Berita dan Artikel

Belajar dari Kisah Lingkaran, Kalau Cinta Jangan Memaksa apalagi Terpaksa

Fajar Nurcahyo
Ditulis oleh Fajar Nurcahyo

Kala itu tinggal sebuah lingkaran. Ia hidup di sebuah lembah yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Di dekatnya ada danau kecil, dikelilingi ilalang yang menjulang tinggi. Meski begitu, danau itu kaya akan ikannya. Bahkan, tidak butuh waktu lama, barang dua-tiga menit saja, dapat dipastikan seekor ikan sudah terkait di mata kailmu.

Lingkaran adalah sosok yang sempurna. Memiliki titik pusat yang tetap. Sungguh tidak mungkin ada cacat.

Suatu waktu, ketika tengah menggelinding ke hutan untuk mencari kayu bakar, lingkaran tidak sengaja menabrak sebuah batu. Entah bagaimana, retak tipis muncul begitu saja di salah satu sisi lingkaran. Ia tak peduli, toh hanya retak tipis. Untuk apa dipersoalkan, pikirnya.

Hari terus berlalu. Sampai suatu waktu, retak itu kian congkak dan melebar. Kemudian terus berlanjut hingga memecah dan menyisakan ruang menganga di salah satu sisi lingkaran. Ia pun kini menjadi cemas, sebab ia bukan lagi lingkaran yang sempurna. Ia telah cacat. Lantas, lingkaran merenung. Ia mencari cara agar kekosongan di salah satu sisinya dapat terpenuhi kembali.

Setelah menghabiskan waktu cukup lama, akhirnya buah pikirnya pun muncul. Ia bertekad pergi berkelana ke kota, mencari seorang yang mampu menutupi kekurangannya dan kembali menjadi sosok yang sempurna.

Baru dalam perjalanannya ke kota, bahkan belum sampai ke kota persisnya, lingkaran sudah bertemu dengan persegi. Ia pun langsung mengutarakan keinginannya untuk meminang persegi. Persegi mengiyakan maksud lingkaran. Niat baik pasti ada jalannya, kalau cinta berarti harus berani menerima segala risiko yang bakal muncul, pikir persegi. Kemudian mereka pulang ke lembah tempat lingkaran tinggal, lalu hidup bersama.

Berminggu-minggu berlalu, lingkaran merasa tidak cocok dengan persegi. Sebab ternyata persegi itu terlalu besar dari sisi yang dibutuhkan lingkaran. Kemudian ia memutuskan untuk menceraikan persegi. Terhuyung-huyung persegi itu kembali ke asalnya sembari menangis. Persegi yang malang.

Merasa tidak puas, lingkaran kembali bertekad untuk berkelana ke kota mencari pengganti persegi. Ia butuh seorang yang benar-benar mengerti dirinya, tahu bagaimana menutupi lubang, hingga ia kembali jadi sosok yang sempurna.

Sesampai di kota, hari hampir larut malam. Lingkaran memutuskan untuk menginap di salah satu losmen kumuh sekitar. Tentulah orang miskin seperti dirinya harus pandai berhemat, jika tidak, habislah ia di perantauan.

Beberapa hari kemudian, lingkaran bertemu dengan segitiga di sebuah kedai sederhana dekat losmen kumuh miliknya. Empat malam mereka habiskan berbincang ria di kedai itu, ditemani makanan kecil mulai dari sate jamur, ubi rebus, jagung bakar, sampai kacang-kacangan. Semua itu dipesan lingkaran demi menjaga kelangsungan pembicaraan mereka.

Di malam kelima, lingkaran lantas mengutarakan niatnya untuk meminang segitiga. Segitiga pun merasa cocok, akhirnya mengiyakan maksud lingkaran. Tapi mereka tidak tinggal di losmen kumuh. Lingkaran mengajak segitiga pulang ke lembah dan menjalani hidup bersama. Hal yang pernah dilakukannya bersama persegi.

Tidak sampai tiga bulan, lingkaran memutuskan untuk menceraikan segitiga. Ia merasa segitiga begitu kecil dan tidak mampu menutupi segala kekurangannya. Segitiga pun pergi dari kehidupan lingkaran dengan membawa kenangan pahit. Setelah persegi, kini segitiga yang jadi korban keegoisan lingkaran.

Lagi-lagi ia memutuskan pergi ke kota untuk mencari pengganti. Belum juga seminggu, lingkaran telah bertemu dengan jajar genjang. Jajar genjang itu memiliki paras yang teramat cantik, bahkan jadi idola banyak pria di kota. Entah karena kebaikan yang selalu ia terima dari lingkaran, jajar genjang pun luluh dan menerima ajakan lingkaran untuk berkeluarga dan tentu saja kembali ke lembah sederhanya itu.

