Curhat

Ketek Man, Pahlawan Baru si Mantan

Ananda Ahmad
Ditulis oleh Ananda Ahmad

Tengah malam di antara hujan dan stok rokok yang terus menipis. Hidup saya biasa saja, seperti umumnya kaum pekerja di Jakarta. Begitu juga nasib percintaan yang pernah saya alami.

Sekitar enam bulan lalu, saya berpacaran dengan seorang perempuan. Tidak lama memang, bahkan saya lupa kapan kami putus. Yang saya ingat, sekarang ia sudah punya pacar. Saya memanggil pacarnya dengan sebutan “Ketek Man”.

Mudah sekali untuk mengetahui bahwa ia sudah punya pacar baru. Sebabnya, yaitu jarak tempat kerja dan rumah kami terhitung cukup dekat. Selain itu, walau sudah putus, toh kami tetap berhubungan. Dalam hal ini, hubungan kami sebatas mantan, dan percakapan tak lagi seintens ketika saat PDKT atau pacaran. Sekarang ia sudah punya pahlawan baru. Ya, Si Ketek Man itu!

Sekali waktu saya dan Ketek Man main futsal bareng, kegiatan yang memeras kenangan keringat tentunya. Teman kerja saya yang mengajak pahlawan baru si mantan. Enggak usah ngebayangin pertandingan futsal kami berlangsung dramatis. Pertandingan itu sebetulnya biasa-biasa saja. Tapi kehadiran Ketek Man dan mantan saya sedikit membuat saya cemburu.

Kecemburuan itu tidak datang dari kendaraan atau tampang, tapi datang dari bau badan pacar mantan saya. Itulah awal saya memanggilnya ”Ketek Man”. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana wajah mantan saya ketika dibonceng Ketek Man di jok belakang motornya. Mual-mual imut lucu gitu, mungkin. Kalau sudah begini, nikmat menjadi jomblo mana lagi yang kaudustakan?

Sejak kejadian itu, saya mulai peduli dan prihatin dengan mantan saya. Apakah ia bahagia dengan pilihannya? Dengan sifat pemaksanya? Saya tahu betul perangai mantan saya itu. Ia terlalu memaksakan diri untuk mencari pasangan baru, seolah-olah tidak ada lagi pria yang bisa menjaga kebersihan badannya sendiri. Huh, kasihan. Sejak kejadian itu pula, kami jadi sering chatting, bertukar kabar, hingga saya mengambil inisiatif membelikan parfum untuk Ketek Man.

Parfum itu saya berikan ke mantan saya, sebagai bentuk penghormatan seorang mantan pacar. Tapi ia terlalu mendramatisir pertemuan kami. Ia menangis dan berkata bahwa saya orang yang paling peduli. Ah, kok jadi sendu. Mestinya ia tahan tangisan itu, saat saya ajak umroh bareng.

Begitu lah. Hidup penuh dengan teka-teki. Kadang kala rasa peduli membawamu ke arah kasih sayang ke sesama manusia, atau dalam tingkat extreme membawamu sampai urusan pribadi seorang presiden dengan ibu kandungnya. Jika kamu memilih berpisah dengan seseorang, bukan berarti kamu hilang akan rasa kepeduliaan. Kamu justru peduli dengan risiko jika kalian tetap bersama. Sikap kepedulian yang akan membimbingmu menjadi jiwa yang tegar.

Kisah saya di atas semoga tidak membuat kawan-kawan jomblo kecil hati. Putus tidak apa-apa, selama hal itu dapat membuatmu menjadi seorang yang lebih baik. Tetaplah peduli, sampai kamu menemukan seseorang yang juga benar-benar peduli. Minimal ya, kamu peduli dengan bau badanmu sendiri.

Tentang Penulis

Ananda Ahmad

Ananda Ahmad

Pria kepengin gondrong, segondrong ingatan tentang mantan.