Tips

Terkait Hate Speech Aktivis Musti Belajar Sama Jomblo

Fajar
Ditulis oleh Fajar

Munculnya Surat Edaran (SE) Nomor SE/6/X/2015/ tentang penanganan ujaran kebencian (Hate Speech) dari institusi POLRI membuat geger jagat aktivis yang selama ini digdaya menyuarakan nalar kritisnya. Surat edaran ini dinilai banyak kalangan sebagai upaya membungkam para aktivis yang selama ini mengklaim  vokal menyuarakan suara-suara sumbang orang pinggiran.

Namun pihak lain menilai hal ini sebagai upaya menertibkan penyampaian kritik yang saat ini sangat tipis bedanya dengan bullying. Tapi terlepas dari dua pandangan di atas, semua pihak, baik yang pro maupun yang kontra dengan surat edaran tersebut mesti memandang permasalahan ini dengan hati yang kosong jernih. Jika sudah membincang hate atau benci, rasanya kita berdosa jika tidak mengemukakan gagasan tentang objek yang paling sering dibenci, siapa lagi kalau bukan yang dirahmati Allah, JOMBLO.

Jomblo kini tidaklah bisa dilepaskan dari konstelasi politik nasional. Peranan serta sepak terjangnya kerap membuat gentar rezim paling otoriter sekalipun. La gimana tidak, bayangkan saja jika jutaan jomblo se-nusantara ini mencak-mencak bersatu menuntut adanya revolusi. Mereka bisa saja mengerahkan masa yang notabene pemuda kapiran untuk mengepung istana, jelas mereka bisa bertahan sangat lama di situ. Sudah,,, kalian tidak usah menanyakan lagi soal ketabahan jomblo dalam mempertahankan sesuatu, bahkan mereka bisa bertahan bertahun-tahun tahan sakit hati hanya untuk mempertahankan hal yang disebut kenangan.

Disisi lain, laku adem Jomblo memiliki efek teduh yang bisa diteladani oleh siapapun yang mampu memahami ilmu hikmah. Jomblo mampu meredam nafsu, menahan ego, menanggung malu mengamalkan Kallam Allah “lataqrobuzzina”. Kolaborasi dua sikap mental yang saling melengkapi ini membuat jomblo adalah entitas bijak dan layak dijadikan suri tauladan dalam berbagai permasalahan bangsa.  Termasuk sebagai referensi menyikapi SE Hate speech, Setidaknya ada beberapa poin yang bisa dicontoh para aktivis dalam sikapnya menyoal edaran hate speech tersebut.

Introspektif

Ini adalah ajaran penting para penganut jami’ah jomblo, ketika gebetan sudah memberikan sinyalmen negatif maka ia akan segera mengintrospeksi diri menuju pribadi yang layak diterima. Introspeksi juga menggambarkan kedawasaan pola pikir jomblo yang tidak hanya memaksa keinginanya saja yang dipenuhi, tetapi juga mengevaluasi diri untuk bisa menerima keinginan gebetan.

Jomblo bahkan lebih sering mengalah untuk membahagiakan gebetanya. Tentu saja sulit untuk duduk bersama para aktivis dan mengajaknya semengalah itu pada pemerintah. Tapi setidaknya aktivis juga perlu meniru langkah instrospeksi karena barangkali kritiknya malah tidak efektif jika diberikan dengan cara konfrontatif macam atlet tawuran. Jika kita artikan secara harfiah kritik dan kebencian itu sangat berbeda maknanya. Jika kebencian adalah ketidaksukaan yang mendalam, kritik adalah manifestasi rasa sayang agar yang dikritiknya menjadi lebih baik.

Berdaya Juang

Jika kalian mau menyusuri belantara negeri ini, maka kalian akan menemukan kesatria asmara yang terus berjuang di tengah berbagai macam hambatan dan ancaman. Ia bahkan rela terus berjuang melawan ancaman paling nyata; Calon Mertua. Yah sudah barang tentu dengan cara yang elegan dan tak anarkis, la emang siapa yang berani melawan kuasa calon mertua? Pengen cintamu kandas diperestuan?

