Berita dan Artikel

Tiga Cewek Jomblo Paling Ngehitz 2015

Edi AH Iyubenu
Ditulis oleh Edi AH Iyubenu

Karena itu, Saya mendadak haru ketika diamanahi Aditia untuk menyusun kaladeiskop “cewek-cewek jomblo paling hitz” di sepanjang 2015. Kualifikasinya adalah jomblo dan ngehitz.

Hieraclitus barangkali tak pernah menakar kemungkinan dinamika makna “abadi” dan “fana” saat dulu memfatwakan pekikannya yang sangat terkenal: “Tiada yang abadi di dunia ini selain perubahan.”

Apa arti setahun bagimu kini?

Dulu, dulu sekali, perempuan Sinta rela menunggu pujaannya, Rama, kembali dari medan perang atas nama sebuah kesetiaan. Bahkan kendati harus mendapati nasib buruk kemudian akibat cemburu Rama yang enggan menyentuhnya sebelum Sinta membuktikan ketulusan cintanya karena desas-desus godaan Rahwana. Sinta pun rela menempuh “tapa obong”. Kamu, ya kamu, maukah melakukan tapa obong jika diminta arjunamu?

Beda dulu beda kini. Di kalangan Harim kekinian, baper bertubi-tubi menjadi persoalan serius yang selalu memangkasi waktu sedemikian kilatnya. Bukan berarti mereka kurang setianya dibanding Sinta; mereka hanya kurang penyabarnya. Lalu muncullah kredo: jangankan setahun, semalam saja chat masih “D”, putuslah cinta kita. Bapernya Rama terusik desas-desus Rahwana jelas beda pangkat dengan bapernya Tri Em.

Pada posisi demikianlah kelanggengan menjalin tali kasih menjadi prestasi yang mewah kini. Dan, maaf-maaf ucap, ini pulalah Saya kira biangnya mengapa hari ini begitu banyak duda dan janda berserakan tanpa anak tanpa surat cerai selain selembar kusut kenangan. Jadi, Anda tak perlu baper selevel Rama jika kelak mendapati Harim di ranjang Anda rupanya adalah janda dimaksud; setamsil Anda yang enggan mengakui adalah duda, seminimnya di kamar mandi.

Karena itu, Saya mendadak haru ketika diamanahi Aditia untuk menyusun kaladeiskop “cewek-cewek jomblo paling hitz” di sepanjang 2015. Tiba-tiba saya ingat foto Nikita Mirzani yang sedang ditato sejengkal di atas pangkal pahanya. Ingin saya memasukkannya, tapi … Nikita bukanlah bagian dekat dunia saya. Pun Ia bukan jomblo. Bagaimana kalau Agus Mulyadi? Ah, cewek, Maz, cewek, pekik Adit sambil membanting buku Bukan Pasar Malam Pramoedya yang di dalamnya ada narasi: hidup ini adalah sebuah kesia-siaan anakku….

Ya, sudah, saya tuliskan para editor dan penulis saja. Kualifikasinya adalah jomblo dan ngehitz. Diam-diam, saya bercuriga jangan-jangan Adit sedang meradar nama-nama yang akan saya tuliskan untuk dibribikinya, lantaran namanya sediri masuk pada daftar “Lima Jomblo Pilih Tanding 2015” yang ditulis Mas Puthut. Untuk, boleh jadi, dibagi pula ke Agus Mulyadi dan Nody Arizona. Atau, Tri Em untuk mencetak mantan ke 71-nya.

  1. Avifah Ve

Panggilannya Ve. Editor fiksi, salah satu staf tersibuk di Kampus Fiksi dan basabasi.co, sesekali nulis cerpen dan esai semenjana; skill terfasihnya adalah menulis status-status baper dengan perspektif bola hingga agama.

“Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata bahwa cinta adalah obat penyakit hati yang paling ajaib. Bang, Dedek membutuhkan keajaiban itu.” Itu satu contoh statusnya. Mari simak satu lagi: “Setelah ribut perkara Turki nembak pesawat tempur Rusia, kini pada ribut soal Lamborgini versus Ferrari. Kalau saya kok masih ribut soal: dana nikah yang makin melejit tinggi, ditambah nyesek pas tahu calon suami belum available.”

Jika dikumpulkan semua, lalu diterbitkan, niscaya akan lebih tebal dari novel Junichiro Tanizaki, lalu boleh jadi dimasukkan ke dalam salah satu baper terbaik 2015 oleh Khatulistiwa Baper Award (KBA).

Satu lagi kehebatan Ve ialah kemampuannya meramu kanan dan kiri menjadi suatu performa yang fresh menakjubkan. Misal, jika Ve marah, takkan pernah Anda mendapatinya mencak-mencak. Ia kuasa betul mendendangkan shalawat Nariyah sembari menatap tajam pada sosok yang membuatnya gerah. Tipikal caloh ibu yang melindungi sarangnya dengan sangat siap mati.

