Berita dan Artikel

Single, Tak Hanya untuk Jomblo

Erika Hidayanti
Ditulis oleh Erika Hidayanti

Beberapa hari yang lalu film berjudul Single dirilis. Film yang dibintangi oleh Raditya Dika ini bercerita tentang perjuangan seorang jomblo dari lahir dalam menemukan cintanya. Jika dilihat dari judulnya film ini seharusnya diperuntukan bagi para jomblo yang senasib dengan Ebi (nama pemeran utama di film itu). Namun miris, nyatanya film ini malah ramai dikunjungi oleh mereka yang sudah berpasangan.

Alih-alih menjadi penghibur si jomblo, film yang mengusung kisah hidup kaum jomblo masa kini itu malah menjadi tambahan kisah pilu lain baginya. Bagaimana tidak, di bioskop antrian pembelian tiket film karya Sunil Soraya ini tetap dipenuhi oleh pasangan muda-mudi kasmaran. Tetap saja para jomblo tak banyak yang sanggup untuk datang dan menikmati film ini sendirian.

Duh, sedih rasanya jika membaca dua paragraf pertama saya tadi. Jomblo tak semenyedihkan itu kok. Alasan paling mendasar kenapa film yang berkisah tetang jomblo kekinian ini tetap ramai ditonton oleh mereka yang telah berpasangan adalah bioskop yang memang sejak awal tak ramah jomblo.

Bukan, bukan karena para pasangan itu ingin menikmati film genre komedi kisah jomblo sejak lahir ini dan menjadikannya bahan tertawaan, tidak tak sekejam itu. Justru, hal ini bisa menjadi pelajaran bagi mereka yang berpasangan untuk menjadi lebih ramah jomblo. Karena di sini perjuangan jomblo baik hati yang mencari cinta sejati digambarkan dengan baik.

Alasan lainnya pun bukan karena jomblo tak bisa mencari teman dan pergi menonton ke bioskop, bukan, bukan itu hanya alasan klasik. Lebih elitenya, para jomblo ini tak mau lagi menatap kepedihan dan seakan-akan berkaca dengan menonton Single. Namun, mereka sudah mantap dan mau move on jauh lebih baik dari Ebi untuk melepaskan status jomblonya.

Sebenarnya, jika kita lihat lagi film Single ini tak hanya berkisah tentang bagaimana perjuangan jomblo masa kini mencari cinta sejati. Tapi juga menyorot kisah-kisah pacaran kekinian yang juga penuh lika-liku. Misalnya saja kisah abang-abangan zone yang sekarang memang sedang kekinian. Lika-liku kisah cinta sepasang yang terjebak dalam zona kakak-adik.

Belum lagi kisah tentang sepasang kekasih yang terjebak dalam cinta formalitas. Masih bertahan, masih jalan, padahal gak sayang-sayang amat. Nah, mungkin kisah-kisah ini juga yang bisa menjadi pelajaran bagi para pasangan yang membludak menonton film si jomblo ini. Ternyata, tak selamanya berdua itu lebih indah dan sendiri itu menyedihkan.

Jadi, bagi kalian entah jomblo, berpasangan, atau bahkan jomblo lokal janganlah merasa film ini hanya untuk jomblo atau menertawakan kisah si jomblo yang sudah sering ditertawakan. Film ini bisa sarat akan makna dan kaca untuk kisah cinta kalian di dunia nyata. Ya, kali aja dengan nonton film ini bisa mendapat motivasi untuk berjuang memperbaiki sejarah cinta dalam hidup kalian.

Akhir kata, jangan takut sama bioskop ya, mblo!

Tentang Penulis

Erika Hidayanti

Erika Hidayanti

pejuang LDR yang kalo ditinggal jadi jomblo lokal

  • maria handayani

    P*O*K*E*R*V*I*T*A*
    D*8*E*B*7*E*6*B
    @@maria_handayani:disqus