Curhat

Karena Tiga Tahun Itu Terlampau Pendek

Nuran Wibisono
Ditulis oleh Nuran Wibisono

Anak itu berjalan pelan menuju gerbang sekolahan. Rambutnya keriting. Wajahnya tirus. Badannya kurus. Memakai tas punggung dengan sepatu berwarna biru. Tapi yang paling mencuri perhatian: tinggi badannya yang minimalis untuk ukuran anak SMA.

Nama anak itu adalah Angga Pribadiyono.

Saya tak akrab dengannya di awal masuk SMA. Pasalnya, kelas kami berjauhan. Saya di 1.2, Angga di 1.5. Tapi pernah satu kali kami bertemu di Pasir Putih. Saat itu saya dan beberapa kawan masa kecil menghabiskan waktu dengan berkemah di Pasir Putih Situbondo. Tak dinyana, disana saya bertemu dengan Deni Hamzah, kawan saya semasa SD. Dia juga bareng kawan-kawannya semasa kecil. Ada wajah yang saya kenal, wajah Angga.

Sejak saat itu saya akrab dengan Angga. Kami sering bertukar sapa di kantin. Memergokinya merokok sembunyi-sembunyi di kantin. Hingga ia yang sering disetrap di halaman sekolah karena sering terlambat masuk.

Kami akhirnya sekelas ketika naik ke kelas 2. Karena sudah akrab, kami memutuskan duduk sebangku. Saat itu, saya mulai makin mengenalnya. Ada banyak hal yang bisa diceritakan tentang pria berwajah imut itu. Tapi yang paling terkenal adalah julukannya sebagai bandar bokep. Oke, bukan dia saja, tapi saya juga.

Kami sering membawa CD bokep (saat itu belum ada flashdisk dan tidak ada softcopy seperti sekarang) yang diselempitkan di tengah-tengah halaman buku pelajaran. Dan kurang ajarnya, dua buku favorit sebagai tempat persembunyian bokep adalah buku PPKn dan Agama. Hahaha.

Bendol, ketua kelas kami saat itu, menjuluki Angga dengan sebutan Nyen. Semua juga gara-gara rutinitas Angga dalam mendistribusikan VCD bokep. Nyen adalah singkatan dari Onyen, bahasa prokem Madura untuk bersetubuh. Ternyata, panggilan Nyen itu bertahan lama. Hingga sekarang, mulai teman SMA, teman rumah, hingga teman kuliahnya, memanggil Angga dengan sebutan Nyen. Bisa jadi hingga ia meninggal kelak, orang akan tetap mengingat Angga sebagai Nyen.

***

“Ayo melu aku, nggepuki arek”

Saya tergeragap. Pagi itu, matahari bahkan masih belum jua terik, Nyen sudah menghampiri saya di Warkop Toyib di sebelah kampus Universitas Jember. Secangkir kopi hangat saya bahkan masih mengepulkan uap panas. Tapi Nyen sudah datang berkalang kemarahan. Ada apa ini?

Usut punya usut, Nyen sedang sakit hati. Sama seperti remaja lainnya, Nyen pun tak luput dari sakit hati. Ini menarik bagi saya dan kawan-kawan lain. Pasalnya, ketika SMA, Nyen tak pernah melirik cewek. Tak pernah menitipkan hati pada perempuan mana pun. Ia termasuk pria yang kedap dengan ritual naksir perempuan.

Kalau ada novel berkisah tentang cerita cinta remaja SMA, sudah pasti bukan Nyen yang jadi inspirasi. Nyen, kala itu, adalah remaja yang paling kuat menahan godaan naksir perempuan.

Tapi ketika duduk di bangku kuliah, ia memutuskan untuk menitipkan hati pada seorang gadis. Olala, siapakah gadis yang beruntung itu? Nyen ternyata menganut prinsip lokalitas. Ia jatuh cinta dengan gadis tetangga.

Namun pagi itu, ketika asap kopi masih mengebul, Nyen sudah tersulut amarah. Tak pernah saya melihat Nyen murka, apalagi perkara perempuan. Ia lantas bercerita kisah kasihnya. Ya bisa dibilang kisah standar percintaan. Tapi karena Nyen tak pernah mengalaminya, kisah itu lantas jadi duri yang merajam. Perih.

Hingga sekarang, kisah kasih purba milik Nyen itu masih saja dijadikan gojlokan tiap kawan-kawan SMA berkumpul. Dan seperti biasa, Nyen –yang sudah sembuh karena waktu– hanya bisa berlagak cool dan terkekeh kecil. Ia sudah tumbuh dewasa.

