Berita dan Artikel

Untuk Apa Jombloo.co Kembali Hadir?

Hasan Bendrat
Ditulis oleh Hasan Bendrat

Baru kali itu saya bisa melihat Ali, teman saya, berani keluar rumah bahkan berteriak dan melompat kegirangan di bawah guyuran kenangan. Eh, hujan, maksud saya. Sebab, biar bagaimanapun, bagi saya Ali adalah figur legenda hidup jomblo tanah air yang hingga kini kerap kali berurai air mata dengan lagu aphorisma-aphorisma luka, keluh yang selalu melenguh, dan syair-syair nyinyir yang ia nisbatkan pada kekalahan-kekalahan abadi.

Dan ketika hujan mulai lelah menumpahkan kenangan, Ali berteduh ke teras rumah. Ia melihat ketakjuban saya. Seperti guru waskita, ia seolah dapat membaca pikiran saya. Maka sebelum saya berhasil menguasai kembali kesadaran saya, Ali menukas, “Aku gak sendiri, Mas. Ada Jombloo.co dan sekian pejuang jomblo tanah air di luar sana.”

“Ha? Iya, Li. Iya,” sahut saya sedikit gagap dan setengah sadar.

Kehadiran jombloo.co, bagi Ali, serupa napas buatan yang menyelamatkan dan menambah panjang hidupnya. Setidaknya dengan kehadiran jombloo.co, Ali seperti menemukan bangsa yang telah lama ia cari, sejawat seperjuangan dalam menjaga eksistensi jomblo tanah air.

Sebelumnya, jangankan keluar rumah, melihat mendung dari jendela kamar saja akan memaksa Ali untuk menutup tiap lubang atau celah yang ada di dinding kamarnya. Ia tak mau melihat mendung yang selalu menggulung titik-titik kenangan dalam kandungannya. Ali akan segera mematikan lampu, kemudian menarik selimut dan melesat ke nirwana.

Kehadiran Jombloo.co memberikan arti dan kekuatan pada perjuangan Ali selama ini. Ali tak lagi merasa jomblo seorang diri. Berangsur-angsur Ali bertumbuh menjadi sosok yang sangat gemilang. Ia berani membuka ruang komunikasi dan sosialisasi dengan dunia luar—diri dan kamar kosnya. Berangsur-angsur ia berani mengartikulasikan perjuangannya dalam lingkaran-lingkaran komunitas yang bertebaran di Malang Raya.

Di tengah kegemilangan pencapaiannya dalam medan perjuangan, Ali harus merasa kehilangan. Ditinggalkan sandaran dan harapan yang selama ini menjaganya tetap tegar dan teguh dalam medan perjuangan. Apa yang lebih menyakitkan dari dikhianati oleh harapan yang selama ini telah diyakini? Kabar keputusan Jombloo.co untuk gantung senjata dari medan perjuangan membuat Ali begitu terpukul.

Kegemilangan yang telah diraih lambat laun surut. Ali memandang gamang perjuangannya selama ini. Berangsur Ali mundur teratur. Artikulasinya menjadi begitu parau. Perlahan ia mulai lindap dari sosialisainya dengan lingkungan sekitar. Ali kembali merasa seorang diri dan menarik kembali selimutnya.

Celakanya, dalam kondisi yang begitu rapuh dan porak-poranda seperti itu, Ali harus menghadapi kenyataan akademisnya; semester akhir dengan tanggungan skripsi yang begitu berat. Selaknat peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah rapuh, Ali harus menghadapi skripsi dengan topik laknat yang dipilih oleh dosennya; evaluasi sistem drainase.

Bagaimana tak laknat? Melihat mendung saja ia begitu murung, sampai harus mengurung diri dalam kamar, apalagi harus berurusan dengan drainase.

Dalam literatur ilmu sipil, drainase berasal dari bahasa inggris drainage, artinya mengalirkan, menguras, membuang atau mengalihkan air. Secara umum drainase dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan teknis untuk mengurangi kelebihan air, baik yang berasal dari hujan, rembesan, maupun kelebihan air irigasi dari suatu kawasan atau lahan, sehingga fungsi kawasan atau lahan tidak terganggu.

Jelas, ketika Ali berurusan dengan drainase, maka mau tak mau ia harus berurusan pula dengan air dan hujan. Sebab untuk merancang drainase, mula-mula harus diketahui debit air dan intensitas hujan serta kondisi lahan. Apalagi untuk mengevaluasi drainase. Sungguh laknat yang kepalang ajar.

Ali, sosok rapuh, rentan terpuruk dan tersungkur itu kini harus membenamkan diri berminggu-minggu dalam kamar menghadapi laptop. Ia menghitung intensitas hujan yang menghujam Malang Raya selama 27 tahun. Ia menghitung begitu rinci; tiap tahun; bulan; minggu; hari; bahkan jam.

Ketika menemaninya hanyut dalam perhitungan yang memuakkan itu, saya melihat air mata Ali menggenang di pelupuk mata. Kemudian pertahanannya jebol dan semburatlah air matanya.

Dalam situasi seperti itu saya hanya bisa mencoba menghiburnya. “Li, bersyukurlah kamu masih bisa menghitung curah hujan. Dengan begitu kamu bisa mengitung indeks kebahagiaanmu. Bukankah kamu selalu berdoa hujan luruh tiap waktu?”

Meski tak ada senyum yang mengembang dari bibirnya, setidaknya Ali mau berusaha tegar dan menguasai diri. Sebagai teman, saya yang berada di dekatnya jelas merasa miris dan tak tega. Saya seolah kehilangan sosok yang benar-benar hidup. Hidup sebenar-benarnya.

Kemudian sebuah angin segar berembus. Jombloo.co kembali, tapi Ali belum mengetahuinya. Saya yang berada di dekat Ali hampir-hampir tak bisa menyentuhnya dengan perbincangan mengenai kehadiran jombloo.co. Bagaimanapun saya sadar, Ali pernah terluka olehnya. Dan bagi siapa pun yang pernah merasakan luka yang (hampir) sama, pasti akan berpikir berkali-kali untuk sekedar mengingatnya.

Maka sebelum embusan angin itu sampai menyentuh luka yang Ali derita, saya yang berada di dekatnya ingin mengajukan pertanyaan: untuk apa jombloo.co kembali hadir?

Jika hanya untuk berpisah di kemudian hari, lebih baik jombloo.co tak pernah ada. Saya ingin Ali bahagia dengan keterbatasannya. Saya tak ingin lagi mendengar lolongan di tengah malam yang melenguhkan syair nyiyir Chairil: Mampus kau dikoyak sepi..!

Tentang Penulis

Hasan Bendrat

Hasan Bendrat

Pejuang LDR.

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A .
    BBM : D.8.E.B.7.E.6.B