Lagi pula Jomblo kurang berjuang apa coba, wong hati anaknya saja belum dapat ditaklukan, jomblo juga harus meluluhkan si orang tua. Maka sudah saatnya para aktivis juga meniru sifat roja’ kaum proletariat bertitel jomblo ini. Jomblo selalu menyisihkan harapan di tengah determinasi orang ketiga, di tengah intimidasi calon mertua.

Soal hate speech, Jomblo jangan ditanya lagi soal pengalamanya. Dari mulai disuruh ngaca hinggai dianjing-anjingkan bahkan dalam bentuk yang lebih konkret-diludahi- jomblo sudah biasa. Yang begini saja tak membat tekad jomblo surut, ia justru menjadikan hate speech sebagi pelecut perjuangan.

Jadi saya merekomendasikan agar para aktivis ini meneladani sifat terpuji jomblo. Sementara untuk menambah khasanah keilmuanya, melengkapi rak buku dengan buku Jomblo Tapi Hapal Pancasila karya sang maestro jomblo haluan kiri Agus Mulyadi bisa menjadi pilihan. Buku ini semacam buku babon untuk mendampingi buku-buku sekaliber Massa Actie, Orientalism, Madilog, Naar de Republiek, Das Kapitalis atau buku-buku sejenis. Kalau perlu masukan jomblo dalam barisan perlawanan petani, buruh, dan rakyat miskin kota. Jelas ini akan membuat efek deteran barisan perlawanan makin gahar. Hah…

Mengalahkan Ego untuk Memenangkan Si Dia

Saya pikir ini adalah ilmu Jomblo tingkat tinggi. Bahkan jomblo abangan juga tak akan sanggup mempelajari apalagi mengamalkan ilmu yang tataranya sudah ma’rifat ini. Mengalahkan ego tak semudah mengalahkan lawan yang wujud. Ini perlu kerendahan hati dan ketinggian budi, la kalau niatnya saja sudah pecicilan dan nyari tenar jelas tidak akan bisa mengamalkan ilmu ini.

Coba saja lihat betapa jomblo amat sering mengalah untuk memenangkan hati si dia. Mulai dari mengalahkan rasa malas menerjang hujan untuk sekedar mribik orang yang menganggapnya tak lebih dari sekedar tukang ojek, mengalahkan nafsu hedon untuk prihatin hanya demi membelikan gebetan jam tangan saat ulang tahunnya tiba, atau mengalahkan congkaknya hati untuk merelakan sang gebetan menolak ajakan jalan hanya demi alasan bermalas-malasan ga jelas. Yang jelas jomblo mampu menekan egonya, dan memunculkan sesuatu yang oleh Sigmund Freud disebut super ego.

La sekarang kira-kira para aktvis penentang hate speech ini mampu nda untuk sedikit saja mengamalkan ilmu ma’rifatnya jomblo. Coba saja sedikit menyeimbangkan Id dan Ego yang dalam prakteknya bisa dilakukan dengan menyampaikan kritik dengan cara yang lebih memartabatkan. Saya pikir perbedaan kritik dan kebencian sudah tidak lagi perlu dijelaskan pada muda-mudi yang gemar membaca ini. Singkatnya coba turunkan emosi ego, berdiplomasi tidak sekaku itu!

Tentang Penulis

Fajar

Fajar

adalah seorang pemuda desa, ia perkasa. Tekad jihadnya membulat seiring penindasan yang sering dialami kaumnya, JOMBLO.

  • feronica Tan

    @_@terkait-hate-speech-aktivis-musti-belajar-sama-jomblo/

    DAPATKAN FREECHIP | BONUS NEW MEMBER 10% | GABUNG DENGAN S1288POKER | BBM : 7AC8D76B

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A
    D.8.E.B.7.E.6.B
    !