Curhat

Pecundang yang Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Azhar Azziz Afifi
Ditulis oleh Azhar Azziz Afifi

Saya pernah jatuh cinta pada seorang wanita. Wajahnya cantik tanpa make-up, membuat siapa pun tak bisa menolaknya. Senyumnya manis, semanis rindu yang menggebu.

Pertama kali saya mengenalnya lewat tatapan mata, sekelebat mata yang saya tak bisa menolaknya. Siapa yang tak jatuh cinta padanya mungkin sudah buta. Melihat bagaimana menggemaskannya senyum dan tawanya. Rasa-rasanya Tuhan telah menjatuhkan surga di hadapan mata.

Dia tidak secantik artis-artis yang sering muncul di layar kaca. Sungguh, dia bukan tipe wanita cantik yang seperti itu.  Dia cantik dengan senyumnya yang menggemaskan. Dia cantik dengan tingkahnya yang selalu membuat saya merasa ingin melakukan hal itu bersamanya. Ah, sungguh bodoh jika kau tak jatuh cinta pada apa-apa yang ada di dirinya.

Dulu, dulu sekali, waktu saya pernah mencoba dekat dengannya, saya pernah menuliskan tentang wanita itu dalam sosok menggemaskan bernama Bening. Tidak, Bening bukan cerita. Bening hanya refleksi dirinya. Jika kau melihat Bening dalam pikiranmu, maka sungguh saya yakin dia adalah wanita itu, dalam anganmu tentu. Paras itu. Ah, saya menulis ini saja seperti terlempar dalam linimasa masa lalu, merajut lagi kisah-kisah manis itu.

Sungguh, andai Tuhan menurunkanku lagi ke muka bumi, saya harap Tuhan mempertemukan saya dengannya untuk sebuah perjalanan panjang bersamanya, atau jika saya tidak bisa melakukan perjalanan panjang dengannya, saya memilih untuk tak pernah bertemu dengannya.

Seperti kisah-kisah jatuh cinta pada pandangan pertama lainnya, kisah jatuh cinta saya pun harus berakhir di pojokan tempat sampah seperti yang lalu-lalu. Sudah bisa ditebak bukan? Saya adalah pecundang. Kalah sebelum benar-benar mengibarkan bendera perang untuk memenangkan hatinya. Perihal penyebabnya cukup pelik, ia bercerita menyoal seorang di masa lalunya secara terus-menerus. Ya sudah lah, tak apa. Setidaknya waktu itu saya pernah bisa menenangkan hatinya, menyediakan bahu saya kala dia butuh. Toh, jadi lelaki memang harus begitu. Siap jika kenyataan harus selalu berbanding terbalik dengan harapan.

Pagi ini saya menemukan lagi foto-fotonya saat kami melakukan perjalanan berdua untuk pertama dan terakhir. Sial, memori saya tiba-tiba terlempar lagi ke linimasa itu. Senyumnya, gelak tawanya, perjalanan itu, dan tentu saja kisahnya menyoal mantan kekasihnya.

Maka, pagi ini saya bertanya-tanya lagi dalam pikiran saya, sudah bahagiakah dia sekarang? Sepertinya sudah. Saya menyimpulkannya dari foto-foto yang ia unggah melalui akun BBM-nya. Ya, kami masih saling memiliki kontak satu sama lain, tapi ya begitulah. Namanya juga pecundang, hanya jadi pengisi daftar kontak tanpa berani mengontaknya. Dia sudah punya pacar kawan, saya pun juga punya. Dan saya juga tak ingin mengaduk kembali kenangan-kenangan itu.

Memang begitulah biasanya kisah jatuh cinta pada pandangan pertama, mendorong hati sampai ke dasar palung yang dalamnya tak berujung lagi. Tapi, sungguh saya pernah jatuh cinta pada pandangan pertama dan tidak bertepuk sebelah tangan. Saat itu saya sedang menggulirkan linimasa saya, dan menemukan sebuah kiriman bertautan jombloo.co. Saya tak sengaja meng-kliknya dan sungguh saya langsung jatuh cinta.

Terima kasih jombloo.co. Tetap militan dan kesepian ya, Mblo. Maaf, saya sudah punya pacar sekarang.

Tentang Penulis

Azhar Azziz Afifi

Azhar Azziz Afifi

Pecandu musik dan penikmat senja.