Berita dan Artikel

Karena Jomblo Ingin Di-Agus-Mulyadi-Kan

Edi AH Iyubenu
Ditulis oleh Edi AH Iyubenu

“Hanya pria karbitan yang ngasih cokelat, pria sejati ngasihnya seperangkat alat shalat.”
—Agus Mulyadi

Siapakah jomblo yang tak akan baper seketika, mewek serta-merta, saking tersanjungnya ia sebagai anak manusia untuk di-Agus-Mulyadi-kan?

“Diagusmulyadikan” adalah suatu peristiwa (dalam disiplin tasawuf) apokaliptik: penyingkapan suatu kebenaran yang dicari-cari selama ini ke dalam  sebuah “rengkuhan”. Bahasa ilmiahnya, penyingkapan-ketaktersingkapan.

Mungkin bagi mantan playboy macam Tri Emon, singkap-menyingkap di sini langsung ia relevansikan dengan soal rok. Bukan itu, Mon. Tapi penyingkapan-ketaktersingkapan di sini murni penuh tentang pencapaian atas pencarian yang panjang selama ini.

Adakah yang lebih tabah dari hujan bulan Juni? Ada! Yakni kaum jomblo yang sudah mature, alias berumur. Jika kita percaya bahwa kedewasaan adalah sebuah pilihan dan penuaan adalah sebuah kewajiban, demikian pulalah kedahsyatan ketabahan para jomblo dalam menanti peristiwa apokaliptik itu; diagusmulyadikan itu.

Tersingkapnya siapa jodohmu, apakah seseksi Aidit Dipantara, atau semelow Tri Emon, atau senyeni Agus Mulyadi, masa itu niscaya tiba. Percayalah bahwa Tuhan sungguh-sungguh Maha Baik pada semua kita, termasuk kalian yang setia melajang bermasa-masa. Siapa yang tak percaya berarti bermasalah dengan imannya.

Saat detik itu tiba, ketersingkapan menjelma, pengagusmulyadikan serentak kan membuatmu sepenuh bahagia. Adakah yang lebih membahagiakan selain mengetahui siapa dan seperti apa imammu dan calon ayah anak-anakmu?

Inilah alasan terbesar saya menjadikan quote Agus Mulyadi yang dikutip di bagian awal esai ini direpresentasikan sebagai puncak kebahagiaan kaum jomblo; puncak ketersingkapan.

Sekadar hendak punya pacar, yang, niscaya semua ente sangat bisa mendapuknya, asal berkenan menurunkan harga diri. Cobalah tletek di malam senyap yang tak lumrah, pakai hotpants menggoda, lalu sebal-sebul ngudud, takkan lama kelelawar berkendara King blombong akan mbribiki. Lalu kenalan, lalu jadian, lalu ke Kaliurang, lalu pisahan.

Apakah itu membahagiakanmu? Jelas tidak!

Dalam ungkapan Agus Mulyadi, kelelawar berkendara King demikian hanyalah “lelaki karbitan”. Namanya karbit, jelas saja berhawa panas, bergolak, tetapi sejenak. Begitu panas berkeringat merayapi sekujur tubuh, karbit pun moncrot, punahlah ia lantas.

Khittah ini beda jauh dengan “lelaki sejati”. Ia akan datang menyodorkan seperangkat alat shalat sepenuh iman dan kasih. Dan, kita tahu, seperangkat alat shalat akan menyandingi dengan tenang dan panjang. Bahkan sampai akhir hayat.

Maka quote Agus Mulyadi itu seyogianya sudah lebih dari cukup bagi semua jomblo untuk tidak bermain-main dengan karbit hanya untuk gelar gengsi, eksis, kekinian, dan ketriemonan, sebab main idea-nya terletak pada frasa kedua; lelaki sejati ngasihnya seperangkat alat shalat.

Sampai di sini, sungguhlah quote Agus Mulyadi sangat berlian untuk digugu sebagai prinsip hidup, bahkan welstanchauung, world view, oleh setiap jomblo, termasuk Agus Mulyadi sendiri. Sebab, sekali lagi, hanya jalan begitulah yang akan mengantarkanmu menuju kebahagiaan hidup asali dalam urusan pasangan hidup. Agus Mulyadi memanglah Super Mario bahkan untuk dirinya sendiri! Di helai-helai kitab sejarah manapun, tak pernah ada sosok yang bisa sepertinya. Selain Jonru, tentu.

Diagusmulyadikan secara dasein (cara meng-Ada) bermakna dibahagiakan: idaman terbesar setiap jomblo sedunia. Lelaki sangat ingin dibahagiakan oleh wanita; wanita sangat rindu dibahagiakan oleh lelaki. Adapun kelas tengah-tengah antara keduanya, lelaki iya wanita iya, diagusmulyadikannya haruslah melalui membenarkan diri sendiri belaka.

Soal kita tahu bahwa Agus Mulyadi sejauh ini selalu gagal untuk mengagusmulyadi, marilah kita hormati pilihan ideologisnya itu sebagai dasein-nya. Toh dengan benderang Agus Mulyadi telah berikrar, “Kamu bahagia duluan saja, Mbak, saya gampang….”

Sebuah ungkapan jiwa yang hanya bisa ditandingi para arif-makrifat, yang seketika mengingatkan saya pada sebuah syair Ibnu ‘Arabi: “Aku mencintai, namun aku tak tahu siapa yang akan kucintai.” Dalam gubahan yang pas, syair itu berbunyi begini: “Aku Agus Mulyadi, namun aku tak tahu siapa yang akan kuagusmulyadikan.”

 

Tentang Penulis

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Rektor Kampus Fiksi dan calon doktor Islamic Studies yang setiap Sabtu malam setia menghibur kaum jomblo dengan tagline “Aku Peduli Maka Aku Ada”. @edi_akhiles

  • Brianna Kyla

    #karena-jomblo-ingin-diagusmulyadikan/

    S1288POKER – BONUS FREECHIP SETIAP HARINYA – BONUS NEW MEMBER 10% | BBM : 7AC8D76B

  • Claudia Bella

    Numpang : karena-jomblo-ingin-diagusmulyadikan/karena-jomblo-ingin-diagusmulyadikan/

    S1288POKER – BONUS FREECHIP SETIAP HARI, NEW MEMBER 10%, BONUS MINGGUAN | BBM : 7AC8D76B