Tips

Belajar Asmara dari Bung Tomo

Indi Hikami
Ditulis oleh Indi Hikami

“Ku teringat masa yang telah lalu, seribu insan seribu hati bersatu padu…”

Penggalan lirik di atas berasal dari lagu Surabaya karya Dara Puspita. Sebuah lagu yang menggambarkan suasana perjuangan rakyat Indonesia di Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Surabaya layak disandangkan sebagai kota pahlawan. Heroik memang kondisi saat itu, dengan persenjataan seadanya rakyat surabaya tak gentar menghadapi tentara Inggris. Hebatnya, Brigadir Jenderal Mallaby tewas dalam pertempuran itu.

Tak hanya soal pertarungan yang sengit, banyak kisah cinta antara muda mudi Surabaya yang sedang berjuang dan jatuh hati di dalamnya. Lihat saja penggalan lirik diatas, betapa menggambarkan ada suasana romantis yang turut mewarnai jalannya pertempuran. Begitu pun Bung Tomo yang garang saat berorasi, heroik dalam berjuang, tak gentar menghadapi penjajah, namun juga seseorang yang sangat romantis.

Saat pertempuran, Bung Tomo menemukan pujaan hatinya. Ia pertama kali bertemu denganya saat terjadi pertempuran di Surabaya (1945). Saat itu Sulistiani, nama kekasih Bung Tomo kelak, tergabung dalam Palang Merah Indonesia. Sulistiani sendiri tercatat adalah anggota PMI cabang Malang yang kemudian ditugaskan di Surabaya. Menurut Sulis, saat itu tidak banyak lelaki yang berani mendekatinya. Namun, hanya pria kelahiran Kampung Blauran, Surabaya, yang dipanggil Bung Tomo itulah yang berani mendekatinya.

Meskipun dalam keadaan represif, Bung Tomo tetap rajin menyurati kekasihnya tersebut. Surat cinta itu dikirim Bung Tomo saat di front pertempuran lewat Cak Ri (anak buah Bung Tomo). Tak hanya surat, Ia juga mengirimkan cenderamata berupa payung Tasikmalaya atau batik Solo yang Ia bawa selepas pulang dari medan pertempuran. Surat yang Ia tuliskan kemudian hari dijadikan buku oleh Sulistiana yang kelak jadi istrinya.

Berikut beberapa penggalan suratnya :

“Datanglah… Waktuku amat sempit. Ada yang ingin aku ceriterakan padamu” atau, “Aku rindu padamu tetapi tak punya waktu. Bisa Jeng menemuiku?”

Bung Tomo juga merupakan seorang perayu yang ulung, dan ia sering menuliskan suratnya dalam menggunakan bahasa Indonesia, Jawa, Inggris, dan Belanda. Berikut buktinya seperti dalam suratnya tanggal 13 Maret 1951.

“Ah Tieng, kalau Saja teringat our kamar yang rose itu, vulvenku tak suka bergerak-lancar.”

Bung Tomo juga menyatakan keseriusannya melamar Sulistiani melalui surat cinta.

”Jeng Lies aku cinta padamu. Nanti kalau perang sudah usai. Dan… kita akan membuat Mahligai.”

Kesungguhan Bung Tomo disampaikan dengan sangat romantis, seperti yang tertuang pada penggalan suratnya.

“Tak terlalu tinggi cita-citaku. Impianku kita punya rumah di atas gunung. Jauuuh dari keramaian. Rumah yang sederhana seperti pondok. Hawanya bersih, sejuk & pemandangannya Indah. Kau tanam bunga-bunga dan kita menanam sayur sendiri. Aku kumpulkan muda-mudi kudidik mereka menjadi patriot bangsa.”

Bung Tomo sendiri akhirnya menikah dengan Sulistiani dan  pernikahannya diadakan pada 19 Juni 1947 di Jalan Lowokwaru IV/2 Malang. Saat itu Bung Tomo, karena masih diburu-buru Belanda, usai menikah harus pindah ke Jogjakarta.

Sayangnya, ketika orde baru berkuasa, Bung Tomo ditahan oleh pemerintah karena dituduh subversif. Saat itu, Ia ditahan di Penjara Nirbaya, di kawasan Pondok Gede, Jakarta. Bung Tomo adalah sosok yang kritis kepada rezim Soekarno maupun Soeharto. Akibat sikapnya itu, Bung Tomo oleh Orde Lama maupun Orde Baru diasingkan secara politik, bahkan dibui.

Selama di penjara, Bung Tomo tak henti menulis surat untuk istrinya. Ia juga tercatat menulis beberapa puisi cinta. Salah satunya adalah puisi cinta berjudul “Melati PutihPujaan Abadi Hatiku”. Menurut Sulistiani, itu adalah puisi yang membuatnya terharu. Puisi itu memuat perasaan cinta mereka berdua yang menikah pada saat pergolakan revolusi pada 1947. Sajak itu juga dedikasikan untuk putri pertama mereka, Tien Sulistami, yang lahir pada 29 Juni 1948.

Berikut penggalan puisi tersebut :

Ini hari Kartini dik!

Terbayang wajahmu yang cantik

Penaku kini berhenti sedetik

Terlintas semua jasamu

Sejak kita bertemu

***

Bung Tomo jelas memberi pelajaran pada kita bahwa dalam keadaan represi sekalipun cinta harus tetap bersemai. Tak peduli kondisinya seperti apa maka urusan asmara juga harus tetap berjalan. Buang pendapatmu bahwa kesibukan yang padat membuatmu menjadi jomblo. Toh Bung Tomo saja mendapatkan tambatan hatinya saat berjuang. Kita saat ini justru lebih beruntung karena hidup di zaman yang bebas meskipun masih ada penjajahan disekitar kita.

Kesibukan yang padat dan menjadi alasan menjadi jomblo adalah hal yang tak masuk di akal. Justru dari kesibukanmu bisa temukan seseorang yang kamu sukai dalam lingkaran kehidupanmu. Memang prosesnya tak mudah, namun ketika kau memlih untuk mengibarkan bendera putih sebelum berjuang jelas kau sangat menyedihkan.

Berjuang mendapatkan kekasih adalah berjuang menciptakan keharmonisan bangsa. Pondasi keharmonisan bangsa adalah anak muda yang sudah mantap secara perasaan asmaranya. Negara akan semakin memburuk ketika anak mudanya mayoritas menjadi tuna asmara, menyedihkan. Bung Tomo saja menyadari pentingnya yayang-yayangan karena hal itu adalah obat hati disaat perjuangan melawan penjajahan terasa begitu berat.

Berjuanglah mendapatkan gadis idamanmu, karena semua pahlawan pendiri bangsa ini pasti pernah punya kisah asmara masing-masing. Dan temukan pasanganmu lalu ajari ia tentang perjuangan membangun bangsa Indonesia! Selamat hari Pahlawan! Temukan pasanganmu dan harmonikan bangsamu!

Tentang Penulis

Indi Hikami

Indi Hikami

Mahasiswa tingkat akhir yang terus mengenang betapa indahnya hujan di CInere