Berita dan Artikel

Bersiap Sakit Hati, Pelajaran Berharga dari Miss Universe

Agus Mulyadi
Ditulis oleh Agus Mulyadi

Ketiga finalis Miss Universe sudah berdiri berjajar, mereka adalah Pia Wurtzbach dari Philippine, Olivia Jordan dari USA, dan Ariadna Gutierrez dari Colombia (Ingat, Colombia lho ya, bukan Columbia, tolong dibedakan karena keduanya memang dua entitas yang sangat berbeda, yang satu negara Amerika latin, sedangkan satunya lagi perusahaan kredit elektronik dan furniture).

Ketiga finalis nan cantik-cantik itu berdiri penuh harap, menunggu pengumuman penting, siapa yang bakal menjadi Miss Universe 2015, gelar bergengsi yang menjadi representasi tertinggi untuk sosok wanita yang punya 3B (Brain, Beauty, dan Boobs Behaviour) memikat, diantara jutaan wanita dari seluruh penjuru dunia.

Penonton riuh rendah, memberikan dukungan kepada ketiga kontestan. Para pemirsa di seluruh dunia yang menyaksikan acara lewat siaran televisi pun tak kalah berdebar dibanding ketiga kontestan, wabil khusus pemirsa dari negara ketiga finalis.

Penantian yang penuh debar itu akhirnya berkurang sepotong, saat pembawa acara, Steve Harvey mengumumkan bahwa Miss USA, Olivia Jordan berada di peringkat ketiga. Itu artinya, perebutan gelar Miss Universe hanya tinggal menyisakan Pia Wurtzbach dari Philipine dan Ariadna Gutierrez dari Colombia.

Bagaimanapun juga, debar memang harus diakhiri.

Waktu yang telah dinantikan pun tiba, Steve Harvey akhirnya mengumumkan bahwa yang berhak menyandang gelar Miss Universe 2015 adalah Ariadna Gutierrez dari Colombia. Para penonton bersorak, Gutierrez yang memang cantiknya bedebah keterlaluan itu terlihat berkaca-kaca. Mahkota Tiara pun kemudian disematkan di atas kepalanya. Malam itu agaknya akan menjadi malam yang indah untuk Gutierrez dan seluruh masyarakat Colombia.

Hingga pada akhirnya, tibalah momen yang sangat menyakitkan itu.

I have to apologize…” begitu kata si pembawa acara Steve Harvey

Yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang saya sendiri seakan tak tega untuk menuliskannya.

Ternyata, Harvey salah membaca results card (kartu hasil penentuan). Yang harusnya jadi Miss Universe ternyata adalah Miss Philippine, Pia Wurtzbach, dan bukan Ariadna Gutierrez. Di kartu hasil penentuan, nama Ariadna Gutierrez ditulis sebagai “1st runner up”, dan kemungkinan inilah yang disalahpahami oleh Steve Harvey.

Mahkota Tiara pun akhirnya direngut kembali dari Ariadna Gutierrez dan kemudian diberikan kepada Pia Wurtzbach.

Pia Wurtzbach kemudian nampak berkaca-kaca dan seakan tak percaya. Sebaliknya Ariadna Gutierrez nampak celili dan sumpek karena (mungkin) menahan malu, menjadi Miss Universe hanya selama empat menit. (Ah, andai saya bisa memberikan pundak saya untuk mbak Gutierrez bersandar).

Steve Harvey sebagai pihak yang paling bersalah kemudian menjadi bahan bullyan dan olok-olok empuk di jagad internet. Ia pun segera menuliskan permintaan maaf dan rasa bersalahnya melalui akun sosial medianya.

“I want to apologize emphatically to Miss Philippines and Miss Colombia. This was a terribly honest human mistake and I am so regretful” tulis Harvey di akun twitternya.

* * *

Sidang pembaca Jombloo yang terhormat, saya paham, bahwa sampeyan mungkin bukan penggemar atau pengikut setia Miss Universe, saya sendiri pun juga tak terlalu menggemarinya (saya cuma sebatas nafsu sama kecantikan dan kesemokan para kontestannya, tidak lebih).

Lagian, ngapain juga mengikuti Miss Universe, wong ya toh, paling mentok, juaranya cuma jadi bintang iklan You-C 1000 yang tugasnya cuma bilang “Healthy inside, Fresh Outside” dengan bibir dibikin se-sensual mungkin.

Tapi setidaknya, boleh lah kita jadikan peristiwa kehebohan salah paham penobatan Miss Universe ini sebagai pembelajaran yang berharga.

Peristiwa di atas mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersiap akan kemungkinan yang buruk dan memalukan. Kadang, sesuatu yang menyedihkan justru hadir sesaat setelah momen yang paling membahagiakan.

Seperti roda yang berputar, yang kadang berputarannya terjadi begitu cepat. Sama seperti Mbak Gutierrez yang sempat bahagia karena menjadi juara, namun akhirnya harus dikecewakan karena kemudian justru hanya menjadi runner up.

Pembelajaran ini tentu juga bisa terapkan pada kehidupan asmara sampeyan. Jangan pernah merasa bahwa posisi anda saat ini adalah posisi “yang paling disayang” oleh pasangan anda.

Mungkin saat ini, anda adalah pria nomor satu bagi pasangan anda, tapi perlu anda ingat, nomor satu tercipta karena ada nomor dua, nomor tiga, dan nomor-nomor berikutnya. Menjadi yang pertama, kedua, dan ketiga hanyalah masalah waktu. Seperti arisan, tinggal menunggu giliran.

Menyakitkan, namun memang begitulah hidup. Seseorang akan menjadi kuat bukan karena ia terus digembirakan, seseorang akan kuat justru karena ia disakiti, dihantam, dicampakkan. Dan itu terjadi kepada seluruh umat manusia. Wong Dian Sastro yang cantiknya begitu luar biasa saja toh pernah dicampakkan juga sama Rangga.

Pada akhirnya, saya hanya bisa berpesan kepada sampeyan, mari nikmati hidup ini dengan segala kisah asmaranya. Namun jangan lupa untuk selalu waspada. Bersiaplah untuk kemungkinan yang paling menyakitkan, karena cara terbaik untuk menjalani hidup adalah selalu siap untuk disakiti.

Jodoh memang tidak mungkin tertukar, tapi kalau ditikung? mungkin, diselingkuhi? sangat mungkin.

“Berbahagialah wahai kalian para kaum Jomblo, karena kalian selalu siap untuk sakit, bahkan tanpa menjalin hubungan sekalipun.”

Tentang Penulis

Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger partikelir asal Magelang. Penulis buku "Jomblo tapi Hafal Pancasila", "Bergumul dengan Gus Mul", dan "Diplomat Kenangan".

  • M Rifqi Sultoni

    Paling mentok mung bintang iklan, yo yo kuwi

  • Wiwik Set

    last bloody hell saying, vruh…. jleb sangat buat para jomblo… siap atit, walo tanpa menjalin hubungan :”v terharu gw bacanya

  • Fadilla Dwianti Putri

    “Saya cuma sebatas nafsu sama kecantikan dan kesemokan para kontestannya, tidak lebih” such a sexist joke.

  • maria handayani

    P*O*K*E*R*V*I*T*A*
    D*8*E*B*7*E*6*B
    #