Berita dan Artikel

Hipotesis Salah Kaprah Pacar Mantan

Utami Pratiwi
Ditulis oleh Utami Pratiwi

Sesuatu yang berhubungan dengan mantan memang tidak pernah benar. Iya, kalau benar pasti tidak akan menjadi mantan. Tema ini sangat renyah dan asyik untuk diperbincangkan. Tidak pernah habis diceritakan dari sudut mana pun.

Baiklah. Mari kita lebih mengerucut dengan membahas tentang pacarnya mantan. Definisi pacarnya mantan adalah, laki-laki/perempuan yang menggantikan posisimu di hati seseorang yang pernah kamu cintai.

Dampak dari korelasi ini sungguh sangat absurd dan hampir tidak bisa diterima oleh nalar. Heran nggak sih, secara tetiba ditatap oleh seseorang yang bisa saja sebelumnya tidak kenal sama sekali. Nggak tahu asal-usul maupun bapak-ibunya, eh ujug-ujug dia benci setengah mati sama kamu. Itu asli kamvret kuadrat pakai banget.

Akhirnya, inilah yang menimbulkan hipotesis salah kaprah dan semena-mena. Setelah benci yang kesumat, timbul kesimpulan yang dibangun sendiri sehingga melahirkan segala hal yang selalu salah. Kebenaran hanyalah miliknya dan pacarnya, sementara segala yang salah adalah milikmu yang merupakan mantan. Iuhhh….

Masalah tidak berhenti sampai pada benar dan salah. Akan lebih parah lagi tentang kecurigaan-kecurigaan yang ditujukan kepadamu. Semisal kamu menulis status, “Hai A.” Gara-gara inisial ini, bisa merobohkan dunia persilatan, lho. Cius. Apa lagi jika mantanmu mempunyai unsur nama itu. Sekalipun A dalam statusmu bermakna Asu.

Reaksi yang ditimbulkan? Di media sosial mana pun, kamu akan menerima makian dari dia. Umpatan sakit hati dan cemburu. Memang, bukankah salah satu peran media sosial adalah untuk mengumpat kepada orang lain yang tidak berani dilakukan secara langsung?

Pokoknya, hidup dan hati pacarnya mantan itu tidak akan tenang sebelum kamu yang dicemburui punya pacar.

Yah, cinta memang begitu. Pelakunya lebih sering melihat dengan kacamata kuda. Lurus saja. Padahal belum tentu pacarnya yang dibela setengah mampus itu selurus yang diangankan. Tapi ya, lagi-lagi. Kan pacar, dibela dong, sampai tetes darah penghabisan.

Akan tetapi, akan lebih baiknya jika kacamata kuda itu perlahan dilepas. Karena sesekali perlu melihat sekeliling. Siapa tahu, sebenarnya cemburu yang dituju sia-sia. Sang pacar yang selalu dibela dan dibenarkan, nyatanya sudah tidak ada apa pun dengan kamu si mantan.

Sesungguhnya, orang-orang yang ditekan kekhawatiran anggapan bahwa pacar yang dimiliki akan kembali kepada masa lalunya, dapat disingkirkan. Setiap orang mempunyai keistimewaan masing-masing. Tidak perlu berusaha menjadi orang lain untuk dicintai. Tidak perlu menandingi siapa pun untuk disayangi. Juga, tidak perlu menjelek-jelekkan orang lain, yang barangkali sudah jelek.

Jangan sampai kegiatan mengais sisa peradaban masa lalu menghambat keberlangsungan hidup masa depan.

Bahwasannya, tidak ada yang lebih memprihatinkan dan menyedihkan selain kesibukan mengurusi seseorang dari masa lalu pacar, sementara si pacar malah sibuk mbribik orang lain. Camkan!

*Catatan: “kamu” yang dimaksud adalah manusia yang pernah pacaran atau yang-yangan.

Tentang Penulis

Utami Pratiwi

Utami Pratiwi

Mbak-mbak kantoran baik hati, sering (sok) lucu, lajang dengan seabrek kegalauan.