Memang, seringkali luka dan waktu yang akan mengajarkan kita untuk tumbuh dewasa. Nyen belajar itu dengan baik, dan lulus dengan baik pula. Oh ya, sampai sekarang hati Nyen masih belum berpunya. Kalau ada yang punya nyali mencoba, bisa dicoba untuk merebut hatinya Nyen.

***

Sudah tiga tahun sejak saya menulis kisah pendek tentang Nyen. Saya menduga ia sudah lepas dari jerat masa lalu. Hingga beberapa waktu ia tidak sengaja berucap kalau, “…hatinya masih beku.” Pantas selama tiga-empat tahun ini ia tak pernah bercerita tentang kekasih atau sejenisnya. Mendadak saya teringat potongan lirik “Forget Her” milik Jeff Buckley.

While this town is busy sleeping,
All the noise has died away.
I walk the streets to stop my weeping,
‘Cause she’ll never change her ways.

Don’t fool yourself, she was heartache from the moment that you met her.
My heart is frozen still as I try to find the will to forget her, somehow.
She’s somewhere out there now.

Well my tears falling down as I try to forget,
Her love was a joke from the day that we met.
All of the words, all of her men,
All of my pain when I think back to when.

Remember her hair as it shone in the sun,
The smell of the bed when I knew what she’d done.
Tell yourself over and over you won’t ever need her again.

Saya tak pernah menyangka kalau hatinya masih membeku. Luka yang pernah ditorehkan oleh perempuan itu, yang rumahnya hanya berjarak sepelemparan batu. Kini, usianya sudah 29, dan luka itu sepertinya masih basah. Kalaupun mengering, setidaknya luka itu membuat hatinya jeri. Membuatnya takut untuk menitipkan lagi hatinya pada siapa-siapa.

Celetukan Nyen membuat saya terkenang saat saya menulis tentangnya 3 tahun lalu. Menulis betapa Ia pernah jatuh cinta. Satu kali. Kawan-kawannya menasehatinya. Ia bukan tipikal perempuan yang bisa kau titipkan hatinya. Tapi sama seperti kata Jeff, we all fall in love sometimes

“I am not sure, but sometimes we’re so blind.”

Seperti sudah diduga, pilihannya salah. Entah apakah karena sakit hati, atau kecewa karena pilihannya salah, ia marah. Meradang. Pernah di suatu pagi yang masih belum tanak benar, lelaki itu mengajakku. Bahkan kopi hangat yang disajikan oleh Bu Toyib belum sempat saya seruput.

Ke mana?

Mukulin seseorang.

Hah?!

Iya!

Seperti itulah cinta bisa membutakanmu, kawan.

Pada akhirnya ia kembali ke kawan-kawannya. Para mahasiswa berkantong cekak yang cuma bisa menghabiskan duit receh di warung kopi pinggir jalan. Menertawakan kisah cinta dan hidup yang kerap terlalu kelabu. Kisah-kisah sedih itu memang cukup menghibur kalau ditertawakan. Setidaknya tak akan membuatmu kepikiran untuk menjerat leher dengan tali.

And only passing time
Could kill the boredom we acquired
Running with the losers for a while
And our empty sky was filled with laughter.

Tapi toh ternyata setelah sekian lama, nyaris 4 tahun lalu, lukanya masih ada dan membekas. Tapi kami masih tega merisaknya, dan ia masih berbesar hati untuk menertawakannya.

Hari ini ia memperingati umur 29. Nyaris 30. Itu umur yang penting, kata seorang guru pada saya. Di umur itu, kamu akan memutuskan akan tetap pada posisimu sekarang, atau banting setir ke bidang yang lain. Setelah umur 30, kamu akan lebih susah bergerak, katanya lagi.

Tetangga dan mungkin saudara akan bergunjing tak sedap. Biarkan saja. Kafilah tetap harus berjalan. Terus cari jalanmu, cuk. Selamat ulang tahun bro, sehat selalu dan terus ciptakan kebahagiaanmu sendiri. Coba pikirkan pindah tempat tinggal agar tak selalu terkenang gadis tetangga itu. Sebab tiga, empat, atau lima tahun itu waktu yang terlampau pendek.

Because love is so short, forgetting is so long

Tentang Penulis

Nuran Wibisono

Nuran Wibisono

Penyuka jalan-jalan dan musik bagus. Jurnalis, Penulis lepas dan Penyunting

  • Rida Robiatul Badriah

    josssssssssssss terharu. pengen ketemu sama mas nyen