mencoba menembak kembali, dan lagi-lagi, Munir ditolak.

Setelah ditolak dua kali, Munir masih belum juga patah semangat. Seperti seorang pejuang kemerdekaan, Munir lalu berusaha kembali, mencoba bekerja lebih giat dan belajar lebih sungguh-sungguh, agar ia mampu membuktikan pada si gadis, bahwa ia bukanlah pria sembarangan.

Munir lalu menembak si gadis untuk
ketiga kalinya, dan kali ini, hasilnya begitu menggembirakan. Si gadis menerima Munir dan bersedia menjadi kekasihnya, karena ia kagum akan keteguhan dan kesungguhan Munir.

Kira-kira, apa yang bakal Munir rasakan? Senang, bahagia, sekali lagi, tentu saja.

Tapi lebih dari itu, Munir jelas tak hanya berbahagia. Ia juga bergairah. Kenapa? Karena dalam proses penembakannya, ia berkorban begitu banyak. Ada adrenalin yang terpacu. Ada sesuatu yang benar- benar diperjuangkan.

Berbeda dengan Joko yang mungkin hanya bahagia thok, tapi tidak bergairah. Karena penembakannya diterima begitu saja oleh si gadis.

Nah, dari situlah saya belajar, bahwa hasil itu penting, tapi proses jauh lebih penting. Jadi, jika saya kok kebetulan selalu ditolak setiap kali menembak cewek yang saya suka, itu bukan karena saya jelek atau saya kurang romantis. Itu karena saya sadar, bahwa gairah itu lebih penting ketimbang kebahagiaan.

Tentang Penulis

Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger partikelir asal Magelang. Penulis buku "Jomblo tapi Hafal Pancasila", "Bergumul dengan Gus Mul", dan "Diplomat Kenangan".

  • Zainal Nur

    Diplomasi jomblo tingkat regional. ?

  • moenir

    Sueee knp harus nama gue dah