Curhat

Dalam Bayangan Mantan

Melfin Zaenuri
Ditulis oleh Melfin Zaenuri

“Tiada keadaan yang paling menggelisahkan selain keadaan saat terkenang bayangan mantan,” kata Fajar seraya menirukan intonasi sang khotib yang berbicara di mimbar. Waktunya pas, pas kebetulan Jum’atan.

Fajar adalah temanku di kampus. Suka baper. Dan saking bapernya, melihat abang gojek boncengan melintas di jalan raya samping kampus saja iri, lalu berujar ke teman-teman: abang gojek aja berpasangan, aku kapan ya. Selepas berkata demikian, dia langsung mengambil tisu di tasnya, pergi ke toilet dan mengusap air matanya di sana.

“Lho kok bisa begitu?” Aku yang duduk di sampingnya kaget. Pikiran yang sedari tadi fokus pada khotib yang sedang menyalahkan dan mengkafirkan orang lain pecah. “Berani-beraninya kamu bikin fatwa tanpa minta restu dari MUI.”

“Bayangan mantan itu lebih berbahaya, lebih mematikan ketimbang rokok”. Dia melanjutkan pernyataannya tanpa sedikitpun menghiraukan interupsiku.

“Lho lho, sekarang kok malah nyambung ke masalah rokok. Awas kedengaran aktivis anti-rokok garis keras kamu. Bisa kenak petisi online. Bisa di-DO kamu dari kampus tercintah ini.”

“Tunggu dulu bro. Aku belum selesai ngomong. Dengerin dulu dengan sabar. Karena perempuan itu akan takluk pada kesabaran lelaki. Bukannya kamu jomblo? hehe.”

“Jangan membangunkan macan yang sedang tidur.”

“Emang kamu macan? Naklukin hati seorang perempuan saja nggak bisa, apalagi mau menguasai hutan belantara. Imposibel.”

“Udah-udah. Nggak usah nyenggol-nyenggol daging waras. Lanjutkan fatwamu saja itu.”

“Mantan itu makhluk yang paradoks. Mengingatnya membuat kita senyum-senyum sendiri di kamar. Bahagia dan ada perasaan untuk merangkulnya kembali. Berharap dapat menutupi jurang pemisah yang membuat putus. Ada keinginan untuk menjahit sobekan pakaian cinta dan menjaganya seraya berharap tak membuatnya sobek lagi.”

Fajar menghela napas. Membetulkan posisi duduknya. Sesekali kedua tangannya meraba-raba dadanya, melindungi hatinya, seakan-akan dalam hatinya berujar: aku rapopo, Dab! Lalu ia melanjutkan pernyataannya dengan sok wibawa.

“Tapi itu semua hanyalah masa lalu. Kenangan manis. Yang melenakan kita. Membuat kita lupa akan tugas-tugas lain. Membuat kita sebagai agent of change ini lalai akan tanggung jawab masa depan. Jika kamu mengalami keadaan seperti itu, waspadalah! Berarti kamu berada dalam bayangan mantan,” ujar Fajar, sedikit tersedu sesekali mengambil nafas.

“Tapi, bro, kata Bung Karno Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. JAS MERAH.

“Sekali-kali melupakan sejarah emang nggak boleh, kalok berkali-kali mah nggakpapa. Bukankah negara ini telah berkali-kali melupakan sejarah; tentang pelanggaran HAM di masa lalu, korupsi bapak piye enak jamanku itu, dan banyak lagi yang lainnya.”

“Hush!! Itu Bung Karno lho ya yang ngomong, bapak proklamator bangsa Indonesia, bukan Pak Presiden kita sekarang yang bisanya mencatut ide-ide beliyau demi memikat hati rakyat di pilpres kemaren. Bisa kualat kamu nantinya.”

“Begini bro. Memang mantan adalah bagian dari sejarah kehidupan kita. Itu masa lalu, ya harus dilakukan sebagaimana masa lalu. Ditafsiri ulang kemudian dikontekstualisasikan untuk zaman kita, untuk masa depan kita.”

Khotbah Jum’at berhenti. Obrolan kecil kami berdua juga berhenti otomatis. Rupanya khotbah sesi pertama selesai, tinggal sesi kedua. Saat khotib menyampaikan kata pertamanya di khotbah kedua, Fajar kembali melanjutkan kata-katanya yang sempat terpotong.

“Sampek mana sudah? Oh ya. Beda jika kita berada dalam bayangan mantan. Kita tak bisa menafsirinya, apalagi mengontekstualisasikannya. Sebagaimana bayangan, ia akan mengikuti kita. Kemanapun kita pergi. Untung jika hanya mengikuti, kalok sampek menghantui?! Bayangan mantan akan senantiasa menghantui keseharian kita. Serem. Kamu tau bait lagu itu …. ?”

“Lagu apa?”

“Nah, baru ingat aku. Kemanapun ada bayanganmu / dimanapun ada bayanganmu / di semua waktu ada bayanmu / kekasihku [….] mau tidur teringat padamu / mau makan teringat padamu / mau apapun teringat padamu / kekasihku.”

“Walah-walah. Itu mah lagu dangdut. Mbak Evie Tamala yang nyanyi. Judulnya Aku Rindu Padamu.”

“Ya itu, persis menggambarkan seseorang yang ingat mantan terus, ingin rujuk, dalam bayangan mantan. Atau bahasa kerennya nggak bisa move on. Dapat dibayangkan, kapan dan di manapun selalu ingat bayangannya. Mending jika ingat saat makan, kalok saat ujian skripsi?! Ujian masuk kerja?! Bisa menyesal seumur hidup loe!”

Aku masih betah menyimak. Fajar melanjutkan.

“Kalok sudah begitu, bayangan mantan akan mematikan rasa dan memutus nalarmu.”

“Untuk kali ini aku percaya sama kamu. Setelah Jum’atan, aku mau unfollow twitternya, hapus perteman di facebook. Foto-fotonya di hp dan laptop aku delete. Surat-suratnya aku kiloin.”

“Emang kamu punya mantan?”

JLEB!! Suara iqomah berkumandang.

Tentang Penulis

Melfin Zaenuri

Melfin Zaenuri

Masih jomblo. Sambil menunggu buku nikah terbit, sesekali belajar masak di kantin filsafat UGM. Bisa disapa di @melfinceng (twitter) dan Melfin Zaenuri (fesbuk).

  • Alvino Parker

    Aku masih belum sepenuhnya move on dari mantanku. Sedangkan mantanku gagal move on dari mantannya yang baru. Sial.

    • Fajar Nurcahyo

      Solusinya, coba kamu bujuk mantanmu untuk rujuk dengan mantannya.

  • Disapa Be En

    melvin zaenuri, bagi(an)ku adalah stock jomblo dg kualitas mengalahkan diar juga risal di jagad elesefco’gito.sih