Berita dan Artikel

PUTUS: Cemburu, Marah, atau Bosan?

Tri Em
Ditulis oleh Tri Em

Banyak pasangan memilih putus justru ketika mereka berada di puncak kemesraan. Mereka yang pada saat awal berpacaran membikin beberapa kesepakatan. Begitu mudah mereka mengatasnamakan cinta dan keikhlasan. Berikrar. Jangan saling mengkhianati perasaan masing-masing. Tapi ketika ada suatu ketidaksengajaan, misal ada urusan mendadak sehingga tidak bisa langsung memberi kabar kepada pasangan, ikrar itu pun tinggal omong belaka. Rasa sayang lantas berganti marah, bahkan ada pasangan sampai menuduh dan mengeluarkan segala sumpah serapah. Katanya tidak perhatian lah, katanya tidak peka lah. Kalau sudah seperti itu, berbotol-botol bir pun tak akan cukup untuk membuat hubungan mesra kembali.

Kemarahan tidak pernah berpihak kepada waktu dan kepada siapa pun. Dan yang perlu disadari, setiap orang mempunyai durasi marah yang berbeda-beda. Ada yang cuma beberapa menit, beberapa jam, beberapa hari, beberapa minggu, ada juga yang marah bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya. Tidak ada yang salah dengan marah. Namun apakah sikap itu efektif, sekadar ingin terus bahagia hingga kelak di hari tua?

“Ngomong begini mah gampang!” Eh, tunggu sebentar. Saya bukan bocah SMP yang baru satu-dua kali berpacaran. Saya juga bukan fans sejati Mario Teguh. Tapi saya berani bertaruh bahwa kekonyolan putusnya sebuah hubungan disebabkan oleh tiga hal ini: cemburu, marah, bosan.

Cemburu, marah, bosan, pernahkah kau berpikir bahwa tiga hal ini adalah alasan konyol untuk putus? Saya kerap memikirkan tentang kekonyolan itu.

Mengapa mesti cemburu, padahal pacar juga butuh waktu untuk berkumpul bersama teman-temannya? Mengapa harus marah, ketika cinta bukan lagi kekangan, malah semestinya cinta adalah memerdekakan? Mengapa harus bosan, padahal kadang kaurindu akan tawa dan ngambeknya? Barangkali pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang perlu kautanyakan kepada dirimu sendiri. Kalaupun kau berdiri di hadapan cermin, mungkin ini lebih baik lagi.

Ketika dihadapkan pada suatu masalah, cobalah untuk mendiskusikannya dengan pasangan. Cepat menyimpulkan tanpa ingin tahu pendapat pasangan, bisa jadi ini adalah suatu kesia-siaan. Betapapun kau marah kepada pasanganmu, marahlah secukupnya. Bukankah kau sendiri tak suka dengan hal-hal yang sifatnya berlebihan?

Kau boleh marah terhadap pasanganmu, malah terkesan aneh bila kau tak pernah marah. Benarkah kau mencintai pasanganmu? Benarkah kau tak ingin kehilangan perasaan itu? Sebab ada yang lebih menyakitkan selain kehilangan orang yang kita cintai, yaitu kehilangan perasaan kita sendiri. Begitulah pendapat pacar saya. Ia pun bilang begini, “kemarahan adalah mencintaimu dari sisi yang berbeda.” Oh, tersenyum saya dibuatnya.

Cemburu, marah, bosan—seperti pacar saya bilang—ketiga hal ini bisa jadi cara mencintai dari sisi yang berbeda. Bukan sebagai alasan untuk putus. Teruntuk saya dan pacar saya, sungguh kami tak akan pernah tahu, bahagia yang mana lagi yang sanggup memerdekakan derita.

Tentang Penulis

Tri Em

Tri Em

Amorfati Fatum Brutum. Tim J @jombloodotco.