Berita dan Artikel

Selamat Tahun Baru, Mblo

Cepi Sabre
Ditulis oleh Cepi Sabre

Jomblo atau tidak jomblo, kita semua akhirnya memasuki tahun 2016. Selesailah segala hal yang terjadi di tahun 2015, mulai dari yang menyenangkan sampai yang tidak menyenangkan, termasuk perdebatan-perdebatan. Orang masih berdebat soal Jokowi dan Prabowo, soal PKS, soal pejabat yang tertangkap korupsi, soal artis yang kawin-cerai, selingkuh, atau terlibat prostitusi daring, bahkan orang berdebat soal warna baju dan kucing yang sedang naik atau turun tangga.

Tahun ini orang akan berdebat lagi. Mungkin akan ada lagi pejabat yang tertangkap atau artis yang ke-gap nginap di hotel bukan dengan pasangannya, atau yang lain. Tapi yang jelas orang masih akan berdebat soal hari-hari. Mulai dari tahun baru yang boros, valentine yang haram, Kartini yang tidak berhak, puasa dan lebaran yang nggak bareng, hari ibu yang kongres perempuan, bahkan sampai boleh-tidaknya merayakan Maulid atau sekadar mengucapkan selamat Natal. Begitu terus sampai Agus Mulyadi rabi. Itu juga belum tentu berhenti walaupun nanti Mas Agus sudah punya pacar lalu kawin.

Jomblo bukannya tidak punya perayaan yang tidak boleh diberi ucapan selamat. Yang pertama dan utama tentu saja adalah Hari Valentine. Bukan karena ditakutkan bahwa perayaan Valentine cuma dijadikan ajang seks bebas, tapi kalau para jomblo mau mengucapkan selamat Valentine, mau diucapkan kepada siapa? Kalaupun menggunakan dalih toleransi atau cuma ngucapin dan akidah jomblonya tidak akan bergeser, ucapan itu juga tetap hambar. Mau ngucapin selamat Valentine ke pacar orang? Sudah siap ditapuk sandal sama pacarnya?

Yang kedua adalah mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, terutama kepada mantan. Meminta maaf tentu hal yang baik, tapi seperti tidak semua kebohongan itu buruk, maka tidak semua minta maaf itu juga baik. Orang-orang yang sudah punya pacar atau istri tahu satu kebenaran universal bahwa perempuan selalu benar, dan orang-orang yang punya mantan –seiring berlalunya waktu– akan merasa bahwa mantannya tidak bersalah. Inilah yang mendorong para jomblo untuk dengan rendah hati meminta maaf lahir dan batin kepada mantannya. Sebuah ucapan yang secara otomatis akan memporak-porandakan usaha para jomblo untuk move-on.

Ada yang buruk, tentu ada yang baik. Ucapan yang paling baik untuk diucapkan oleh para jomblo adalah selamat menempuh hidup baru. Lebih baik lagi kalau diucapkan kepada mantan, ini bisa mempercepat move-on-nya para jomblo. Tapi di balik ucapan selamat menempuh hidup baru itu –yang mana berarti para jomblo harus rajin menghadiri undangan pernikahan dan menahan pedih di hatinya– adalah dia bisa bekerja seperti keyakinan ibu-ibu yang belum dikaruniai momongan lalu rajin mendatangi tetangganya yang sedang hamil atau baru punya anak. “Biar ketularan,” katanya.

(Memangnya hamil itu menular? Lagipula, kalau dia memang menular, percayalah, dia tidak ditularkan dengan cara mengelus perut temannya.)

Sejatinya tidak ada yang bisa membantah kenyataan bahwa setiap orang terlahir dalam keadaan jomblo. Tugas para jomblo di dunia ini bukan mencari, menyadari, kemudian menjadi seperti kata Gieb. Lha dia sudah jomblo dari sananya, mau jadi seperti apa lagi? Tugas para jomblo tidak pernah untuk menjadi yang satu, menjadi yang maha jomblo. Tugas mulia para jomblo itu sebenarnya adalah menjadi yang dua, menjadi bukan milik siapa-siapa sekaligus milik semua orang. Lupakan stigma dari para pembuli yang berkata bahwa ‘kalau kamu terlahir jomblo maka itu bukan kesalahanmu tapi kalau kamu mati dalam keadaan jomblo maka itu salahmu sendiri’. Dengarkan saya: “Menjomblo tidak harus sampai mati, tapi ketika orang menjomblo, orang harus menjomblo dengan sungguh-sungguh.”

Caranya?

Lupakan mantan, lupakan pacar orang, perbanyak silaturahmi, berbaik hati pada yang susah, berbahagia pada kebahagiaan orang, intinya: perbaiki diri sendiri. Jangan pakai narkoba, jangan korupsi, jangan buang sampah sembarangan, pokoknya jangan lakukan hal-hal buruk. Jangan mati muda, masih ada harapan di tahun-tahun yang akan datang.

Selamat tahun baru, Mblo. Dan kalau tahun depan dirimu masih menjomblo, mumpung belum ada hukumnya, ijinkan saya mengucapkan: “May the force be with you!”

Tentang Penulis

Cepi Sabre

Cepi Sabre

Arsitek partikelir. Tinggal di Malang, bisa diajak janjian di Facebook.

  • Nury Ris

    Wkwkwkwk… *ngakakdipojokan