Berita dan Artikel

REVISI UU KPK

Dedi Arifianto
Ditulis oleh Dedi Arifianto

Belum lama ini sebagian besar media massa memberitakan tentang revisi UU KPK. Mengenai rencana ini, sudah seharusnya kaum jomblo menentukan sikap. Jangan sampai kaum yang kerap dianggap tertindas ini bingung apalagi ambivalen, seperti gebetan yang resah—mau jadian, atau justru mau balikan dan sakit hati lagi dengan mantan.

Namun dari berita-berita yang bikin sedih itu, dari ulah sebagian anggota yang ngakunya wakil rakyat, ada hal yang lebih menyedihkan, yaitu massa jomblo yang terpecah belah ke dalam beberapa kelompok. Mulai dari jomblo borjuis sampai jomblo proletar, jomblo reaksioner dan jomblo revolusioner. Massa jomblo harus bersatu, demi terwujudnya cita-cita revolusi asmara. Massa jomblo harus bersatu, bila perlu turut bicara tentang revisi UU KPK.

Kesedihan ini bisa jadi melebihi perasaan aktivis antikorupsi yang kecewa berat jika KPK jadi dibubarkan. Bayangkan saja, KPK mau dibubarkan saja, segenap massa jomblo belum mendapatkan pacar. Mosok kalah sama rencana para wakil rakyat itu? Mereka yang ngakunya wakil rakyat itu kan sudah mewakili kita to? Kita pengen punya pacar yang cantik dan fashionable, sudah diwakili oleh staf-staf mereka. Kita pengen piknik ke luar negeri, sudah diwakili mereka. Kurang baik apalagi coba? Mereka lho, Mblo. Iya, mereka. Tapi ndak semua juga sih kayak gitu.

Nah, berawal dari kegelisahan itulah, saya selaku veteran jomblo juga ingin mengajukan draf UU KPK.

Kok bawa KPK segala? Mau KPK tandingan po? Halah, jaman sekarang kan lagi musim tandingan. Tapi KPK yang saya maksud ini bukan Korupsi Pemberantasan Korupsi. Demi terwujudnya cita-cita revolusi asmara, massa jomblo bahkan sudah mendirikan KPK sejak dalam pikiran. Ya, KPK yang didirikan oleh massa jomblo memiliki kepanjangan Kriteria Pacar Kamu.

Akronimnya terlalu memaksa? Memang demikian sih. Tapi tak apalah, asalkan tidak memaksakan jodoh. Halah, hemm…..

Begini, Mblo, draf UU KPK ini terbuka bagi siapa saja yang tergabung di dalam massa jomblo, termasuk para veteran jomblo (selamat ya, Mas, Mbak…) untuk mengkritisinya. Kalian juga boleh menyumbangkan aspirasi masing-masing dan menambahkan pasal-pasal lain.

Pasal-pasal di UU KPK ini tentu juga sangat kita harapkan mendapat persetujuan Gus Mul, pakar jomblo yang baru dikukuhkan sebagai Diplomat Kenangan. Beliau sosok yang begitu adem ketika berbicara. Begitu ademnya sampai belum dapat pacar. Kok bisa? Ya itu tadi, karena adem. Pacar itu kan butuh kehangatan, bukan keademan. Iya to, Gus?

Baiklah, daripada saya makin baper, berikut pasal-pasal di UU KPK yang boleh direvisi:

Pasal 1. Hakikat Jomblo dan Mantan Jomblo

Ayat 1. Jomblo adalah sebutan bagi orang-orang yang progresif, militan, dan kesepian.

Ayat 2. Veteran jomblo merupakan sesepuh para jomblo, sudah berhasil lepas dari predikat keademan hidup serta layak untuk dihormati selayak menghormati  kedua orang tua.

Ayat 3. Hal-lal lain yang belum tercantum dalam pasal ini akan diatur dalam peraturan harian para jomblo selanjutnya.

Pasal 2. Rentang Waktu Jomblo

Ayat 1. Sebutan jomblo berhak disandang dan melekat selama merasa menjadi orang yang progresif, militan, dan kesepian.

Ayat 2. Rentang waktu jomblo tidak terbatas. Kalau ingin membatasi, segera saja cari pasangan hidup. Kalaupun tidak juga menemukan, silakan bersandar di bahu mantan, bahu teman, dan bahu jalan.

Ayat 3. Untuk menunjukkan eksistensi jomblo, perlu dicantumkan gelar S.J. (Saya Jomblo) di belakang nama masing-masing.

Pasal 3. Klasifikasi Jomblo

Bahwasanya untuk memudahkan dalam pengenalan massa jomblo dan membantu calon pasangan mengenali usia kejombloan seseorang, perlu diklasifikasikan sebagai berikut:

Ayat 1. Jomblo senior. Merupakan jomblo yang dalam tempo 5 tahun atau lebih belum mampu mendapatkan pasangan hidup. Sudah ditolak berkali-kali sampai lupa sudah berapa kali sakit hati.

Ayat 2. Jomblo yunior. Merupakan jomblo yang dalam tempo kurang dari 1 tahun masih belum mampu mendapatkan pasangan hidup.

Ayat 3. Jomblo tanggung. Merupakan jomblo yang tidak pernah berusaha. Hanya mampu meratapi nasib. Tak berani melawan rezim malam minggu.

Pasal 4. Masa Depan Jomblo

Terkait masa depan jomblo akan ditentukan kemudian. Saran dari kawan-kawan jomblo seperti jomblo veteran sangat kami harapkan demi terwujudnya cita-cita revolusi asmara.

 

Hal di atas adalah draf usulan tentang UU KPK, jadi masih bersifat sementara dan masih bisa direvisi oleh siapa dan kapan saja.

KPK yang didirikan oleh massa jomblo tidak akan pernah bubar, dan lebih penting lagi, KPK tidak boleh ditunggangi kepentingan partai percintaan. KPK harus berani jujur dan transparan. Pokoknya massa jomblo tidak boleh kalah oleh para anggota yang ngakunya wakil rakyat itu. Dalam hal ini, Gus Mul yang juga tergabung dalam massa jomblo, yang baru dikukuhkan sebagai Diplomat Kenangan, tentu sangat kita harapkan untuk memberi pencerahan tentang draf KPK ini. Karena kalau bukan Gus Mul, kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mendukung KPK? Kriteria Pacar Kamu?

Save KPK. Save Indonesia. Save Asmara. Berani jujur itu hebat! Pilih yang jujur!

Tentang Penulis

Dedi Arifianto

Dedi Arifianto

Veteran jomblo. Saat ini mengajar di SD Negeri Semarangan 4, Kec. Godean. Guru? Iya, guru. Guru para jomblo.

  • Amalia Ningsih

    sip