Berita dan Artikel

Palu Arit dan Jomblo Masa Kini

Kadin Kumala
Ditulis oleh Kadin Kumala

Setengah abad peristiwa ’65 yang jatuh pada tahun ini, sudah bisa diramalkan bahwa akan ramai perdebatan tentang pembantaian orang-orang komunis yang seakan takkan ada habisnya. Dan itu membuat saya gatal untuk ikut-ikutan. Tapi, daripada saya bergabung dalam perdebatan usang seperti itu, lebih baik saya menulis untuk kemaslahatan kawan-kawan jomblo sekalian. Tentunya masih dalam tema palu-arit juga.

Eh, emang ada hubungannya palu-arit dengan jomblo?

Saya menemukannya secara tak sengaja. Saat sedang berpikir keras, tiba-tiba masuk SMS balasan mantan gebetan di pulau Kalimantan. Sudah sejam lebih saya menunggu balasan itu, dan isinya: “Eh, maaf ini nomor siapa, ya?” Ternyata doi sudah melupakan saya. Maaf, jadi curhat.

Namun, berkat itu saya jadi termenung dan kemudian menemukan benang merah antara palu arit dan jomblo. Memang agak maksa, tapi berhubung ini situs lucu-lucuan, saya kira tidak apalah.

  1. Selalu dihujat.

Di negeri kita, palu-arit memang pengundang keributan. Di mana ada palu-arit di situ ada persoalan. Entah itu di baju pacar saya Putri Indonesia Anindya Kusuma Putri, di dinding kampus UNEJ, atau pawai kemerdekaan, semuanya beroleh hujatan. Palu-arit dihujat karena dianggap mengancam keamanan negara dan merusak agama.

Padahal raga komunis sendiri sudah binasa sejak tahun 1965. Ketika itu, orang-orang PKI dimusnahkan karena diduga mendalangi peristiwa Gerakan 30 September. Setahun kemudian hingga kini, paham komunis resmi dinyatakan terlarang. Meski 50 tahun telah lenyap, tetapi palu-arit masih menjadi hantu gentayangan. Sama seperti bayangan mantan yang kerap muncul di langit-langit kamar, palu-arit menimbulkan ketakutan tak beralasan. Fobia.

Hal yang sama dialami oleh penyandang status jomblo. Apalagi bila status itu sudah disandang selama bertahun-tahun, melebihi satu periode jabatan presiden. Jomblo dihujat sebagai mahkluk yang lemah, cupu, dan bahkan perusak bangsa. Mencari pasangan saja tidak bisa, bagaimana mau mengubah nasib bangsa.

Ya, mungkin mereka lupa bahwa pernah ada jomblo palu-arit yang tak pernah menikah seumur hidupnya, namun berperan besar untuk nasib bangsanya, Tan Malaka dan Ho Chi Minh misalnya. Atau, mereka tidak tahu bahwa dulu PKI, partai yang keras menentang kolonialisme dan yang pertama kali memakai kata “Indonesia,” berdiri atas usaha para pemuda jomblo: Semaoen, Alimin, Darsono dan Tan Malaka.

Iya, sih, itu dulu. Pemuda jomblo masa kini paling-paling mau bikin partai yang berlandaskan asmara.

  1. Simbol persatuan dan perjuangan.

Sebagian orang mungkin merinding bila melihat simbol palu-arit menyilang. Simbol palu-arit kerap dimaknai sebagai senjata tajam yang menggambarkan kekerasan dan kekejaman. Warna latar merah diidentikkan dengan pertumpahan darah. Harus diakui rezim Orde Baru sukses menanamkan stigma negatif terhadap komunisme.

Simbol palu-arit sesungguhnya mewakili masyarakat kelas bawah yang dibela ideologi komunis. Palu mewakili para buruh dan arit mewakili para petani. Simbol palu-arit yang menyilang mencerminkan persatuan di antara kaum buruh dan petani. Sedangkan warna merah bermakna perjuangan melawan penindasan.

Karena makna dalam simbol adalah penafsiran manusia yang dapat disesuaikan menurut kehendaknya. Maka, saya kira palu-arit juga dapat digunakan untuk mewakili kaum jomblo masa kini. Palu mewakili jomblo yang perasaannya hancur setelah dihantam  pengkhianatan teman. Arit untuk mewakili jomblo yang hatinya tersayat setelah ditolak gebetan. Dan apapun profesinya; baik editor, bidan, maupun blogger, semuanya bersatu dalam perjuangan yang sama: mendapatkan pasangan.

  1. Anak zaman.

Dalam sajaknya “Kini Ia Sudah Dewasa,” D.N. Adit, eh Aidit melukiskan kelahiran PKI: Ia lahir, dengan kesakitan, kelas termaju, sebagai anak zaman, yang akan melahirkan zaman. Partai palu-arit itu lahir ketika kesadaran rakyat jajahan untuk melawan imperialisme mulai tumbuh. Zaman ketika munculnya kesadaran akan perlunya persatuan dan perjuangan yang terorganisasi. Zaman ketika kelas buruh sudah membentuk serikat-serikat.

Sama halnya dengan palu-arit, istilah jomblo juga lahir sebagai anak zaman. Zaman di mana masa muda adalah melulu urusan mencari pasangan. Zaman di mana status berpacaran di Facebook lebih penting ketimbang memperbanyak baca buku. Zaman ketika orang-orang dipasung status dan dipasung gengsi.

Cukup sekian. Hanya tiga persamaan yang bisa saya temukan. Bila Anda tahu yang lainnya, mohon beri tahu saya. Atau, bila Anda seorang cewek berstatus jomblo, kasih pin BBM juga tak apa. Hehehe.

Tentang Penulis

Kadin Kumala

Kadin Kumala

Cuma manusia biasa. Biasa tak dianggap, biasa dilupakan.

  • Kadin Kumala

    Ya elah, fotonya narsis amat.

  • Fiki Andrea

    goblok, persetan dgn PKI yg telah banyak membunuh umat Islam, para ulama dan da’i, dan para tentara RI! #rippki

    • Kadin Kumala

      Iya, kak.

    • zeth warouw

      wkaakakkaakak