Curhat

Menulis dan Sepenggal Sajak Kerinduan

Dedy Ibmar
Ditulis oleh Dedy Ibmar

Menjelang senja, dia kembali datang meneror. Menyusup begitu saja. Menerobos sarang persembunyianku seenaknya. Menelisip di bawah kamar kost tua yang selama ini kuhinggapi. Meraung-raung di belakang punggungku. Memukul dinding-dinding purba di selataran Ciputat yang megah.

“Sebagai aktivis, PR-mu tinggal satu, menulis.”

Aku diam saja. Terpekur di kamar kost yang mampet dan bau. “Kau lihat ini,” katanya sambil mengacung-acungkan lembaran kertas di depan hidungku. “Aku sudah menulis tentang berbagai hal. Kali ini, sudah 3650 kata, 14 halaman sudah kutorehkan,” dan ia melempar-lempar kertas itu ke atas seperti pemain sirkus memainkan empat bola. Aku hanya meliriknya.

“Ayolah, akhiri 100 angka ini dengan ciamik. Tunjukkan bahwa memang kau telah melewati segala proses. Demam yang menyerangmu. Kebuntuan yang nyaris membuatmu gila. Masa belum juga sampai pada tahap pencerahan?” Dia terus nyerocos sambil mengepulkan asap dari mulutnya yang sinis. Aku masih diam. Ngeloyor dan meninggalkannya yang nangkring di bibir jendela pikiran.

“Aku harus pergi, aku harus dapat sedikit inspirasi!” gumamku dalam hati.

Tanpa babibu kuarahkan kaki berjalan menuju kampusku, UIN Syarif Hidayatullah

Di sepanjang jalan, dia terus saja membawa terror. Suaranya terus berdengung. Ia bahkan memanggil arwah senior-senior kampus yang lain untuk ikut bersama-sama menerorku. “Kau harus nulis, jadi aktivis itu produktif”. Aku malah semakin resa

Di depan kampus aku melihat foto calon walikota tangerang selatan meringkik mengejekku. “Tulis tentang aku. Tulis tentang aku. Tulis tentang aku”. Teriaknya makin menjadi. Aku seperti disengat listrik. Ide-ide bermunculan seketika. Banting setir, itulah yang kulakukan. Aku langsung bergegas kembali menuju kost.

***

Namun….

Kopi yang dari dua jam lalu kuseduh mulai dikerumuni lalat. Laptop masih manganga lebar tanpa kumulai dengan ide-ide yang kurencanakan di depan kampus tadi. Semuanya hilang seketika !!.

“Sudahlah”

“Mending aku ke kampus lagi aja, cari inspirasi” kata yang kutujukan untuk memotivasi diriku sendiri.

Sesampainya di kampus, aku semakin terjepit. Meringkuk di kaki besment ushuluddin yang kotor dan dekil. Celingukan dan termenung menatap sebatang rokok terakhirku yang hampis binasa. Kebingungan antah-berantah itu semakin membuatku semakin karut karut. Berkejaran dengan waktu yang tak mau berhenti.

“Tulisan itu harus memikat, menarik, menggoda. Seperti resepsionis hotel yang menyapa tamunya. Jika ia cantik, ramah, dan murah senyum, tamu-tamu akan betah dan memutuskan menginap. Sebaliknya, cemberut dan sinis akan menedang mereka di pintu masuk”. Teror itu tak berhenti. “Aih. Metafora Anda buruk sekali, Bg… ide boleh brilian, tapi eksekusi yang menentukan” Aku makin ciut dan tak temu arah di mana mesti memulai.

Apa yang mesti kutulis, sedangkan yang terpikirkan adalah sesuatu yang lain. Seseorang yang sekali mengingat namanya, dalam 0,01 detik akan ada ribuan bayangan manis sekaligus pahit yang merekam jejaknya? Bayangkan, tak sampai sedetik! Semua almari simpanannya di jagad pikiran terbuka lebar-lebar. Maka aku hanya diam meski dia berteriak lantang.

Tiba-tiba sesuatu muncul seketika, aku buru-buru kembali ke kost. Gemuruh kendaraan serta sapaan beberapa teman tak lagi kugubris. Tanpa kopi dan rokok, aku langsung membuka laptop dan kutulis apa yang tiba-tiba mendatangiku tadi.

“jika Rindu Sedang Melanda, jangan melawan, pasrah saja, kau akan kalah”

Hanya itu kah? Betul sekali, itu saja. Namun aku puas. Bukankah penulis yang baik ialah menulis dengan apa yang dirasakan? Seketika, sajak itu kuabadikan di blog pribadiku.

Tentang Penulis

Dedy Ibmar

Dedy Ibmar

Penulis ialah Makhluk Ciputat Pecinta Senja. Penulis bisa disapa di akun @dedyibmar

  • feronica Tan

    #menulis-dan-sepenggal-sajak-kerinduan/menulis-dan-sepenggal-sajak-kerinduan/menulis-dan-sepenggal-sajak-kerinduan/

    DAPATKAN FREECHIP DAN FREEBET DENGAN KAMI S1288POKER | BBM : 7AC8D76B

  • maria handayani

    P*O*K*E*R*V*I*T*A*
    D.8.E.B.7.E.6.B