Curhat

Anjay, Semudah Ini Kita Putus!

Adolf Roben Lanapu
Ditulis oleh Adolf Roben Lanapu

Akhirnya yang kutakutkan datang juga, saat kamu sadar kamu ragu. Aku yang mau, kamu yang ragu, dan rasa sayangku padamu di tengah-tengahnya, megap-megap mempertahankan harapan.

“Kenapa Yin? Kita baik-baik saja kok selama ini,” kataku sambil menghela napas.

“Tapi Mas, kita gak bisa, kita gak cocok. Kamu terlalu baik buat aku. Tapi aku pengen kita tetap temenan.”

Terlalu baik nenek lu kiper?! Aku tahu kok, kamu deket lagi sama mantanmu. Kemarin kalian baru nonton bareng, dan memang dari awal kamu gak yakin sama perasaanmu sendiri untuk serius sama aku. Tapi ya nggak mungkin aku ngomong se-frontal ini sama kamu kan?

“Oh, jadi kita putus mulai sekarang?” tanyaku memastikan.

“Iya Mas…”

“Yin, aku pengen ngomong terakhir kalinya sebagai pacar kamu, dengerin baik-baik ya…”

“Apa Mas?”

“Mati aja Yin…”

Anjay, semudah ini kita putus. Tanpa prosedur, acara seremonial, atau minimal drama-dramaan yang agak romantis gimana gitu. Tapi memang sudah kuprediksi dari awal, kamu memang gak niat serius. Mosok ada orang serius yang-yangan tapi masih sering whatsapp-an sama mantannya? Itu kan kontradiktif dari pernyataan kalau kamu udah gak peduli lagi sama pemuda masa lalumu itu.

Aku padahal sadar semua itu—kamu dekat lagi dengan mantanmu—tapi tak berdaya. Rasa sayang yang sudah tertimbun lama, melampaui timbunan beras di gudang tengkulak saat musim panen, sudah tak bisa lagi ditahan dan diwujudkan. Ibarat kebelet buang air, itu sudah di ujung. Menghadapi perasaan sebesar ini, kesempatan sekecil apa pun untuk memilikimu tak bisa kulewatkan.

Tapi IQ-ku cukup tinggi untuk menjagaku tetap waspada. Meskipun sudah kuraih itu, kesempatanku membuatmu benar-benar mencintaiku cuma kecil adanya. Ibarat berharap Liverpool bisa juara Champion lagi, Rhoma Irama beralih genre ke Jazz, atau Didi Kempot tiba-tiba menyanyikan lagu hard rock di konsernya.

Tipis. Harapan itu.

Sudah diprediksi, tapi kok masih saja pedih. Minuman beralkohol tak mempan, obat merah tak berguna. Kata-kata motivasi? Buat apa? Juragannya sudah mundur dari dunia permotivasian kok, kena kibas masalah keluarga di masa lalu.

“Aku pulang ya, Mas, bayarin minumnya ya?”

“Sip. Pulanglah dengan damai. Tinggalkan aku dewean di sini. Sudah mantan lho masih tak bayari.”

“Mas…”

“Haha… Aku bercanda kok! Pulang Yin, hati-hati di jalan…”

Lalu dia pulang. Dayinta, pacarku selama sebulan. Akhirnya kisah yang lama disiapkan, berakhir secepat itu. Sudah sebulan berlalu. Yah, setidaknya dicoba, setidaknya…sudah dicoba…

Kulihat dia semakin menjauh, sampai menghilang saat melewati pintu kafe itu. Dari jendela kulihat, di luar sana hujan sudah berhenti. Tapi jalanan masih sepi. Sepi…

Hujan berhenti di sisa sore
Angin yang terdiam di mataku
Jadi rindu yang pelan
Memenuhi jalanan

Apa kabar sisa awan yang tak dimakan hujan?
Menggantung sendiri di tepi langit?
Kuat dia bertahan meski sebentar lagi lenyap dihembus angin
Menjadi tiada, bukan siapa-siapa

Di tepi jalan
Seorang pria menggenggam payung
Bertanya-tanya
Mengamati awan berbentuk hati
Ditiadakan angin
Dimakan ingin

Tentang Penulis

Adolf Roben Lanapu

Adolf Roben Lanapu

Sering disapa Adolf. Tapi beda dengan Adolf Hitler. Jejaka bertubuh makmur yang sering melamun sendiri ini baik hati dan cukup imut.

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A
    : D.8.E.B.7.E.6.B
    $$