Hidup mereka sebetulnya terasa tentram dan nyaman. Seolah-olah si jajar genjang adalah belahan sisi yang telah lama ia rindukan untuk menutupi setiap celah di dalam diri lingkaran. Tiada hari tanpa bahagia. Lingkaran merasa kembali menjadi sosok yang sempurna. Tapi memang sial atau sudah suratan takdir, jajar genjang harus meregang maut karena demam dua hari dua malam, meninggalkan lingkaran seorang diri.

Hari ini adalah hari kesepuluh pascakematian kekasihnya. Lingkaran menjadi pendiam dan pemurung. Ladang di samping gubuknya tak lagi diurus. Banyak ilalang di sana-sini dan tumbuh kian tinggi. Ikan-ikan pun riuh melompat-lompat seolah menginginkan untuk ditangkap dan dimasak, tapi apa daya, kesedihan itu memaksanya untuk berpuasa.

Sampai persegi datang berkunjung ke gubuk lusuh itu, ia menemukan lingkaran dalam keadaan memprihatinkan. Tergesa-gesa persegi lari masuk-keluar hutan mencari umbi-umbian dan kayu bakar. Disuapinya lingkaran, dirawatnya dengan penuh kasih sayang. Entah apa yang dipikirkan oleh persegi. Meski telah dicampakkan oleh lingkaran, ia justru memilih kembali.

Hari-hari terus berlalu, kenangan datang dan pergi sesuka hati. Keadaan lingkaran berangsur pulih. Ia sudah mampu bercocok tanam lagi dan menebar jala di danau. Persegi pun sudah terbiasa masuk-keluar hutan barang mencari umbi-umbi, buah, dan jamur liar untuk dimakan bersama lingkaran.

Pada suatu malam yang dingin dan sepi, lingkaran akhirnya sadar, tidak ada salahnya mencoba, meski persegi itu dirasa tidak mungkin menutupi celah dan kekurangannya. Awalnya memang terasa tidak pas, ganjil di sana-sini, dan tentu tidaklah nyaman sebab dulu lingkaran dapat menggelinding seorang diri dengan leluasa. Kini harus ditembel oleh persegi yang malah lebih besar dari sisi kosong yang ia butuhkan, tentu ini membuat gerakan lingkaran menjadi tidak secantik dahulu. Tapi seiring berjalannya waktu, lingkaran dan persegi terus bergelinding bersama, malah semakin terasa pas dan cocok. Hidup mereka pun menjadi penuh dan berisi.

***

Barangkali cinta memang bukanlah sesuatu yang telah kita harap dan rencakan. Sebab kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi nanti. Seorang yang mungkin kaurasa dia adalah jodoh paling pas untuk dirimu bisa saja salah. Sebagai manusia kita hanya bisa mencari yang terbaik, kendati Tuhan selalu datang untuk mengoreksi. Kelak, bisa saja kita menjalani hidup bersama seorang yang justru tidak memiliki kesamaan apa pun dengan diri kita, tapi hidup itu malah terasa lebih baik saat bersamanya.

Kalau cinta jangan memaksa apalagi terpaksa. Bebaskan saja. Biarkan cinta hadir dan mengalir, bahkan pergi dengan sendirinya. Sebagaimana hidup, cinta adalah tentang arus dari dua aliran kecil perasaan. Sebuah arus yang di dalamnya memiliki pergerakan yang terus mengalir. Keberadaan air itu mengalir secara bersama-sama. Kadang mengalir perlahan, kadang tercabang dan terpisahkan, sampai dipertemukan bersama lagi dalam gerak dan tetap mengalir.

Dari kisah lingkaran ini kita tahu. Ketika lingkaran mencintai segitiga atau jajar genjang, kemudian ada sesuatu hal menyakitkan terjadi, hubungan itu menjadi retak dan rubuh berserakkan. Itu tidak berarti kita harus diam dan berhenti dalam menjalani hidup. Sebab waktu tidak pernah bersimpati pada apa yang kita alami, ia terus berjalan meski kau terpuruk dan menangisi yang telah pergi.

Anggap saja kenangan itu seperti sewaktu memakan jeruk. Ada kalanya manis, ada kalanya sepat, dan ada kalanya asam. Mungkin dari banyaknya jeruk yang ada di kresek, kita hanya sekali saja merasakan manis. Meski demikian, bukan berarti kita lalu berhenti memakan jeruk tersebut. Tentu sayang bukan, misal sudah beli sekilo?

Tentang Penulis

Fajar Nurcahyo

Fajar Nurcahyo

Seorang pria yang lahir dari rahim luka.

  • Stacia Kim

    FREEBET Rp 100.000,- BBM >> 7AC8D76B
    dibagikan setiap hari di s128poker.net