Berita dan Artikel

Memahami Akar Kekerasan Pada Sikap Intoleran

Luthfi Anshori
Ditulis oleh Luthfi Anshori

Sikap intoleran memang masih menjadi penyakit di negeri ini. Ibarat panu, bila tidak diobati dengan lekas maka akan menyebar dengan cepat di daerah lainnya. Perilaku yang mengancam keutuhan bangsa ini tak hanya berkutat pada isu suku, agama, ras, maupun antar-golongan. Lebih jauh, tindakan yang disebut diskriminasi ini juga kerap dialami para jomblo.

Jomblo sebagai kelompok minoritas dari segala minoritas selalu menjadi objek kekerasan verbal bagi kelompok lainnya. Mulai dari tuduhan si perjaka/perawan yang tidak laku, si tukang galau, hingga dicap sebagai makhluk paling nelangsa di muka bumi.

Hingga kini, belum ada penelitian akademis maupun catatan historis yang bisa menjelaskan akar kekerasan terhadap jomblo. Meskipun ada, itu hanya sekadar asumsi yang dinyatakan segelintir pengamat yang memang memiliki perhatian terhadap fenomena ini.

Kunjungan saya pada sebuah diskusi di Lembaga Ilmu Pacaran Indonesia [LIPI], senin lalu, setidaknya menghasilkan empat fakta yang menguak tabir kekerasan terhadap jomblo.

Pertama, sebagai ekses tragedi 1965

Peristiwa ’65 sampai saat ini masih diselimuti misteri. Namun, yang jelas tragedi paling berdarah dalam sejarah bangsa  ini telah menghadirkan satu aktor yang terus menjadi pesakitan. Ialah pemuda/pemudi tanpa status kepemilikan. Mereka dalam berbagai kesempatan akan mudah dicap sebagai anggota PKI [Partai Kasmaran Indonesia], yang jiwanya layak di-bully dan dicaci.

Kedua, sebagai akibat lengsernya Orde Baru

Berakhirnya era daripada Orde Baru semakin menajamkan perbedaan si mayoritas dan minoritas. SKB [Surat Kegalauan Bersama] Tiga Menteri yang dibuat pada 1975, dan diamandemen pada 2006, semakin mempersempit ruang gerak para jomblo. Hal ini ditandai dengan kebijakan pemerintah yang dengan tegas akan membubarkan setiap perkumpulan yang melebihi tiga orang. Jomblo pun akhirnya mengalami kematian kreatifitas karena terbatasnya ruang mbribik. Imbas dari hal ini, jomblo akan lebih lama menghadapi penghakiman massa.

Ketiga, sebagai akibat perubahan zaman yang kian modern

Zaman yang kian bergerak cepat membuat situasi para jomblo kian tersudut [mirip pinggiran koreng yang digaruk terus menerus]. Kata “jomblo” mengalami transformasi makna menjadi “dia”, yakni sebuah objek tunggal yang berdiri diantara dua kata “aku” dan “kamu”. Tak hanya itu, jomblo pun akhirnya menjadi komoditas bernilai ekonomis di mata para pelaku dunia usaha. Situs biro jodoh muncul bak cendawan di musim hujan, dan laris bak kacang rebus di acara dangdutan. Tuntutan industrial semacam ini tentunya semakin memperlemah dan mengancam kedaulatan para jomblo. Jomblo akhirnya dipandang sebagai sesuatu yang hina, bukan lagi sebagai sebuah sikap yang menjunjung tinggi etika pergaulan dua sejoli.

Keempat, sebagai akibat tidak adanya serikat

Ini hal sepele yang kerap diabaikan para jomblo sedunia. Seolah tidak peduli dengan peribahasa “Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi runtuh”, jomblo tetap saja berjalan sendirian dalam menghadapi cercaan dan hinaan dari kaum yang sudah mengenal paham yang-yangan. Padahal dengan berserikat jomblo akan menjadi lebih kuat baik secara moril maupun materil. Sukar dan susah dibagi bersama. Kesenangan dan kebahagiaan dalam mendapat pasangan tentunya menjadi milik pribadi. Oleh sebab itu, Serikat Jomblo Indonesia [SJI] kiranya dapat dibentuk sebagai wadah aspirasi dan forum tukar pikiran antara manteman senasib-seperjuangan.

Keempat fakta yang saya jelaskan tersebut hanyalah pengantar. Masih banyak faktor-faktor lain yang bisa melengkapi atau bahkan membantah argumen tersebut. Dalam hal ini, pemerintah pun seharusnya peka terhadap isu diskriminasi. Akronim SARA yang memiliki kepanjangan Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan kiranya perlu diamandemen seiring perkembangan zaman dan meluasnya spektrum diskriminasi. Oleh sebab itu, saya mengusulkan agar pemerintah memasukkan kata “status”, sehingga akronim tersebut berbunyi SARAS [Suku, Agama, Ras, Antar-golongan, dan Status].

Tentang Penulis

Luthfi Anshori

Luthfi Anshori

Pengukur jalanan Bekasi-Jakarta. Pekerja media. Pengamat status hubungan si dia.

  • Brianna Kyla

    #memahami-akar-kekerasan-pada-sikap-intoleran/

    S1288POKER – BONUS FREECHIP SETIAP HARINYA – BONUS NEW MEMBER 10% | BBM : 7AC8D76B

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A
    D.8.E.B.7.E.6.B
    ##