Berita dan Artikel

Eksploitasi “Yang-yangan”: Sebuah Kasus Kekinian Perspektif Marxis

Firmanda Taufiq
Ditulis oleh Firmanda Taufiq

Kalau kau merasa bahwa kaum “yang-yangan”, dengan pedenya memanggil kekasihnya dengan “yang”, berarti sayang. Itu berarti mereka menunjukkan eksistensi bahwa mereka ingin dikenal dan diketahui oleh khalayak umum. Ini jelas bukan rahasia umum lagi, bila populasi pacaran tak bisa dibatasi.

Populasi kaum jomblo, baik jomblo idealis ataupun tidak. Meski merasa galau. Bukan berarti ini adalah masalah serius bagi mereka, tapi jelasnya mereka gedhek dengan tingkah pongah kaum “yang-yangan”, dengan pedenya merayakan kemenangan dalam ekosistem kehidupan.

Eksploitasi besar-besaran dilakukan kaum “yang-yangan” dengan berbagai variasi yang berbeda, baik lisan, perilaku atau hanya semacam kode, yang hanya dipahami oleh kaum mereka. Tapi, jelasnya kaum jomblo akan menjadi posisi tertindas, kaum proletar, bahasanya Mbah Marx. Entah, bagaimana kaum jomblo menyikapi hal ini, jelasnya mereka tak mau masuk lebih dalam dan memikirkannya. Mereka masih asyik masyuk menghafal nadzom Imrithy dan membaca kitab kuning. Dan kini, Aliando juga mengamini di belakang imam jomblo, ini mengindikasikan bahwa ia juga pro kaum jomblo.

Ah, barangkali eksploitasi besar-besaran kaum “yang-yangan”, saya menyebutnya, merupakan cara “radikal” dan ekstrimis untuk “meng-alienasi” kaum jomblo dalam pertarungan bioma kehidupan.

Entahlah. Tapi jelasnya mbah Marx masih mendukung penuh kaum jomblo untuk tetap idealis dan pertentangan kelas sungguh jelas dalam kasus ini, representasi peristiwa yang tak bisa dibiarkan hilang dalam panggung sejarah percintaan. Kaum proletar dan borjuis yang tak bisa disatukan ideologinya.

Meski jelas terdapat gap, mereka tentu harus berguru kepada kitab Imrithy, kitab yang membahas mengenai ilmu nahwu itu. Ya, kaum jomblo dan “yang-yangan” seharusnya belajar banyak pada “kalam” dan “kalim”, tentunya kalau kalian mengkajinya akan tahu perihal filosofi kehidupan.

Kalam, bermakna “lafdhun mufidun musnadun”, lafaz yang berfaidah dan tersusun. Jelas ini mengajarkan kita bahwa untuk menjadi manusia seutuhnya kita harus memberikan faidah dan kemanfaatan kepada orang lain, dan jelasnya ikhtiar atau usaha yang dilakukan harus di-planning dengan baik dan sistematis.

Kita juga harus menetapi tiga jalan kehidupan, yakni isim, fi’il dan huruf, yang bila di-tamsil adalah tiga konsepsi: iman, islam dan ihsan. Perjalanan kehidupan yang mengantarkanmu pada hakikat kehidupan; sebagai seorang salik.

Kalim, dalam penafsirannya adalah bagi kaum awam dan khos, yakni adakalanya sebuah lafaz berfaidah ataupun tidak, meski menetapi tiga konsepsi yang disebutkan diatas. Jelasnya, ‘am dan khos adalah representasi manusia yang memiliki beragam keahlian dan kerahasiaan, dengan ilmunya masing-masing.

Ya wis lah. Yang penting dan jelasnya. Iku mau tulisan untuk menerangkan bahwa saya mencoba mengobrak-abrik pemikiran dan pengetahuan klasik-kontemporer, mulai kitab kuning hingga Marxis.

Ealah. Lha dalah. Kok mbahase ngene iki. Mak mbeduduk bahas kitab-kitab kuning segala, untuk jlentrehane bisa dibaca lengkapnya di tafsir Al-Marxisiyah dan kitab kuning yang mlungker-mlungker iku. Mungkin butuh pembacaan mendalam yang bikin otak kalian ngelu. Ngerti, Mblo?

Tentang Penulis

Firmanda Taufiq

Firmanda Taufiq

Anak muda yang suka baca buku dan diskusi, berpikiran idealis demi memperjuangkan cinta

kaum jomblo di seantero dunia agar bisa hafal nadzam Alfiyah.

  • arifin pomo

    Iyo,aku ngerti kok mblo,.haha