Berita dan Artikel

Jomblo dalam Perspektif Modernisasi

Imam B. Carito
Ditulis oleh Imam B. Carito

Salah satu standarisasi yang dilakukan dalam modernisasi adalah standarisasi kebahagiaan dan kesuksesan. Bahwa dalam perspektif modern, kebahagiaan dan kesuksesan sesorang salah satunya harus dipersyarati dengan adanya pasangan(pacar) dalam menjalani kehidupannya. Mereka yang tidak mempunyai pacar (Jomblo), dianggap tidak bahagia, tidak sukses, merana, dan tersiksa.

Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan adanya berita tentang kunjungan presiden Jokowi ke Suku Anak Dalam di Jambi. Netizen akhirnya membuat tanggapan yang bermacam-macam. Dari yang pro dan kontra, dari yang hanya foto sampai yang analisa. Yang pro tentu saja mendukung kebijakan presiden antara lain memberikan rumah tetap bagi para warga suku anak dalam. Yang kontra mempermasalahkan antara lain tentang terusirnya suku anak dalam dari habitatnya. Hampir sama seperti nasib kaum jomblo yang semakin tergilas dan tertindas pada zaman post modern ini.

Adalah mas Firmanda Taufiq yang baru-baru ini merumuskan bahwa penyebab utama nasib jomblo yang hampir mirip dengan nasib kaum suku anak dalam itu adalah akibat dari adanya “ledakan” dinamika pacaran yang tak terkendali. Benarkah demikian ?

Ada beberapa analisa yang kurang, dalam penyimpulan Mas Fimanda ini. Beberapa pertanyaan mendasar tentu bisa kita ajukan kembali. Misalnya, mengapa dinamika pacaran bisa meledak tak terkendali di jaman post modern ini ? Adakah sebab-sebab utama yang mempengaruhi? Atau adakah “Pacaran” sebagai salah salah satu agenda Remason, dan Wahyudi dalam menguasai dunia? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang akhirnya memaksa kita untuk mencari akar permasalahan (meminjam istilah mas Firman) “meledaknya dinamika pacaran” dan “teralienasinya kaum jomblo”.

Bicara modernisme maka kita berbicara kompleksitas permasalahan. Maka berbicara nasib “teralienasinya kaum jomblo” di era modern ini, tidak bisa kita sederhanakan hanya dengan menyebut “ledakan pacaran” sebagai sebabnya. Ada permasalahan yang lebih inti dan mendasar yang juga menjadi sebab permasalahan dalam eramodern ini, salah satunya seperti terusirnya suku anak dalam dari daerahnya. Ya, keduanya sebenarnya disebabkan oleh permasalahan inti yang sama. Apa gerangan?

Jauh-jauh hari seorang budayawan masyur, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) mengatakan bahwa, “Kekeliruan orang modern adalah pemikirannya digiring untuk selalu menuju keadaan yang dipersyarati oleh standarisasi.” Lalu apa kaitannya dengan Jomblo?

Salah satu standarisasi yang dilakukan dalam modernisasi adalah standarisasi kebahagiaan dan kesuksesan. Bahwa dalam perspektif modern, kebahagiaan dan kesuksesan sesorang salah satunya harus dipersyarati dengan adanya pasangan(pacar) dalam menjalani kehidupannya. Mereka yang tidak mempunyai pacar (Jomblo), dianggap tidak bahagia, tidak sukses, merana, dan tersiksa. Dan pada derajat tertentu dianggap perlu dikasihani. Sama seperti standarisasi kesuksesan dan kebahagiaan manusia dengan tinggal di rumah tetap, maka suku anak dalam yang nomaden itu dianggap tidak sukses dan tidak bahagia. Dan pada derajat tertentu perlu dikasihani (dalam hal ini dibuatkan rumah tinggal tetap).

Padahal kita tahu bahwa kedua hal paling mendasar itu, kebahgiaan dan kesuksesan, sama sekali tidak terkait pada punya pasangan atau tidak. Punya pacar atau tidak. Tapi semata mata kebahagiaan dan kesuksesan adalah nuansa yang hadir dari kesadaran dalam diri, bahwa kita harus senantiasa bahagia dan meraih kesuksesan dalam hidup kita. Dengan atau tanpa adanya pacar disamping kita. Kebahagiaan adalah hasil dari apa yang disebut oleh Kuntoaji sebagai “asyik dengan duniaku sendiri. (Walaupun) lama tak ada yang menemani”.

Maka tak heran, jika akhirnya kita menjumpai adanya “ledakan” dinamika pacaran sebagai akibat dari kesalahan berpikir kaum modern saat ini. Walaupun sering juga kita lihat bahwa mereka yang pacaran itu juteru jauh dari apa yang kita sebut sebagai standar kebahagiaan dan kesuksesan. Selain daripada kebahagiaan dan kesuksesan semu yang mereka coba pamerkan di depan khalayak sebagai kedok pertengkaran, pemgkhianatan, perselingkuhan dan terkurasnya jatah bulanan sebagai akibat dari alokasi dana malem mingguan.

Oleh karena itu, kita perlu meluruskan kembali makna kebahagiaan dan kesuksesan ini sebagaimana asalnya. Salah satu upayanya mungkin dengan menerapkan pola pendidikan Gaya jomblo sebagai manifestasi ideologi kaum tertindas. Sehingga dapat menanamkan keyakinan dalam diri kita bahwa jomblo adalah cerminan manusia-manusia yang sadar. Sepenuhnya sadar bahwa kebahagiaan dan kesuksesan tidak bisa distandarisasi, apalagi hanya dengan adanya pacar dalam mejalani kehidupan kita.

Sebagai penutup, agaknya kata – kata Cak Nun yang satu ini perlu kita renungkan. Dalam suatu kesempatan Cak Nun mengatakan, “ Hakikat dasar kehidupan setiap manusia adalah lahir sendiri, hidup berjamaah, lalu mati sendiri. Sejak masih bayi, manusia secara naluriah diajari Tuhan untuk bekerja sama dengan ibunya, dengan pembantunya, dengan penjual susu, dan orang lain. Berjamaah bukanlah kewajiban melainkan hakikat hidup.”

Saya ulangi lagi, bahwa hakikat hidup manusia adalah lahir sendiri, hidup berjama’ah dan mati sendiri. Dua hakikat kita hidup adalah lahir dan mati sendiri. Sedangkan Hakikat hidup satunya lagi adalah hidup berjama’ah, bukan hidup berpacaran. Ya meskipun Jomblo, ndak papa yang penting berjama’ah. Alangkah lebih baiknya lagi kalau kita njomblonya berjama’ah, njomblo bareng-bareng, jangan mumfaridan (sendirian) aja. Karena sesungguhnya jomblo berjama’ah lebih baik 27 derajat, daripada njomblo sendirian.

Oleh karena itu wahai saudaraku jomblo sedunia, senasib sepenanggungan. Jikalau nanti diri engkau merasa gundah gulana dengan kesendirian, ingatlah kelahiran dan kematianmu, Mblo. Anggep aja lagi latian menjalani kematian. Gitu aja kok repot!

Tentang Penulis

Imam B. Carito

Imam B. Carito

Pria (jomblo) Teoritis. Penganut setia paham Opto Ergo Sum. Aku memilih (menjadi jomblo), maka aku ada. Anda butuh pasangan untuk dipilih? Silahkan hubungi @Imam_Chart atau Imam Chartego (fb)