  1. Utami Pratiwi

Namanya Utami Pratiwi, cukup sering menulis di situs Jombloo ini. Anak Bukit Tinggi van Jogja, alias Djogdja Lantai Dua, rumahnya bersebelahan dengan pantai laut selatan. Tetapi jangan salah, di dekat rumahnya pula tersedia ATM. Ya, ATM BRI.

Posisinya signifikan di kantor publishing yang digelutinya. Redpel, yang bertanggung jawab pada pencapaian jadwal editing, pengkonsepan, dan produksi tema-tema bisnis dan sebidangnya. Sebuah tugas tak sederhana, yang sebab itulah saya bertubi-tubi mafhum betapa ia acap lelah batin dan merasa perlu mengobatinya dengan status-status baper.

Dibandingkan Ve, Tiwi saya kira lebih mumpuni berbaper di status-statusnya. Jika diterbitkan, bisa lebih tebal dari Kitab Tafsir Al-Mishbah. Khatulistiwa Baper Award (KBA) sangat perlu mendudukkannya di peringkat utama penerima trofi baper.

Tak heran, ia kian tebal saja berkaca mata. Tak heran pula, ia malas berwisata selain ke rumah emak nun jauh di mato; kecuali pas dikondisikan oleh Adit untuk dimasukkan ke grup jelajah tembakau di Lombok tempo hari dengan penilaian “tulisan-tulisan di blogmu bagus, Wi.”

Dulu, dulu sekali, Bandung Bondowoso mengamuk gara-gara Rara Jongrang membangunkan ayam-ayam sebelum waktunya sehingga berkokok dengan suara talu palsu; kini, untuk meneliti tembakau anda tak perlu mengerti dulu apa bedanya tembakau di rokok Marlboro, Poesaka, dan Halim. Asal, “tulisan-tulisan di blogmu bagus, Wi.” Soal di antara tulisan-tulisan blog yang bagus itu ada sentuhan “Raja Midas” Agus Mulyadi, wallahu ‘a’lam bis-shawab.

  1. Qurotul Ayun

Gadis Jember yang mengaku tak bisa berbahasa Madura ini tergolong komplit. Baca kitab gundul bisa, menulis esai mayanlah, mengarang novel jago (novel satu-satunya pernah meraih anugerah dari Balai Bahasa dan Sastra Yogyakarta), hobi travelling ke gunung-gunung berbelukar dalam rangka kian mendekatkan diri pada suket-suketan, dan seorang editor yang multitasking.

Ingin membuktikan kebenaran pujian saya? Follow saja akun-akunnya, Qurotul Ayun, niscaya Anda akan menemukan berderet postingan ia lagi di gunung apa, gua apa, jurang apa, candi apa, hutan apa, makan suket jenis apa saja, sembari shalat di bawah sunrise yang merekah orange.

Kurang apa coba?

Muslimah syar’i penggemar Oki Setiana Dewi dan Peggy Melati Sukma, gemar baca buku, makanannya adalah go green plus Euro 5 dan Hibrid-power, gemar piknik sehingga nggak gampang mutungan, ahli meracik kata-kata, dan … bapernya tak pernah ketinggalan seiring perubahan zaman. Satu lagi, menyetiai kucingnya dalam LDR-an.

“Senja datang lebih dulu daripada kedatanganmu,” begitu salah satu tulisannya. Selain soal hapalan Alfiyah yang dijanjikan seorang lelaki dan setahun kemudian tak pernah datang lagi.

Sebetulnya, ada banyak nama lain yang otoritatif pula untuk dimasukan pada daftar ini. Ada Dhanica si pemakan pare dengan alasan “agar pahitnya pare mengajariku pahitnya cinta yang hilang”, misal, lalu Mini GK, novelis yang selalu hadir di mana-mana dalam karib dengan banyak penulis jantan via postingan foto-foto prewed bergaya melata.

Jika kelak ada arjuna yang hendak mbribiki mereka, entah itu Adit, Gus Mul, atau Reza Nufa, ingat nasihat yang saya nukil dari Soe Hok Gie ini dalam menghadapi mereka: “Kenangan merupakan soal emosional pertama setiap wanita yang berpacaran.”

Tentang Penulis

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Rektor Kampus Fiksi dan calon doktor Islamic Studies yang setiap Sabtu malam setia menghibur kaum jomblo dengan tagline “Aku Peduli Maka Aku Ada”. @edi_akhiles

  • Qurotul Ayun

    What? Penggemar OSD dan Peggy? Ngoleksi bukunya aja enggak.

  • Kenalkan saya pada salah satunya, mas…

  • Aditia Purnomo

    Lah, Mas Agus kan udah kenal sama Tiwi 😀

  • Puput Tyas

    Uajuuuuuuur!!!!! Nguakak ora mandeg!!!!!