Berita dan Artikel

Sebuah Gugatan terhadap Kisah Roman Picisan

Dewi Setya
Ditulis oleh Dewi Setya

Dalam hidup ini, setidaknya ada dua hal yang benar-benar saya yakini. Yang pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa dan yang kedua adalah jatuh cinta itu fantasi belaka!

Selebihnya jatuh cinta hanyalah sebuah dongeng (jika bukan gurauan yang dianggap serius) karangan para borjuis yang direproduksi melalui teks-teks, bunyi-bunyi, gambar-gambar ataupun rangkaian dari semuanya. Oleh mereka, sesungguhnya terma cinta itu dibentuk menjadi sesosok reptil purbakala yang melahap makna kritis, bijaksana, puitis, romantis, semuanya dikunyah-kunyah dengan taringnya hingga makna cinta yang sebenarnya menjadi sempit, sempit sekali laksana lubang hidung para penderita cinta roman picisan. Oleh Plato, cinta disebut sebagai penyakit mental serius. Jika saya menyepakati adanya terma cinta yang telah mengalami penyempitan makna seperti hari ini, maka saya pun menyepakati diktum pengikut Socrates itu.

Bagi orang awam lagi jomblo layaknya saya, setidaknya ada dua kisah roman picisan yang fenomenal yang diketahui. Ialah Romeo dan Juliet karya Shakespeare, seorang ningrat kaya raya yang mendramatisir nafsu asmara antara dua insan kalangan bangsawan layaknya Shakespeare. Kisahnya mendunia akibat direproduksi demikian banyak melalui sinetron, drama, buku chiklit, teenlit, dan metropop dengan berbagai modifikasi, namun tetap menggunakan kerangka konseptual sama.

Berikutnya kisah asmara di film Titanic, sebuah kisah roman picisan mengharu biru di tengah megahnya perahu, digagas oleh James Cameron, seorang borjuis Canada. Pada intinya yang saya ingin kemukakan adalah, pernahkan kisah-kisah picisan tersebut lahir dari kalangan kelas bawah? Ditulis oleh seorang buruh pabrik miskin yang berpuasa pagi harinya demi bisa makan malam bersama keluarga? ataukah kisah-kisah semacam ini memang selalu ditulis oleh seorang borjuis jika bukan aristokrat?

Pertanyaan tersebut terlintas begitu saja ketika membayangkan saya yang seorang mahasiswa kampung lagi pas-pasan berpredikat ‘pelanggan setia nasi kucing belakang kosan’ kelak menulis kisah romantis picisan ala pemuda-pemudi, laksana buku-buku Illana Tan. Rasanya saya tidak akan sanggup!

Proletar seperti saya ini rasanya terlalu sayang menghabiskan waktu untuk memikirkan sebuah percintaan semu yang mengadopsi relasi suami istri itu. Seumur hidup saya bahkan belum pernah mersasakan relasi percintaan demikian. Hidup kami begitu zuhud adanya, tidak hanya soal materi, tapi juga dalam hal cinta, kami adalah pelaku asketisme cinta maqam tertinggi.

Kenapa kemudian ini bermasalah? Pertama karena tokoh-tokoh perempuan dalam kisah-kisah picisan itu secara deskriptif diungkapkan cantik jelita persis seperti konstruksi iklan sabun. Yang kedua, dongeng roman picisan tersebut telah membuat pemuda-pemudi sekarang kebanyakan cacat mental. Dengan demikian, mereka akan menjadi pewaris OrBa sejati yang kuper (kurang pergaulan) akan realitas hari ini, para muda-mudi ini bahkan tidak tahu bahwa membeli ‘sesuatu’ hari ini bukanlah karena butuh atau tidak butuh, bagus atau tidak bagus, ngetrend atau tidak ngetrend tapi merupakan sebuah pilihan politik. Mereka tak sadar bahwa tiket XXI yang mereka beli setiap akhir pekan itu setara kursnya dengan kayuhan tukang es Walls keliling, atau tukang becak mengelilingi sirkuit Malioboro selama belasan kali.

Selanjutnya, kisah roman picisan ini telah mengeksplorasi (jika bukan mengacak-acak) demikian detailnya hasrat batiniyah anak manusia. Kerangka konseptual roman picisan yang rata-rata layaknya kisah disney princess ini telah membuat  gadis-gadis rela mengantri berjam-jam dan membayar mahal demi perawatan wajah dan tubuh, yang sekali perawatannya bisa menyaingi gaji seorang cleaning service di kampus saya. Eklsplorasi oleh yang disebut “cinta” itu tak sampai disitu, ia juga mengkooptasi kemampuan imajinatif manusia untuk sebatas menulis teks-teks puitis mehek-mehek seputar rindu dan cinta yang maknanya sempit. Ini mengakibatkan semakin jarang ditemukannya puisi perlawanan.

Omong kosong  tentang kisah roman picisan yang dikonsumsi pemuda-pemudi hari yang berupa bualan bengek (jika bukan ngehek) ini intinya akan memperlemah mental dan daya kritisisme. Mereka yang terlanjur terlena mengkonsumsi dongeng-dongeng picisan ini menjadi layaknya pesakitan yang jiwanya bahkan tak pernah hidup. Hari-harinya dirundung pilu jika sang kekasih tak kunjung mengirim pesan, sebaliknya makna kebahagiaan bagi mereka sesederhana mengunyah lolipop bersama di senja kala taman kota sembari selfie berdua dengan kekasih.

Jatuh cinta yang merupakan efek dari dramatisasi kehidupan, sebenarnya juga tak lebih dari sebuah fantasi. Kita mengandaikan diri seolah-olah menyayangi seseorang, padahal kita sedang menghamba diri pada hasrat dengan absurditas maha tinggi. Kita sesungguhnya sedang dipermainkan oleh konstruksi-konstruksi sosial, kata mencintai itu sebenarnya kamuflase dari mengagumi, bukan?

Kita mengagumi keindahan seseorang yang kita sebut cinta, keindahan itu sendiri terkonsepsi dari apa-apa yang kita konsumsi sehingga menimbulkan sebuah konstruksi. Bung tidak akan jatuh cinta pada Sukiyem karena ia seorang janda, begitupun nona susah jatuh cinta pada penjual es keliling karena ia tak cukup bergengsi. Dalam hal ini, logika mencintai saja telah cacat. Seharusnya kita mencintai seorang mahkluk dari kekurangannya terlebih dulu, karena hanya pada Tuhan kita mencintai lantaran keindahanNya.

Terakhir, saya ingin mengakui bahwa sebenarnya tulisan ini adalah hasil dari perenungan mendalam untuk sebuah argumen pembelaan terhadap para jomblo dalam upaya menjaga kelangsungan  hidup mereka agar kekal menjadi jomblo bergengsi. Atau paling tidak, dalam rangka membesarkan hati para jomblo dengan pandangan bahwa yang bukan jomblo adalah para korban dari kisah-kisah roman picisan, sementara yang jomblo adalah manusia bermartabat yang menggunakan akal untuk mengcounter segala wujud keindahan semu. Dengan demikian setidaknya saya bisa menghirup nafas lega mengingat saya bukan satu-satunya mamalia jomblo di alam raya percintaan adam dan siti hawa ini yang akan bangga dengan predikat jomblonya dan sejarah hidupnya yang nihil akan kata ‘mantan’.

Tentang Penulis

Dewi Setya

Dewi Setya

  • maria handayani

    P*O*K*E*R*V*I*T*A*
    D*8*E*B*7*E*6*B
    ##